Catatan Haji (2) : Madinah

Perjalanan menuju Madinah dimulai. Di pesawat, kami tak henti-henti disuguhi makanan dan minuman.  Seperti biasa, ada juga pengalaman pertama jamaah naik pesawat dan menggunakan toilet. Meskipun sudah diajari oleh tim maskapai, tetap saja ada yang kebingungan dan membuat pramugari geleng-geleng kepala. Tiba di bandara malam hari waktu Saudi, kesabaran mulai diuji melalui proses imigrasi dan transportasi yang memakan waktu lama. Akhirnya kami tiba di hotel tak lama sebelum adzan pertama waktu Subuh. Teman-teman jamaah langsung bergegas menuju masjid Nabawi. Saya bebenah  dan membersihkan diri di hotel, cuti.

Melakukan perjalanan haji di usia subur biasanya dikhawatirkan oleh periode haid, meski beberapa hal bisa dilakukan walaupun sedang dalam kondisi tidak suci, tetapi ada juga yang bisa menggugurkan proses ibadah. Di samping kita juga merasa sayang sekali jika tidak memaksimalkan ibadah di Tanah Suci. Pengaturan masa-masa haid dikembalikan pada individu masing-masing, sesuai kepercayaan, pengetahuan, dan ketetapan hati. Di Madinah saya memilih proses alami dengan konsekwensi tidak bisa ikut arba’in, tetapi ketika menjelang Armina, saya memutuskan untuk meminum obat penunda haid, Primolut selama 10 hari.

Menjadi penunggu kamar di hotel selama 2 hari, membuat saya menyibukkan diri untuk membaca buku. Tidak keluar hotel sama sekali. Saya menekan hasrat diri untuk bereksplorasi karena takut ketulah. Madinah yang pernah saya kunjungi 8 tahun lalu tak berbeda banyak tapi tetap saja berubah. Saat pertama kali keluar dan ikut dengan kawan-kawan sekamar, ternyata arah masuk kami berada di gate 25.

Di Madinah, kamar kami berisi 7 orang. Paling muda usia 39, berhaji untuk orang tua. Ada 2 orang angkatan 40-tahunan, termasuk saya, sisanya di atas itu, paling sepuh 63 tahun. Alhamdulillah, kami kompak dan cocok semua. Paling banter saya yang hobi teriak-teriak soal kebersihan kamar mandi, karena selalu ada saja yang suka BAK di lantai, lupa menyiram kloset, dan lain-lain. Kami berharap nantinya bisa tetap bersama di Mekkah.

Ketika mulai bisa beribadah di Nabawi, kami tak henti-henti berada ke masjid karena excited. Biasanya kami bolak-balik ke mesjid setiap waktu sholat atau kadang memang sengaja tinggal di mesjid. Suasana saat itu masih cukup sepi jamaah. Bahagia rasanya bisa berada di tempat seteduh Nabawi,  beribadah, mendengarkan imam melantunkan ayat suci dengan merdu, berziarah ke makam Nabi dan sahabat.  Nabawi menjadi suatu tempat yang membuat rindu. Di sana pula kita bisa membaca Qur’an tanpa merasa lelah dan tetap semangat.

Di postingan lalu sempat  diutarakan jika pada saat pergi ke Tanah Suci, saya masih merasa kebingungan. Madinah adalah tempat saya merasakan titik balik bagaimana mengenai ritual haji sesuai sunnah Rasul. Ketika ada undangan pertemuan yang diselenggarakan oleh para mahasiswa Indonesia di Saudi, saya ikut serta menghadiri. Adalah organisasi Markaz Inayah yang didonaturi oleh hartawan Saudi yang menjembatani  mahasiswa Indonesia untuk berbagi ilmu kepada jamaah Indonesia tentang manasik haji. Kami dibagikan buku-buku manasik dan pengetahuan lainnya. Pengajian-pengajian sejenis ini bermanfaat untuk memantapkan pengetahuan dan hati kita, karena telalu banyak pendapat kata si ini dan si itu yang berbeda mengenai suatu masalah yang akhirnya membuat orang awam bingung. Terutama untuk sekelas saya yang berilmu pas-pasan.

