Catatan Haji (6): Armina (1)

Kalau kemarin saya bicara mengenai  ‘keluar’ dari pemerintah artinya kami tidak semerta-merta membelot dari program pemerintah. Kami akan melaksanakan haji  dengan cara memisahkan diri dari rombongan jamaah dan memilih melaksanakan haji secara sendiri yang dikenal dengan istilah tanazul. Istilah ini cukup populer di kalangan jamaah haji yang betul-betul memahami syariat manasik haji dan ingin melaksanakan haji sesuai dengan tata cara manasik haji Rasulullah SAW. Namun demikian, kami akan tetap berada di tempat yang sama pada saat yang bersamaan dengan jamaah lain. Sesuai kloter, sesuai kelompok.

Pada tahun ini, jamaah yang akan melakukan tanazul dikoordinir oleh mu’asasah setempat, kami dilarang pergi sendiri. Diperlukan tambahan 200 SAR untuk bis dan makanan karena kami juga ikut nafar Tsani, sehingga untuk urusan transportasi dari hotel ke tenda Mina tidak perlu jalan kaki dan kami tetap bertahan sampai hari ke 3. Mungkin seharusnya tidak perlu ada tambahan, karena ada hak jamaah untuk mengikuti prosesi secara sempurna. Tapi pasti ada kebijakan lain yang tidak diketahui dan kami memilih menurut saja. Uang sebanyak itu mungkin tak ada artinya dengan kepuasan batin. Perkara lokasi tenda, seperti umumnya tenda jamaah Indonesia yang berada di Mina Jadid merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Kami dilarang mencari lokasi tenda sendiri. Sepertinya aspek keselamatan yang dijadikan alasan utama.

Jika jamaah Indonesia kebanyakan langsung bermalam di Arafah sejak tanggal 8, maka kami bermalam di Mina lebih dulu. Tanggal 7 kami sudah dikirim ke tenda tempat kami komplek tenda 20, tempat nanti bermukim saat hari tasyrik. Saya mulai didera batuk tak henti-henti. Tanggal 8 pagi kami mulai berihram. Di sana kami mendirikan shalat zhuhur, ashar, maghrib dan isya serta shalat subuh keesokan harinya. Setiap shalat dikerjakan pada waktunya, namun shalat yang jumlah rakaatnya empat diqashar sehingga menjadi dua rakaat. Soal shalat juga nanti jadi berbeda dengan jamaah yang lain saat melakukan nafar Awal/Tsani di Mina.

Di Mina saat itu, hanya tenda jamaah Indonesia yang kosong melompong pada hari Tarwiyah. Kami berkeliling melihat suasana sekitar.  Tadinya suasana tenda lengang.  Namun pada tanggal 8 pagi, orang-orang dari berbagai tempat yang akan berhaji mulai memasuki tenda-tenda Indonesia di Mina.  Mereka menggunakan segala fasilitas yang tadinya diperuntukkan untuk jamaah Indonesia. Sebenarnya kami cukup terganggu dengan keberadaan orang-orang yang lalu lalang masuk tanpa permisi ke tenda kami. Saya pribadi bingung juga, di sisi lain fasilitas ini milik jamaah Indonesia tapi kosong tak digunakan. Di sisi lain juga kasihan melihat jamaah backpacker yang bergelatakan di luar tenda. Mau protes juga ternyata pimpinan tenda tak berdaya. Bolak-balik diusir tetapi tetap datang bergantian juga.  Akhirnya sudahlah… asal jangan semena-mena masuk ke tenda kami karena banyak tenda lain yang kosong. Tetapi ada juga yang tiba-tiba berisik mengobrol saat kami tidur, atau tiba-tiba ada anak kecil menyelonong masuk, bahkan yang lebih parah lagi ada seseorang yang langsung masuk dan menyelinap tidur di antara jamaah bapak-bapak di tempat kami.

Salah satu teman saya, Anne bercerita bahwa ustadz yang membimbingnya di KBIH mendengar saat polisi-polisi Saudi yang mengobrol mempertanyakan kenapa tenda Indonesia selalu kosong setiap tahunnya.  Saat itu Anne ikut dalam jamaah dengan tenda VIP karena sudah membayar ekstra untuk di Armina, lalu bergabung dengan jamaah mandiri lagi setelah pulang dari Mekkah.

Kami tetap berada di Mina sampai matahari terbit pada tanggal 9 Dzulhijjah dan baru berangkat ke Arafah tanggal 9 pagi hari dan bergabung bersama teman-teman jamaah mandiri. Kami melaksanakan wukuf di Arafah setelah waktu dzuhur sampai matahari terbenam. Panas Arafah yang terik memaksa saya menyimpan es batu dalam handuk di atas kepala. Di bawah terik matahari 47oC, kami memohonkan segalanya kepada sang Pencipta. Di waktu-waktu itulah saat Allah sangat dekat dengan hambaNya.  Kondisi saya sudah tambah menurun sejak menginap di Mina. Karena batuk tak henti-henti, akibatnya saya kehilangan suara saat berada di tenda Arafah. Mungkin ini juga dibayar kontan karena saya sempat kelepasan bicara, meledek seorang ibu jamaah mandiri yang kehilangan suaranya saat di Madinah. Begitu bertemu, saya langsung minta maaf. Hikmahnya, saya jadi terus-terusan diam dan tidak banyak berpotensi bicara yang tidak penting. Pada saat seperti ini, di waktu mustajab, kita memang dianjurkan untuk berdoa, mengingat Allah.

