Deg-degan

Hari Selasa kemarin tanggal 2 Juli adalah hari yang membuat deg-degan. Meski perasaan itu saya tunda, gara-gara harus mempersiapkan presentasi grup tentang e-waste hari Rabu pagi.

Kronologisnya Selasa sore, saya mendapat offline message dari suami yang mengabarkan si sulung tidak diterima di 2 SMPN favorit pertama. Dia hanya berada di urutan 150 di SMP pilihan no 3, dari pendaftar sebanyak 530 orang dan 234 kursi. Meski rasanya kecewa karena tidak masuk favorit pertama, tapi saya berusaha menyemangati si sulung supaya dia tidak bersedih. Sayapun akhirnya biasa saja. Mungkin itu yang terbaik. Sekaligus menjadi pelajaran buat dia supaya tidak terlalu santai. Meski tidak anjlok, nilai UANnya memang jatuh dibanding try out ataupun hasil tes masuk SMPIT.

Setelah presentasi selesai, Rabu siang saya kembali dilanda perasaan campur aduk. Galau tingkat tinggi. Pasalnya, ketika mengecek situs ppdb online posisi si sulung mendadak merosok ke nomor 204 dari kuota kursi 224. Sedih sekali rasanya. Menyesal, galau, terluka, marah.. entahlah segala rasa sepertinya bercampuk aduk. Dengan waktu pendaftaran yang masih terbuka sampai tanggal 4, saya jadi pesimis sendiri. Saya harus berputar arah supaya ia tetap bisa bersekolah tahun ini.

Masalahnya, dulu kami tidak mendaftar ulang di SMPIT terdekat. Alasannya klise. Biaya sekolah yang mahal. Saya tak tahu harus berkata apa dengan dunia pendidikan yang begitu mahal di sekitar kita. Itu saja kami berdua bekerja dengan penghasilan yang cukup. Tidak berlebih. Lagipun, saya yakin si sulung pasti mampu masuk sekolah negeri karena hasil TO-nya bagus. Ternyata, nilai UANnya pas-pasan. Pas untuk lolos di pilihan ke 3. Tapi sekarang posisinya di ujung tanduk, karena nilai siswa lainnya berada di angka 27-28.

Sebetulnya, saya tidak masalah jika ia bersekolah di SMP yang biasa-biasa saja. Tapi kasihan juga, karena mungkin si anak tidak sreg dengan sekolah pilihan terakhir. Setelah melanjutkan sekolah ini, saya tersadar bahwa ternyata tidak selalu harus mencari yang terbaik dan mahal sejak dini. Mungkin beberapa orang tidak setuju. Tapi buat saya yang penting semangat, usaha, dan kerja keras. Sisanya bergantung pada keberuntungan.

Rabu sore sampai malam, kami berdiskusi. Suami mengontak sahabat pengurus di SMPITĀ  untuk menanyakan apakah masih ada sisa bangku jika tidak diterima di SMPN. Beliau bilang bisa membantu, karena pada dasarnya kami tinggal mendaftar ulang. Saya masih deg-degan. Kami berdua bersedih. Menangis berdua. Kasihan rasanya melihat si sulung, karena ketidakmampuan kami dari segi materi ia tidak bisa bersekolah di tempat yang layak. Tapi saya pikir kalau tidak diterima dan tidak mampu membayar sebanyak itu, tidak usah memaksakan diri. Tidak apa-apa bersekolah di tempat biasa, karena perjalanannya masih panjang.

Sampai malam, saya tidak enak pikiran. Boro-boro bisa makan atau tidur. Lantas hari ini kami ada kelas sehari penuh. Badan saya langsung tak terasa nyaman. Mual, lapar, lemas, pusing mendengarkan lecture dari pagi sampai sore. Oh, iya siang tadi saya sudah pasrah karena situs ppdb tadi kacau. Nama si sulung bahkan tidak ada di pilihan ke 3. Bahkan tak lama kemudian semua data mendadak hilang. Saya hanya mengirim pesan pada si sulung supaya semangat dan saya tetap bangga padanya. Saya kembali pergi ke kelas.

Jam 5 sore saya kembali dan menyalakan YM, kami berkomunikasi. Perasaan saya sudah biasa-biasa saja. Lantas suami bilang, saya harus sujud syukur. Nama si sulung kembali ke pilihan ke 3 dan masuk ke nomor 187. Dan katanya, hari ini adalah batas terakhir penyusunan penerimaan murid baru. Daftar itu tidak berubah dari jam 2 siang tadi. Moga-moga tidak berubah seterusnya.

Perasaan saya? Alhamdulillah… Tak terasa tetesan air mata mengalir penuh syukur. Saya tak mengira mendapat sentilan drama seperti ini. Kepasrahan saya sudah sampai terserah bagaimana baiknya menurut keputusan Allah. Tak menyangka juga, hanya berharap yang terbaik.

Benar-benar baru terasa rasanya jadi orang tuanya yang lebih deg-degan ketimbang anaknya saat harus memilih sekolah. Semoga menjadi pelajaran berharga untuk selanjutnya nanti, karena perjalanan yang sesungguhnya masih panjang.

Ada yang punya pengalaman serupa? Seruu ya?