Beberapa hari di  Madinah, kami satu rombongan diminta mengumpulkan uang 500SR untuk pembelian dam dan wisata rohani. Sebetulnya progam rihlah ini sudah menjadi agenda Depag bagi jamaah mandiri, tetapi dengan alasan jadwal berbeda lalu terlanjur sudah mencarter bis, menghubungi muthowiff untuk di Madinah dan Makkah dan lain-lain, 150 SR digunakan untuk keperluan tersebut. Awalnya saya tidak ingin ikut membayar dam lewat cara ini, mencari kambing sendiri ke pasar Kakiyah dan membayar 350 SR untuk pemotongan dam. Saya ingin membayar dam langsung ke bank Ar Rajhi dengan biaya 460SR. Tetapi ternyata suami sudah terlanjur membayarkan semuanya. Kebetulan saat itu ia juga belum mendapatkan ilmu pembayaran dam dari hasil pengajian, dan tidak percaya pendapat saya. Baiklah. Sebetulnya dalam jamaah mandiri ini sifatnya tidak ada keharusan, jika ingin langsung ke bank silakan, jika ingin ikut dikoordinir silakan. Mungkin sedikit berbeda dengan KBIH yang segala sesuatunya dikoordinasikan. Di tempat kami, ada beberapa orang yang memilih tidak ikut keputusan rombongan dan itu tidak jadi masalah. Pada saat inilah, ilmu manasik diperlukan.

Acara jalan-jalan kami di Madinah sama dengan program rombongan jamaah lainnya, mengunjungi  mesjid Quba, melewati mesjid Qiblatain, pasar kurma, Jabal Uhud, dan Jabal Magnet. Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah ketika mendekati pagar komplek pemakaman para syuhada di Uhud tercium wangi yang amat sangat dan menggetarkan perasaan. Suatu hal yang sama dirasakan ketika kita pergi ke Raudhah. Mungkin bagi para jamaah lelaki akan mudah berziarah ke Raudhah di mesjid Nabawi dan merasakan pengalaman yang sama atau bahkan lebih karena mereka bisa berhadapan langsung dengan makam Rasul dan sahabat, tapi untuk para jamaah wanita agak sulit bisa berdekatan.

Di dalam mesjid, ketika orang-orang mulai ramai berdatangan banyak sekali pengalaman-pengalaman yang terjadi di sekitar kita. Untuk saya pribadi, mungkin tidak ada yang terlalu signifikan. Sebagai pengamat saja. Paling sering melihat jamaah Indonesia yang tidak taat aturan sehingga membuat askar wanita berteriak-teriak frustasi. Sebenarnya jamaah yang tidak mau diatur bukan dari Indonesia saja, dari mana-mana. Tetapi karena mayoritas, jadi otomatis sang askar berteriak-teriak dalam bahasa Indonesia. Hal ini biasa terjadi pada saat menjelang waktu sholat atau ketika memasuki Raudhah.  Saat mengantri ke Raudhah, jamaah Indonesia yang super banyak ini benar-benar membuat geleng-geleng kepala. Banyak sekali yang tidak sabaran, menyerobot sana-sini atau tidak patuh perintah untuk antri, sampai-sampai saat kami antri askar wanita itu menyebut jamaah Malaysia Thailand dengan jempol ke atas, sementara Indonesia jempol ke bawah. Tetapi pada saat itu mungkin memang benar-benar kelewatan. Menurut saya sih sepertinya jamaah-jamaah itu ingin tetap satu rombongan, tidak mau berpisah atau takut tersesat.

