Siapa temanmu?

“Mbaaak, aku sakit hati. Hari ini aku pengen marah habis-habisan. Kesal setengah mati sama teman-teman sekelasku”. Junior saya langsung menumpahkan kekesalannya saat kami makan malam bersama di kamar.

“Bayangkan, mbak.. Dari kemarin aku sudah minta tolong diberi info, kalau ada kelas aku minta dikasih tahu. Dimana dan jam berapa. Tapi tidak ada yang memberi respon”. Saya diam mendengarkan.

“Padahal pagi hari ketika ada acara peringatan ulang tahun Puteri, kita berpapasan dan saling say hello.. Kok tega-teganya, nggak ada yang bilang sama aku. Aku baru tahu dari temanmu, mbak. Dia tanya kenapa aku tidak ikut kelas, padahal letaknya di gedung yang sama”, ia berapi-api, melanjutkan kekesalannya. Saya tersenyum sedikit. Tidak kaget, tapi tetap simpati. Saya yakin, ternyata kultur itu memang mendarahdaging. Selamanya mungkin akan seperti ini.

Perkara pertemanan. Saya sudah merasakan kejadian seperti ini di jaman dahulu, dan mungkin sekarang juga kadang masih ada sisa-sisa seperti itu. Kalau dulu saya sakit hati habis-habisan juga, mungkin sekarang sudah dalam tahap masa bodoh. Emang gue pikirin?

Lantas malamnya, saya lihat ia menumpahkan uneg-uneg via status fesbuk. Lagi-lagi tidak ada respon dari teman-teman sekelasnya. Bahkan saat ia menulis pesan via fesbuk dan mengirim sms pada salah satu teman akrabnya pun tidak dibalas. Sampai hari ini. Ia tambah sakit hati.

Saya katakan pada junior saya, tidak ada gunanya menulis hal-hal seperti itu di media sosial *meski itu jadi haknya*. Saya bercerita padanya, bahwa laman fesbuk saya tidak pernah jelas mendefinisikan apa yang sedang terjadi. Saya lebih suka berbagi cerita dalam blog. Lebih menyenangkan. Selain bisa merilis segala ketegangan, postingan juga bisa menjadi suatu pelajaran bagi orang lain. Perkara bagaimana bentuk tulisannya, mungkin akan lebih baik jika dibuat sebijak mungkin. Meski saya akui, saya masih banyak kekurangan. Masih suka menyampah. Saya katakan padanya, lebih baik membuat blog saja.

Kenapa harus blog?

Blog itu ibarat diari hidup kita, bisa dengan tema tertentu maupun aneka cerita sehari-hari. Blog adalah tempat kita berbagi pengetahuan. Saya banyak belajar dari blog-blog lain. Meski setelah saya teliti dari arsip, pengetahuan yang saya bagikan kok kebanyakan cerita jalan-jalan saja ya? haha.. Tidak ada yang ilmiah. Ingin sesekali berbagi ilmu, tapi kadang saya tidak mampu membuatnya menjadi bahasa yang dimengerti oleh semua kalangan. Mungkin karena saya juga bukan sepenuhnya profesional, masih tahap belajar. Blog adalah tempat berbagi pengalaman baik yang seru, konyol, lucu dan memalukan. Blog juga tempat saya ikut memposting cerita untuk keperluan kontes dan mendapatkan hadiah, meski lagi-lagi jumlahnya bisa dihitung. Dan satu lagi, saya bisa merasakan keindahan bersahabat dengan teman-teman maya di berbagai tempat. Merasakan ketulusan atas support, doa, kegembiraan, simpati, empati, dan lain sebagainya. Komplit. Semua rasa itu ada walaupun kita tak saling mengenal secara utuh.

Pheun khong khun pen krai? *siapa temanmu?* Mai mi? *tidak ada?* T_T

Ya.. dalam kehidupan, kadangkala kita cocok-cocokan berteman. Bukan untuk pilih-pilih, tapi ada rasa klik tersendiri untuk mendefinisikan teman akrab. Kadang seseorang yang berada jauh di seberang lautan terasa lebih berempati dibanding teman di sebelah kamar *curcol*. Jujur saja, mungkin teman-teman maya di blog ini lebih banyak mengetahui apa yang terjadi dibanding orang-orang yang benar-benar saya kenal.

Hanya saja saya harus mengaku, bahwa saya tidak terlalu banyak mengenal teman maya. Saya tidak bisa sering ikut acara kopdar atau event tertentu. Ada beberapa blogger yang kebetulan pernah bertemu. Bertukar email, no hp (dulu), atau berteman di jejaring sosial. Bisa dihitung dengan jari. Saya merasa biasa saja. Wajar karena masing-masing sibuk dengan realitasnya dan lagipun saya tak terlalu suka go public. Saya bukan selebriti.

Tapi tentang indahnya persahabatan saya dengan seorang blogger, saya punya pengalaman yang bisa dibilang seru. Sayangnya dokumentasi pertemuan kami ada di komputer di rumah. Kalau pergi kemana-mana, saya suka mengingatnya. Ini oleh-oleh buat si A, baju ini bagus buat anaknya. Jadi berhubung lebih mahal ongkos kirim dibanding harga barang, semuanya masih awet di posisi semula. Atau ia yang tiba-tiba mentransfer uang untuk ulang tahun anak-anak saya. Aiih, jadi ma(l)u..hihi. Kalau kami berdekatan, mungkin kami sibuk bertukar hadiah setiap ada kesempatan.

a1

Jika sedang merasa (sok) sibuk dengan banyak pikiran, saya refreshing dengan berkelana ke blog teman-teman yang lain. Hal itu dapat mengobati perasaan jiwa dan raga. Lega rasanya. Kadang terbersit perasaan rindu menyelimuti. Saya memang tak banyak mendapatkan keindahan persahabatan dalam bentuk fisik, namun merasakan keeratan batin di antara kami. Sungguh menyenangkan. Pokoknya.. judulnya indaaaah saja. Titik!

Ah, sungguh perasaan yang aneh… Teman-teman merasakan hal yang sama?

===

“Cerita ini diikutsertakan dalam Giveaway Ikakoentjoro’s Blog dan Lieshadie’s Blog -Indahnya Persahabatan Blogger-”