Sehari di Pakchong

Seharian kemarin saya diajak teman Thai beserta orangtuanya pergi ke daerah Pakchong, propinsi Nakhon Ratchasima, sekitar 2-3 jam dari Bangkok. Merayakan Songkran. Hahaha.. kemana ceritanya itu posting ketar-ketir gara-gara kerjaan? Jalan-jalan mah lanjuuut! Sebelum tiba di rumah keluarga besar di Pakchong, kami diajak pergi ke resort di daerah Khao Yai yang memang hadir dalam berbagai gaya di daerah ini. Rata-rata bangunan itu bergaya Eropa dan dipakai untuk tempat berfoto-foto. Sebelum ke Eropa beneran (aamiiin), saya menyempatkan diri berkeliling di sini. Menikmati keindahan alam, kesejukan aroma pegunungan. Meski saat itu cuaca cerah dan matahari sedang giat bersinar.

Tujuan pertama kami adalah resort The Bloom. Dari namanya terkesan cantik dan banyak bunga bermekaran. Tak cuma resort, pengunjung non resort bisa masuk menikmati keindahan di dalamnya dengan membayar 100 baht. Dari google sih terliat sangat luar biasa. penampakan yang cantik. Photo credit to Thaiticketmajor.

bloomNah sesampainya di sana, saya juga mengabadikan pemandangan The Bloom di bawah terik mentari jam 1o pagi. Yaa, beda-beda tipislah, maklum asal foto dari kamera murahan dan tanpa photoshop.

the bloomKurang puas di resort ini, kami pindah menuju resort berikutnya sekitar 4 km dari tempat pertama dan terletak di pinggir jalan arah menuju Khao Yai National Park. Namanya Primo Piazza, sungguh Italia memang. Sepertinya tempat ini lebih menarik. Tiket masuk pengunjung juga 100 baht. Hari itu tidak terlalu ramai jadi masih bisa leluasa jeprat sana-sini.

piazza

piazza2

Dan yang paling seru, baru kali ini saya bertemu alpaca si imut yang kabarnya diimpor dari Australia. Lucu dan tidak menggigit :)

??????????

Kami bersegera keluar dari Primo Piazza, karena sudah menjelang waktu makan siang dan langit tiba-tiba berubah menjadi mendung. Drastis sekali perubahan iklim ini. Tiba di restoran terlihat mahal, kami sempat deg-degan karena hanya membawa uang pas-pasan. Tapi di sini makan siangnya sangat-sangat enak. Entah karena lapar atau kenapa, saya yang tak suka tom yang kung mendadak jadi ingin menambah menggado kuah nan segar itu. Ditambah penampakan snakehead fish bakar super jumbo (ini ikan apa ya? gabus bukan?) yang segar dicocol sambal beserta lalapannya. Ada pula bakwan sayuran plus Thai herb salad. Aroiii mak mak..

??????????Selagi asyik menyantap hindangan, tiba-tiba hujan turun deras disertai angin kencang. Suasana jadi mencekam. Tak lama terdengar bunyi pletak pletok di atap lalu berjatuhanlah batu es dengan ukuran seragam dari langit. Saya sampai terpesona. Baru kali ini melihat fenomena alam tepat di depan mata. Untungnya hal itu tak berlangsung lama, mungkin hanya sekitar 10 menit.

es

Dari Khao Yai kami turun ke arah kota Pakchong, dan sampailah di area kota dimana seluruh masyarakat khususnya muda mudi asyik merayakan Songkran, saling menyiram air. Saya juga ikutan berkonvoi keliling walking street, saya disuruh ikut serta daripada bengong tidak bisa komunikasi di rumah. Hanya saja di dalam mobil. Teteup, saya tidak mau berbasah ria… Rasanya tidak sesuai dengan hati nurani kalau orang setua saya ikutan perang air dan colak-colek bedak di muka.

??????????

Songkran di Pakchong berbeda dengan Bangkok. Di sini semuanya berkonvoi di atas pick up. Meski tak pernah langsung turut serta, tapi cukuplah sebagai pengalaman pertama dan terakhir sebelum pulang. Sehari ini sungguh berwarna-warni. Apalagi ketika pulang, kami dibekali banyak makanan oleh orangtua teman saya. Beberapa kardus kue chiffon, pomelo, kerupuk, jagung rebus. Belum lagi gratis makan siang dan duduk manis pulang pergi di mobil. Benar-benar jadi tidak enak hati…. Alhamdulillah dan terima kasih banyak buat khun Po dan khun Mae.