Jalan-jalan Maros – Soreang – Bringkassi

Postingan event Bantimurung itu sebenarnya terjadi setahun yang lalu. Saat kemarin bertugas masih tetap kembali ke tempat yang sama, ke Maros lagi. Seperti biasa setelah selesai tugas, kami boleh memanjakan diri untuk look around.  Kali ini karena membawa senior yang asli Makasar – mba Ida-,  kami diajak mengunjungi rumah sahabatnya semasa kuliah yang saya panggil kak Hasma.

Dari Maros ke Soreang (kab Pangkep ) ditempuh sekitar 15-20km. Tadinya saya kira Soreang hanya ada di Bandung coret, tetapi  ada juga di Pangkep. Pangkep itu ternyata singkatan dari Pangkajene Kepulauan *halaah.. baru tahu juga*. Terkenal dengan empang ikan bolu (bandeng) yang bertebaran di sepanjang jalan dan  juga aneka seafood lainnya.

Orang Pangkep juga dikenal sebagai pioneer masakan sop saudara dan sop kikil. Sop saudara itu kayak apa ya.. yang jelas isinya ada bihun, perkedel kentang, daging atau jeroan yang diberi kuah bumbu sop tanpa santan. Agak sedikit kental. Untuk menikmatinya, lebih asyik bila ditambah perasan jeruk nipis. Ngobrol ngalor ngidul ternyata menurut mereka, jika ingin mencicipi sop saudara yang enak sebaiknya dicari di Makasar saja bukan di Pangkep. Yang jual pastinya orang Pangkep. Karena jika di Pangkep, sop saudara itu makanan sehari-hari. Kenapa disebut sop saudara, itu karena yang punya resep hanya saudara (kerabat).. *hehe, ga tau nih..ceritanya gitu aja* Kalo mau liat review dan gambar  bisa dilihat di sini.

Di rumah kak Hasma yang jadi guru SD di Tonasa, kami dijamu berbagai menu high quality protein. Ada coto, sop kikil, udang bumbu,  ikan bakar (yang lupa dikeluarin dari kulkas saking hebohnya), kue putu cangkir, dan es jelly. Ga ada menu sayurannya kan? Hehe.. kebanyakan orang Sulsel memang penikmat daging maupun ikan.  Saya sempat terheran-heran melihat porsi makan sang driver yang I can’t believe it buanyak banget. Atau suatu ketika saya juga takjub ketika ‘dipaksa’ harus menghabiskan seekor ikan bakar untuk seorang. How come mereka bisa begitu lahap? Secara cara makan saya emang cemen abis.

sop kikil

udang bumbu

kue putu cangkir & barongko

Terus kebayang ga sih, dengan maraknya berbagai warung coto, konro, sop, kikil, dan lain-lain..yang notabene isinya daging semua, ada berapa banyak sapi yang disembelih setiap harinya?? *hihihi… pertanyaan iseng*

Nah, setelah selesai menuntaskan maksi gratis yang bikin perut nambah gendut (asli.. yang ngegendutin cuma perutnya doang, hiks), kami  sepakat untuk melihat daerah sekitar. Berhubung menurut mereka tidak ada spot menarik yang bisa dilihat dan semua serba biasa-biasa aja seperti kampung lainnya, saya ngikut aja sewaktu mereka mengajak kami pergi ke Bringkassi. Mereka ingin bernostalgia semasa kecil di kawasan semen Tonasa. Di tengah perjalanan kami sempat menikmati pemandangan taman musafir, dimana kita bisa melepas lelah sejenak.

Taman Musafir, Pangkep

Tapi on the way menuju Bringkassi saya tertidur akibat menenggak obat penghilang rasa nyeri. Jadi tak ada yang bisa diceritakan.  Matahari terik membuat kepala terasa berdenyut-denyut, dan saya ingin istirahat sejenak. Tahu-tahu mobil kami sudah berada di kawasan industri semen Tonasa dengan dikawal petugas keamanan. Rupanya dengan sedikit kongkalingkong antara para alumni anak karyawan pabrik semen ini, kami bisa minta ijin untuk melihat pelabuhan Bringkassi. Tak ada yang menarik, karena sudah masuk kawasan industri dan juga tidak diijinkan untuk mengambil gambar dengan alasan keamanan. Tapi hal itu sudah cukuplah bagi para ibu-bu yang reuni tadi untuk bernostalgia tentang masa kecil mereka.

Tapi menurut saya, ada pemandangan indah yang bisa dilihat dari Bringkassi. Pegunungan karst yang cantik membuat kita serasa ada di Halong *halaah.. gaya, serasa pernah ke Halong aja!*. Eh, itu kata teman saya yang pernah kesana lho, dan juga setelah lihat-ilhat di internet hampir mirip juga. Cuma kalo di Sulsel terlalu panas dan kurang berkabut aja. Demikian pula pemandangan yang terlihat dari jalan Maros, tapi di Maros berbatasan dengan sawah. Cantik deh.

View pegunungan karst dari pelabuhan Bringkassi

View pegunungan karst dilihat dari jalan Maros

Iklan

21 thoughts on “Jalan-jalan Maros – Soreang – Bringkassi

  1. Tadinya aku dah Ge eR…WOT? SOREANG? kirain Soreang kota kecilku…hakhayyy
    baru tau nih ternyata ada juga nama soreang di daerah lain
    Mulai sekarang aku bakal nulis kotaku dengan jelas…Soreang Bandung!

  2. waahh.. pengen coba jalan2 rute itu.. ke sulsel pernahnya pas transit aja dari gorontalo atau kendari atau ambon tuh.. alias nongkrong di sultan hasanudin aja. hheehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s