Bukan rejeki

and all about misfortunes?

Kemarin saya sempat posting tentang hal yang berputar-putar di kepala. Tadinya saya ingin tetap keep in silent, tapi akhirnya biarlah mumpung sedang ingin mencurahkan segala gundah yang ada.

Ini adalah hikmah bahwa setiap manusia selalu diuji dengan banyak permasalahan. Pastinya bukan yang terbesar atau terberat. Hanya hal yang sebenarnya sesuai dengan kapasitas diri. Entah satu per satu atau langsung bertubi-tubi. Meski disangka tak bisa dihadapi, ternyata tetap saja kita bisa melewatinya. Dengan proses. Butuh waktu.

Masalahnya hanya bagaimana cara kita menyikapinya.

Saya sedang berpikir bagaimana caranya mengemas cerita supaya tidak terkesan membuka borok sendiri atau terlihat seperti keluhan murahan.

Susah ternyata..

Biarlah apa adanya!

Kita mulai dari sisi paling sensitif, masalah finansial dan keluarga. Mungkin tak semua orang bisa menyikapi cerita tak tentu arah ini.

Pertama tentunya tentang keadaan saya. Resiko bepergian kemanapun pasti membutuhkan bujet yang besar. Seperti yang saya alami kemarin. Segala konsekwensi harus dihadapi. Dari mulai membayar segala sesuatunya sendiri, resiko dipotong uang saku per hari, sampai masalah belanja oleh-oleh untuk keluarga, tetangga dan teman *meski banyak juga yang tidak kebagian*. Simpel. Segala pilihan pasti ada akibatnya sendiri dan tidak perlu dikomplain ini itu. Dan singkat cerita akhirnya sisa uang di ATM SCB saya tinggal 300 sekian baht setara 10 ribu rupiah. Jadi saya pulang ke rumah dalam keadaan sama sekali tidak kaya raya, haha..

Tanpa berprasangka apapun di tanah air, saya juga dijejali cerita ini itu yang berkaitan dengan finansial. Terutama dari pihak keluarga saya yang memang tidak seperti keluarga suami yang berkecukupan. Tentang suami adik ke 2 yang sakit selama seminggu lalu adik saya tak memegang sepeserpun. Tentang ibu tiri saya yang selama ini bekerja menanggung kehidupan keluarga dan tiba-tiba harus berhenti karena diganggu rekan lelaki sekerjanya, sementara bapak yang sudah sepuh hanya mengandalkan dari profesi petaninya. Tentang adik bungsu saya yang tiba-tiba hijrah bersama kedua anaknya ke rumah bapak karena berbagai cerita. Tentang adik lelaki saya yang mengalami masalah dalam pekerjaan. Tentang ibu saya yang masih saja tinggal bersama para oknum pengerat harta serta berbagai intrik-intrik di balik itu.

Segala sesuatunya berhubungan dengan uang.

Memang semua itu bukan masalah pribadi saya tapi sebagai anak sulung yang lebih beruntung tentunya saya ingin sekali menolong mereka. Hanya saja pada saat yang bersamaan saya tidak dalam keadaan lapang. Selama itu pikiran saya berputar-putar dan semrawut. Mencari ide bagaimana memecahkan masalah dengan keterbatasan finansial saya berdua suami. Semenjak saya tidak di kantor, tentu saja pendapatan kami cenderung lebih kecil karena saya hanya mendapat gaji pokok saja. Dipotong cicilan pula, haha.. cerita klise pegawai negeri.

Meski tak banyak dan menyusun skala prioritas, satu per satu terbagi sedikit demi sedikit. Saya berterimakasih kepada suami yang rela membantu tanpa banyak bicara. Di sisi lain saya kembali menyortir banyak barang untuk dilimpahkan kepada pihak terdekat yang lebih membutuhkan. Dalam pikiran saya, segala sesuatu lebih baik tidak dibiarkan mubazir. Selain tentu saja pikiran awam saya tetap mengharap bahwa Allah akan mengganti dengan yang lebih baik.

Masih tidak ikhlas? Bukan. Itu hanyalah keinginan saya sebagai manusia biasa.

Jujur, dengan penuh percaya diri saya menyangka bahwa saya sudah memberi banyak untuk orang lain. Tetapi ternyata semua itu belum cukup menurut Allah. Sudah sangat banyak rejeki yang diberikan kepada saya. Karena lalai menyisihkan secara sukarela atau menunda-nunda, Ia mengambil jatah itu dengan cara lain. Padahal saya dalam kondisi  membutuhkan untuk berbagai keperluan. Baik urgen maupun hedonis.

Setelah urusan dianggap bisa diatasi dengan memilah-milah sesuai kebutuhan, menyimpan pada posnya masing-masing ternyata saya masih diberi bonus masalah asisten yang tidak setia. Sakit hati rasanya di saat saya benar-benar butuh lantas tiba-tiba hilang. Saya bukan menuduh tanpa alasan. Dari sejak mengetahui apa yang terjadi saya masih menutup mata dengan berbagai pertimbangan. Terutama karena saya tidak ada di tempat dalam jangka waktu lama. Merasa dikhianati rasanya ketika kita selalu berbaik sangka sementara dibalik itu ia mencari kesempatan untuk melancarkan aksinya. Walaupun lagi-lagi saya mahfum semua ini karena masalah finansial. Dilema. Untuk mencari yang baru pun kesulitan bagaimana cara mengatasinya. Entahlah, tambah pening rasanya memikirkan semua itu. Ditambah rasa lapar karena tidak bisa makan dengan baik akibat senut-senut gigi bekas pencabutan. Berjuta rasanya.