Tidak semua jamaah Indonesia berkelakuan semaunya, yang rapi juga banyak. Jika kita mengamati jamaah dari negara lain juga, banyak sekali hal-hal yang bisa dilihat. Mungkin setipe. Semua tidak ingin berpisah dari kelompoknya di tempat asing. Jamaah Asia Timur dari China misalnya, selain penampilan yang khas mereka juga sangat solid dengan kelompoknya, rela melakukan apa saja -dalam arti positif negatif- untuk tetap bersama. Yang membuat kaget waktu itu mereka ikutan berjamaah satu jejeran tetapi shalat sendiri-sendiri.  Jamaah Asia Barat biasanya berbadan besar, jadi butuh ruang yang lebih lega. Jamaah Asia Selatan juga idem, ditambah lagi biasanya mereka berbeda dalam menempatkan posisi kaki di duduk tasyahud akhir. Posisi kita di kaki kanan, mereka di kaki kiri.  Dari jamaah setempat, mungkin yang paling menarik adalah melihat anak-anak  yang kadang suka berlarian kesana kemari. Biasanya mereka tidak mau difoto kecuali candid. Jamaah Afrika datang dengan baju berwarna-warni, saya tidak terlalu memperhatikan mereka.

Bicara tentang Madinah juga tak lepas dengan berbelanja. Segala jenis kurma menjadi favorit, terutama Ajwa. Karena kami gelombang I, harga-harga barang relatif masih lebih mahal. Namun hal itu tidak menggentarkan hati untuk tetap memborong belanjaan, hihi.. Nakal ya, ibu-ibu ini. Jamaah Indonesia memang terkenal hobi belanja, dan otomatis para pedagang Arab itu menjadi mahir bicara bahasa Indonesia. Walhasil ada jamaah kami yang sudah menggenapkan kopernya menjadi 32 kg dan digembok rapi siap pulang. Bagaimana tidak, setiap pulang dari mesjid pasti di sepanjang jalan berjejeran toko-toko maupun pedagang asongan yang menjual barang. Koper saya juga berat. Kalap memborong kurma, kismis, permen, coklat, sajadah, plus abaya  dengan impian di Mekkah tidak ingin main-main ke pasar lagi. Dengan dalih membantu packing ibu-ibu teman sekamar (4 dari 7 orang teman sekamar saya atur kopernya) saya menitipkan sebagian barang belanjaan karena koper saya masih penuh ransum bawaan dari tanah air, hehe.

Saya ikut belanja karena sibuk memikirkan bawaan apa saja yang harus saya berikan kepada keluarga dan sahabat yang membantu secara materi saat kepergian kami. Meskipun sebenarnya tidak perlu, tetap saja ada perasaan untuk mengembalikan sesuatu kepada para sponsor. Sebelum pergi, adik-adik ipar, tante saya, 3 teman sekantor memberikan uang saku dalam total jumlah cukup besar. Belum lagi dukungan teman-teman dan tetangga, mereka memberikan barang-barang yang memang saya butuhkan di sana; jilbab, bergo, handuk, pakaian muslim, mukena, sajadah, makanan, minuman, obat dan lain-lain. Saya sampai terharu dan baru mengetahui kalau calon haji biasa diberi bekal untuk keperluan perjalanan,  sebelumnya tidak tahu.

Beberapa hari menjelang kepindahan ke Mekkah, saya memutuskan diri untuk eksplorasi berkeliling komplek mesjid dan berjalan di area luar mesjid. Karena saya jauh lebih muda dari teman-teman sekamar dan dipandang biasa bepergian, biasanya mereka meminta saya untuk membantu menukar uang atau menemani belanja. Akhirnya saya jadi tahu tempat penukaran uang yang nilainya bagus dan sedikit menyesal karena terlalu bernafsu mencari SR di Indonesia. Jika sedang beruntung, bisa mendapatkan sedekah dari penduduk setempat. Saya juga menyempati diri untuk masuk ke musium Al Qur’an lewat gate 14 lalu berputar ke arah pasar tidak jauh dari sana. Melihat-lihat barang yang umumnya sama tapi dengan harga lebih murah. Sesekali menjadi translater jamaah Thailand untuk belanja di pasar, dari Thai ke Indonesia meskipun banyak yang lupa. Atau sekedar menikmati pemandangan karena sudah kadung berjanji tidak ingin tergoda Bin Dawood lagi.