Pemandian air panas Cisolok

Setelah pemandian air panas Ciater – Bandung (semasa kanak-kanak) , Cipanas – Garut (dua tahun silam dan lupa settingnya), Tirta Sanita – Ciseeng, lalu yang terakhir ke Gunung Pancar – Sentul, kini giliran Cisolok – Pelabuhan Ratu yang saya sambangi. Memang alasannya lebih karena penasaran. Tidak lengkap rasanya jika melewati Pelabuhan Ratu tidak turut melongok ke Cisolok untuk menyegarkan badan yang kelelahan. Jaraknya cukup dekat. Papan penunjuk jalanpun cukup jelas terpampang.

Baiklah sebelum menikmati sensasi air panas, saya akan menampilkan the story behind  betapa perjalanan ke pemandian kali ini penuh perjuangan. 🙂

Rute umum menuju Cisolok memang dari arah Pelabuhan Ratu ke arah barat. Melewati area wisata pantai Karanghawu, Citepus, Cibangban di pesisir Pelabuhan Ratu. Menurut info jaraknya sekitar 17-20 km. Namun kami melaju dari arah Lebak, setelah puas menikmati keindahan Sawarna. Searah dalam perjalanan pulang menuju Jakarta. Medan dari arah Sawarna memang lumayan menjanjikan. Penuh kelokan, tanjakan dan turunan dengan jalan yang tidak lebar dan kadangkala rusak.

Tragedinya, mobil kami tiba-tiba berhenti karena mobil di depan kami juga berhenti. Tak kuat melewati tanjakan. Padahal meski semua penumpang menarik nafas, awalnya laju kendaraan sudah diperkirakan mulus.  Tetapi rupanya posisi mobil kami terlalu dekat dengan mobil di depannya, sehingga ikut-ikutan tak kuat saat harus menginjak gas.

Ketika bapak sopir meminta penumpangnya untuk turun karena khawatir kendaraan akan mundur dari tanjakan, satu per satu kami keluar dan mencari batu penahan. Untungnya ia mampu mengendalikan mobil agar dapat melaju dan meninggalkan penumpangnya dalam jarak sekitar 100 m menanjak. Para penduduk setempat yang berpapasan sempat tersenyum-senyum melihat para ‘orang kota’ ini melangkah dengan susah payah diiringi peluh.

Heu.. emang enak gitu nanjak? ‘Orang kota’ memang terlihat manja ya..

Itu baru ‘hiasan’ pertama… hehe

Dari arah Lebak, letak pemandian ini berada di sebelah kiri jalan.  Masuk ke dalam sekitar 300 m atau lebih (saya tak pandai memprediksi jarak) sebelum bertemu dengan pintu gerbang utama. Tiket biaya masuk yang tertera di gerbang bervariasi untuk tiap jenis kendaraan. Dari mulai Rp 3000, 8000, 13000, dan 25000. Kurang jelas juga apakah dihitung per orang atau per mobil, saya tak memperhatikan. Tapi rasanya sih per jenis kendaraan.

Tiba di tempat parkir, kami malah disambut hujan deras. Tempat pemandian juga ternyata masih harus ditempuh dengan berjalan kaki turun ke arah bawah sekitar 100 m-an mengambil jalan pintas dari warung-warung sekitar parkiran. Masih harus melintasi jembatan lagi. Harap-harap cemas akan seperti apa penampakannya.

Sambil terus berjalan di bawah payung hitam *iis dahlia banget*, akhirnya kami tiba di pintu gerbang menuju kolam renang. Di sana terpampang biaya tiket masuk untuk mandi di kolam renang umum sebesar Rp 2500. Sementara untuk mandi berendam di kamar mandi tertutup seharga Rp 15000, dan untuk mengikuti terapi air panas dikenakan biaya Rp 35000.

Lho kok, kenapa terlihat seperti kurang terawat ya? Tapi sudahlah, yang penting bisa rileks dengan air panas.

Ada dua kolam renang air panas untuk umum. Kondisinya bisa dibilang kurang terjaga dengan baik. Tidak kotor tapi juga tidak terlalu bersih. Tapi lumayan, masalah klasik pariwisata di Indonesia memang selalu sama. Semua pengunjung bisa merendamkan badannya dimana saja. Bebas tanpa aturan harus memakai baju renang. Perlengkapan mandi juga bisa dibeli di tempat. Saya memilih mandi di kamar mandi tertutup tanpa berendam dalam bathub, karena tidak tahan dengan panasnya Di antara pemandian air panas yang pernah dikunjungi, Cisolok rasanya yang paling panas. Mandi dengan air panas akan membuat badan letih menjadi lebih segar. Bau belerang tidak terlalu tercium, mungkin karena saat itu turun hujan.

Oh iya.. sebelumnya silakan cari kata kunci pemandian air panas Cisolok di dunia maya. Maka gambar-gambar indah seperti di bawah ini akan bermunculan :

 

Dua contoh gambar diambil dari sini dan sini.

Namun karena faktor cuaca, yang saya temui di lokasi hanya seperti di bawah ini .. *kecewa*

Iya.. mungkin rejeki saya kurang beruntung karena kedatangan kami bersamaan dengan turunnya hujan yang cukup deras, sehingga air sungai menjadi berwarna coklat. Tadinya saya kurang percaya dengan munculnya semburan air panas ini. Dimana letak sumber air panas ini? Mengapa terlihat seperti sengaja dibuat memancar tinggi dengan menambahkan batu-batu di sekitarnya? Apakah ada pipa atau selang dibawahnya?

Tetapi waktu itu saya diam saja dan tak jadi bertanya. Baru ketika akan membuat postingan ini, saya mencari info yang bertebaran di dunia maya dan bertemu dengan situs ini.  Ya ampun, saya baru sadar kalau sumber mata air Cisolok ini ternyata geyser, dan telah ditemukan orang-orang Belanda sejak jaman dahulu.

Possible image of Cisolok Geyser.
Wikimedia CommonsTropenmuseum of The Royal Tropical institute, taken circa 1921. CC BY-SA 3.0.