Di tenda KBIH-KBIH biasanya jamaah dipandu pembimbing, namun di tempat kami pembimbing berada di posisi agak jauh, sehingga kami menghabiskan waktu di luar tenda dengan membaca doa-doa dari buku-buku yang dibawa.  Matahari yang sangat terik membuat saya pindah ke tenda dan sempat merebahkan diri karena sakit kepala akibat kebanyakan menangis ditambah pilek. Posisi rasanya sambil tetap memegang buku, namun mungkin sempat terlelap sebentar karena saya tidak ingat apa-apa. Agak menyesal juga mengapa tidak optimal berdoa. Di saat menjelang terbenam, banyak jamaah yang berkumpul di luar tenda menghadap Kiblat sambil memohon doa tak henti-henti diiringi tangisan. Tanpa terasa airmata terus menerus menetes. Di situlah, saya merasa sangat-sangat kecil.  Bolak-baik saya berkata pada diri sendiri, Allah dekat.. Allah sedang membanggakan umatnya yang berkumpul di Arafah.. ayo, mau minta apa lagi?

Saat langit mulai gelap, saya merasa melankolis.. rasanya seperti ditinggalkan, sediiiih sekali. Saya hanya ingin ibadah ini diterima.

Kami semua berangkat ke Muzdalifah menjelang malam ke 10 Dzulhijjah. Jamaah kemudian diangkut secara berurutan memakai bis-bis yang mengantar bergantian. Saat itu muncul teriakan-teriakan jamaah untuk melaksanakan maghrib di Arafah dan akhirnya mereka sholat berjamaah, mungkin Isya juga di Arafah. Saya tidak ingat.  Karena berbeda keyakinan, kami keluar tenda dan memisahkan diri. Kami akan melakukan shalat Maghrib dijama’ dengan Isya yang diqashar di Muzdalifah segera setelah sampai, sebelum disibukkan dengan barang bawaan dan mencari batu. Saat itu kami memilih mengisi tenaga dengan makan malam yang dibagikan di Arafah, disamping juga mendapatkan hadiah bekal untuk menginap di Musdalifah

Wajib hukumnya bermalam di Muzdalifah pada malam ke 10 dan mengerjakan shalat subuh pada waktu fajar. Tidak boleh meninggalkan Muzdalifah kecuali bagi orang yang lemah seperti wanita, anak-anak dan orang-orang yang bersama mereka, atau para petugas haji, maka dibolehkan bagi mereka untuk meninggalkan Muzdalifah pada malam hari apabila bulan telah hilang. Kalau tidak salah, anggota jamaah sudah mulai diberangkatkan setelah tengah malam menuju Mina. Saya tak begitu paham. Kami memaksakan diri untuk tidur di antara hembusan angin kencang di tanah pasir di bawah langit cerah sambil memandang lampu-lampu dari kejauhan. Badan saya rasanya penuh dengan angin, ditambah batuk tak henti-henti. Cuma saya yang seperti itu di kelompok kecil ini, lainnya sehat dan mungkin merasa prihatin karena saya tak bisa istirahat.

Ketika kami berupaya untuk tetap bertahan sampai waktu subuh tiba di Muzdalifah, tim pengurus jamaah haji dari Indonesia maupun Saudi sudah mulai blingsatan karena kami tak bergeming, padahal hanya tinggal 12 orang lagi yang belum terangkut dari tenda 20. Mungkin kalau kami menyebar dan menyelinap ke tenda lain bisa aman melakukan shalat subuh, karena di tenda lain masih banyak rombongan jamaah yang belum diangkut. Ketua regu kami dimarahi karena dianggap menyusahkan.  Setelah diskusi dalam kelompok akhirnya kami mengalah dan tidak membantah, mengikuti anjuran pengurus untuk ikut diangkut bis ke Mina. Satu bis untuk tenda 20 hanya diisi 12 orang. Karena ketika akan mengajukan untuk berjalan langsung ke Jamarat, mereka tidak mengijinkan. Padahal waktu subuh tinggal sekitar 20 menit lagi. Mungkin hanya inilah, satu-satunya hal sesuai sunnah yang tidak bisa dilaksanakan pada saat itu. Ketika tiba di Mina, kami tidak langsung ke tenda namun pergi ke mesjid untuk shalat Subuh. Ketua kelompok kami memilih pergi ke tenda karena merasa bertanggungjawab dengan anggota rombongan yang lain.

Di saat berjalan di lorong-lorong tenda untuk menuju mesjid, dengan penampakan gamis, kerudung hitam dan muka kucel setelah bermalam kemarin, tiba-tiba saya dikagetkan dengan tepukan seorang bapak yang menegur saya. Ia mengenali wajah, namun tidak ingat nama saya. Excited sekali, karena bertemu Papap guru SMA saya. Sedikit bertukar kabar lalu menanyakan, beliau dari KBIH mana kemudian saya pamit untuk ke mesjid.  Saya lupa jika saya saat itu lelah, belum mengganjal perut, kondisi tidak fit, dan suara saya hilang. Saat itu saya belum sadar.. jika perjalanan yang akan ditempuh tidak mudah.

bersambung…………….