Krabi : sendiri

Tiket ke Krabi sudah saya pesan sekitar 3 bulan lalu, sebelum pergi ke Phuket malah. Dengan penuh percaya diri sambil mengumpulkan berjuta keberanian, saya nekat ingin jalan sendiri. Pokoknya harus dicoba. Informasi dan referensi dari berbagai blog saya kumpulkan dan akhirnya saya berangkat juga.

Sebenarnya saya rada setengah hati saat menjalani trip ini. Pertama, saya merasa bersalah karena di saat megap-megap mengikuti kuliah toksiko, bukannya belajar kok malah keluyuran. Kedua, saya baru saja menginjak airport sekitar 2 minggu lalu, masa balik lagi sih? Rasanya gimana gitu.. Apalagi kalau bukan untuk alasan kerja. Ketiga, saya harus menghemat karena stipense bulan ini dipotong setengahnya. Keempat, ada pesta perpisahan dengan teman yang akan pulang ke negaranya di hari yang sama.

Saya jadi galau.. *lebay ya?*

Tapi sayang rasanya kalau hangus. Total tiket PP 2300 baht, plus guesthouse 100rb lumayan juga buat mahasiswa. Dengan berdalih refresing sambil membawa handout anatomi sistem syaraf dan kardiovaskuler, saya memantapkan hati. Cabut aja ah!

Ini masih prolog dari residence ke airport Don Mueang. Hampir saja saya salah membaca waktu keberangkatan. Saya kira jam 5 sore, tidak tahunya jam 15.40. Hadeuuh…

Jam 2 siang di panas terik yang aduhai, saya ke tempat bus stop sambil menunggu bus non AC. Irit, hanya membayar 7 baht. Karena jaraknya lumayan dekat, tidak sampai 10 menit jika tanpa macet. Di dalam bus, tiba-tiba saya merasa terharu biru tanpa sebab. Terharu karena berani jalan sendiri dan bersyukur karena bisa menikmati keindahan alam Thailand dengan nyaman.

Selesai check in tanpa masalah, saya memutuskan untuk membuka handout sambil menanti waktu keberangkatan. Tidak tahu kenapa, saya kok tidak suka membaca buku sepanjang perjalanan. Pusing rasanya. Apalagi kalau subyek yang dibaca tentang kardio, akhirnya pindah ke liver. Memang sih saya beri stabilo dan banyak catatan di pinggirnya, tapi kenapa mendadak sekarang tidak ada yang nyantel sedikitpun ya? Oh..tidaaak!

Dan di pesawat, saya memilih tidur.

Sekitar 1 jam 40 menit, akhirnya tiba di Krabi. Dalam suasana deg-degan saya mencoba melangkah pasti. Apalagi ketika melihat, tersedia stand shuttle bus di depan mata. Saya memilih bus ke Krabi Town dengan membayar 90 baht. Bus non AC yang diparkir di sebelah kiri pintu exit terminal 2. Dekat dan mudah dicapai.

Perjalanan dari airport ke Krabi Town memakan waktu sekitar 20 menit. Di sepanjang jalan yang cukup  sunyi, saya banyak menemukan masjid, komunitas muslim, dan banyak makanan halal. Saya jadi tambah terharu. Senang rasanya.

Bus airport berhenti di Chaofa road. Di sana ada tur agen yang memberi informasi hotel maupun tempat wisata. Berhubung saya sudah punya tujuan, saya hanya berjalan lurus berbalik arah menuju pusat kota sambil menyusuri jalan. Menurut peta, guesthouse yang saya tempati tidak terlalu jauh. Hanya berjalan kaki kurang dari 10 menit. Dan voila, sampai juga.

Saya memesan single room di Good Dream guesthouse via internet. Membayar langsung via akun Paypal. Murah, hanya $10,6 untuk 2 malam. Kamar berukuran 1.8 x 3 m dengan shared bathroom. Di sini pengunjungnya rata-rata berhidung mancung. Mungkin cuma saya saja tamu dari Asia, sendiri pula. Meski sedikit risih karena mereka rata-rata asyik minum di lobby hotel, saya memilih diam di kamar atau keluar untuk melihat Krabi menjelang malam. Sendiri, pada dasarnya karena saya pendiam dan tidak suka mengajak orang asing bercakap-cakap. Hanya sekedar senyum sopan saja.

Di Good Dream pula, saya mencari info untuk tur 2 hari kedepannya. Intinya saya tidak mau menyusahkan diri dengan pergi sendiri, ngeteng naik kendaraan umum, dan lain-lain. Pokoknya saya hanya ingin duduk manis sambil menikmati keindahan alam sekitar Krabi.

Dan komparasi dengan Indonesia pun dimulai….

–bersambung– dengan catatan kapan-kapan kalau sempat 🙂