Tapi tadi saya masih sempat tersenyum kecut saat suami berkata bahwa dua tabung gas di dapur baru saja berhasil digondol maling yang memperdayai asisten sementara kami dan anak-anak di rumah.

Benar-benar bukan rejeki!

Saya yakin ini cuma masalah yang tidak ada apa-apanya dibanding orang lain yang kebetulan mengalami hal lebih berat. Saya pikir semua ini karena kelalaian pribadi. Kembali lagi memang sesesungguhnya akan lebih menguntungkan jika kita ikhlas membayar pajak kepada Allah di muka demi kebaikan sendiri. Dalam kesempitan apalagi kelapangan rejeki. Kita tidak akan pernah merugi.

Sebuah teguran untuk saya. Jangan lupa berbagi..

Kadang saya berpikir bahwa saya sangat curang karena meninggalkan suami dengan berbagai komplikasi situasi seperti ini. Saya merasa bersalah.

Tapi semua itu sudah saya anggap selesai.

-sebuah catatan sampah yang tak berhasil saya modifikasi dengan bahasa yang lebih baik, maaf jika tak berkenan-

38 thoughts on “Bukan rejeki

  1. mbak…ini bukan nyampah…pada awalnya mungkin aku akan bilang…yah emang bukan rejeki…jadi ikhlaskan.. soal kehilangan itu…untuk lebih berusaha ikhlas tepatnya..insyallah nanti akan diganti sama allah..
    aku yakin mbak ada hikmah dari semua persoalan ini….hmm menurutku kadang ketika kita diuji dengan segala permasalahan, itu supaya kita lebih kuat…terus masalah kehilangan yah memang yang pasti bukan rejeki..tapi menurutku bukan semata kita kurang beramal…hmm mungkin demi biar kita bisa ikhlas kita akan bilang…soalnya kita kurang banyak berbagi jadi semacama teguran….yah mungkin bisa jadi iya..tapi mungkin bisa jadi itu ujian untuk kita…*hmm gimana yah mbak bingung mau ngomongnya…*asli aku hanya orang awam dan pengetahuan agama masih dangkal ..intinya…pasti ada hikmah dibalik semua peristiwa ini..
    Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik dimata allah…..jadi mungkin kita hanya bisa banyak berdoa dan berusaha agar kita ikhlas dan diberikan yang terbaik… keputusan apapun itu atau takdir apapun itu dari allah semoga kita bisa menerimanya dengan ikhlas…*hmm maaf kalo panjang lebar..akupun yang menulis ini belom tentu bisa menjalaninya…
    *pelukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk mbak….you’re not alone…

    • hihihi… ini nih yg aku bilang bahan satu postingan🙂
      makasih mama kinan, menyenangkan banget dapat support begini
      mungkin di dunia nyata ga bisa jujur tapi begitu selesai nulis beban lebih berkurang

      • didunia nyata kadang kita sulit untuk memulai curhat dari mana…dan kita lihat kawan yang Click…
        intinya yang penting beban hati sedikit berkurang dengan menulis tentang unek unek..*bagi kita yang memang lebih bisa mengungkapkannya lewat tulisan..:)
        tetap semangat mbak..:)

  2. Terkadang hal yang menurut kita gak enak, ada hal yang ingin ditunjukkan untuk kita.. Semacam pembelajaran ya mbak.. Sadar atau tidak sadar.. Sepertinya Allah sedang memberitahukan sesuatu pada kita, bahwa setidaknya dalam situasi yang kurang nyaman ada seseorang yang selalu menemani kita, ada rezeki kesehatan yang tak kalah hebatnya, sehingga untuk berbagi tidak dilupakan, Allah melihat itu semua, akan meluluskan ujian ini dengan senyuman, *maaf jika kurang berkenan, karena saya juga lagi sensi dengan finansial hehehe….

  3. Kebayang situasinya mbak, pasti gak ngenakin banget. Di satu sisi pengen ikhlas, tapi di sisi lain berat juga karena kondisi lagi butuh. Tapi apapun itu yang sabar ya mbak, Tuhan tau dan mengerti kebutuhan mbak dan keluarga, dan karenanya Tuhan akan menyediakan apa yang mbak butuhkan…

  4. Setelah ‘nyampah’ semoga lebih tenang ya Teh… dan sebetulnya bukan sampah kok, justru mengingatkan pembaca untuk berbagi dan ikhlas atas semua ujian, iya kan?🙂

    Semangat ya Teh😉

  5. Entah gimana Mba Hilsya, kok merasakan apa yang njenengan rasakan ya. Rasanya kok duit kuraaang terus. Hehehehe. apa rejeki saya ga berkah ya? *naudzubikamindzaliikk*
    Tapi bener sih Mba, sisihkan hak orang lain dulu ya biar hak kita gak berkurang tanpa ada kejelasan..
    Semangat Mba Hilsya..🙂

  6. Saat membacanya, tak ada sedikitpun nada keluhan ‘nyampah’ Teh. Kemampuan menerima diri, menata dan kemudian memilah tindakan prioritas disertai penyerahan diri mencerminkan kebesaran hati mama Hilsya. Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s