Gua Batu Bantimurung

Jika bukan karena pekerjaan, mungkin kota cantik yang identik dengan panas terik, daging, dan sifat keras (sebagian) orang-orangnya tak akan pernah saya jejaki. Dihitung-hitung.. sudah berapa kali ya singgah di Makasar? Banyak, hampir tiap tahun. Tapi karena hanya dibatasi 3 hari perjalanan pulang pergi, otomatis waktu untuk menyusuri tempat-tempat menarik tak pernah terpuaskan.

Kami menginap di hotel daerah pinggir pantai di kota Makasar guna memanfaatkan fasilitas kantor. Lokasi kerja kami di daerah Maros. Setelah selesai pekerjaan tahun lalu kami melanjutkan perjalanan ke Bantimurung. Jaraknya lumayan dekat, waktu tempuh kurang dari setengah jam. Kami menyewa mobil dari Makasar lengkap dengan guide lokalnya, teman kuliah satu kamar saya yang saat ini jadi guru sekolah kejuruan. Sambil menemani saya jalan-jalan ia ingin mengetahui apa saja sih yang jadi pekerjaan saya sehari-hari, yang dengan begitu enaknya bisa pindah kota sana-sini. Hehe, ga tau aja dia.. kalo pake acara angkut-angkut.

Tentang Bantimurung  salah satu ceritanya bisa dilihat disini, di blognya Gaphe *ngelink aja, soale lagi males nulis lagian tulisannya juga udah lengkap*. Bedanya kami memilih minta ditemani guide tour lokal. Secara, teman Makasar saya itu ternyata juga ga mengerti banyak jalan dan tempat-tempatnya selain penangkaran kupu-kupu dan air terjun. Menyusuri sisi air terjun, kami meminta ditemani masuk ke dalam gua *soalnya belum pernah masuk gua*. Namanya apa ya? Gua Batu apa Gua Mimpi? Halaah.. lupa, pokoknya yang persis di sisian air terjun dan letaknya ga terlalu jauh. . *emak-emak ga boleh cape dikit*. Gua Batu kayaknya, soalnya kalo ke Gua Mimpi jaraknya 3 km-an. Ini aja jalan kurang dari 1 km ditambah naik 125 anak tangga, mulut udah protes teriak-teriak kakinya pegel .. ditambah belum makan siang pula. Exercise bener kan?

Masuk ke dalam gua tadi, ada pilihan penyewaan petromaks plus pemandu dengan membayar 50rb (btw, ini mahal ga sih buat 5 orang?). Mulanya sempat berpikir worth it ga ya, menyelusup ke dalam ruangan gelap ga jelas kayak gini. Tapi ah, demi sebuah pengalaman baru petualangan ini kami coba juga. Semangat!

Dengan nyala petromaks, suasana di dalam gua yang dingin terlihat sangat cantik. Hasil foto pun terlihat tidak mengecewakan *sambil ngubek-ngubek koleksi foto yang bisa layak tayang*. Kecantikan batu kapur membuat kami kagum, meski sempat kecewa karena banyak tangan-tangan jahil yang mengotori dinding gua. Di dalam juga ada tempat yang disebut batu jodoh dimana stalaktit dan stalakmit menyatu. Yang belum punya jodoh, bisa foto disitu. Yang udah punya, juga boleh…hihi.

Setelah itu kami pun beranjak ke area meditasi, air suci dan tempat sholat sang raja bantimurung. Mata airnya masih mengalir. Segar sekali. Seperti biasa suka ditambah mitos ini itu. Hm, kebayang ga .. betapa hebat dan pemberaninya orang-orang jaman dahulu. Bersemedi di dalam kegelapan. Sementara kita aja yang pergi berenam dalam kelompok itu masih berasa-rasa gimana gitu. Ga serem sih, dan ga bikin merinding juga tapi tetep aja bikin keder. Sang pemandu juga sempat menjelaskan mitos bahwa jika kita terpeleset atau kejeduk dinding batu di dalam gua, tandanya kita akan mendapatkan rejeki dalam waktu dekat *tapi sampe sekarang logika saya tetep ga nyambung..*

Sayangnya jalan akses menuju gua saat itu masih kurang bagus, ditambah musim hujan pula jadi terlihat becek.  Keindahan gua juga dikotori dengan tulisan-tulisan narsis grafiti ga jelas. Tidak banyak orang yang tertarik mengeksplorasi tempat meditasi sang raja jaman dahulu. Hanya kami saja yang masuk, sisanya hanya berada di area air terjun. Petunjuk jalan tidak terlalu lengkap, meski hanya jalan itu satu-satunya yang menuju gua. Penjual souvenir juga kerap membuntuti para pengunjung dari awal sampai akhir. Tidak ada yang salah, tapi kadang membuat kurang nyaman. Dalam perjalanan pulang, kami juga menyempatkan untuk mengambil gambar di area air terjun. Lalu beranjak ke area penangkaran, namun sayang saat itu sedang tidak ada kupu-kupu yang bisa dilihat. Kami datang di saat yang kurang tepat. Lain waktu, kesana lagi kali ya?