Catatan Haji (8): Armina (3)

Malam itu, 11 orang dari kami sudah kembali ke tenda. Anne yang terakhir, karena ia ikut ke hotel lalu ke tenda VIP tempat KBIH dimana ia membayar ekstra. Berhasil menemukan mobil dengan membayar 50 SAR per orang sampai batas Mina. Ia juga sudah tidak ngambek lagi. Memang, siang hari saat akan pulang itu di antara kami semua termasuk saya dan suami juga sempat ada sedikit friksi. Anne bercerita tentang seorang jamaah Indonesia yang ditemukan pingsan dan dalam keadaan semrawut.. hanya memakai baju ihram, kantung sabuk hajinya sudah kosong.. mungkin juga memang tidak membawa apa-apa..akhirnya dibawa ke hotel untuk pemulihan. Rute perjalanan Mina-Jamarat-Mekkah-Jamarat-Mina di siang hari memang membutuhkan kekuatan fisik yang amat sangat. Tak heran jika banyak sekali jamaah yang kelelahan.

Di tenda no 20, ternyata tas yang kami simpan sejak Tarwiyah kemarin, sudah diusir-usir sampai paling pinggir. Kalau mau lebay, mungkin seperti mendapat jatah sisaan. Padahal kemarin kami yang merapikan tenda, mengikat sisa-sisa kain tenda  yang kosong supaya rapat, mengatur posisi  ini itu. Hee.. begitulah. Tapi kalau kata Lia, pengalaman haji terdahulunya malah lebih parah. Dia sampai tidak bisa tidur di tenda karena sudah tidak ada tempat. Kami mendapat tempat di pinggir luar, yang begitu terbuka langsung terlihat orang berlalu lalang. Tapi untungnya masih ada jejeran 3 orang dari KBIH lain yang diinapkan di tempat kami. Kaki kami bertemu kaki. Tiap orang membawa alas atau membeli tikar 20 SAR untuk kebutuhan pribadi, saya hanya menggelarkan sajadah seadanya sambil mencari tempat yang tidak terkena AC secara langsung. Mungkin karena saya sok sensitif, suasana di tenda masih sedikit ‘tegang’ akibat peristiwa kami pergi seharian kemarin.  Saya juga tidak banyak bicara, karena rasa sakit yang bertambah-tambah. Malam itu saya tidak berhenti batuk, kemungkinan karena masuk angin yang sudah ampun-ampunan.

Karena kondisi saya persis seperti saat setelah umroh wajib lalu, saya diharuskan untuk diam di tenda saja. Boro-boro bisa berpanas-panas berjalan kaki, mengubah posisi dari tiduran ke dudukpun kepala ini sakitnya luar biasa. Dari awal pun, yang saya khawatirkan hanya masalah fisik yang sakit-sakitan. Sebenarnya tidak ada kegiatan lain saat kami mabit di Mina, selain melakukan lempar jumroh pada 11, 12 (Nafar Awal) dan 13 Dzulhijjah (Nafar Tsani). Waktu idealnya adalah setelah Dzuhur, saat matahari sedang terik-teriknya. Kebanyakan kawan-kawan dari tenda kami pergi berbarengan dari waktu subuh. Hanya kelompok tanazul itu saja yang pergi setelah Dzuhur dengan pergi sholat berjamaah di masjid dekat tenda kemudian langsung melontar. Pada tanggal 11,-nya saya dan ibunya Lia dari kelompok tanazul, bersama 3 orang sepuh dan 1 orang yang menderita vertigo yang berdiam di tenda 20. Proses melontar dibadalkan oleh jamaah lelaki lain (suami dan teman setenda). Jadi kurang lebih, posisi saya hampir sama dengan para sepuh itu.. #hadeuuuh…

Saat di Mina, saya sempat bertemu 3 teman kantor satu ruangan yang tinggal di tenda no 25, kemudian bertemu dengan tetangga suami di Sleman yang kebetulan letaknya berdekatan. Belum lagi, bersama teman satu almamater mengunjungi Papap, guru kami di tenda no 20. Rasanya haru dan menyenangkan sekali bisa bertemu orang-orang yang kita kenal di negeri orang. Satu teman kantor yang kebetulan sekloter dengan kakak kelas saya tinggal di tenda no 3 yang letaknya entah dimana.

Karena kami sudah melaksanakan semua amalan haji pada tanggal 10 kemarin, perasaan hati sudah sedikit plong. Saya hanya memperhatikan bagaimana keadaan di tenda sehari-hari. Biasa saja. Jika ditinggal melontar, hanya tinggal kami berenam. Palingan Lia dan Anne yang kebagian jadi perawat untuk si nenek yang pergi sendiri. Mereka berbarengan memandikan dan mencucikan baju-baju yang terkena kencing. Diwarnai dengan insiden, cucian baju nenek yang hilang gara-gara dijemur di dekat tenda lalu dipindahkan petugas. Suasana di tenda yang ramai luar biasa, banyak orang, kebersihan tidak terjaga di toilet. Termasuk saya yang kena apes sambil geleng-geleng kepala. Kok, bisa-bisanya orang pergi tanpa menyiram toilet. Suasana antrian kamar mandi memaksa saya mandi pada saat malam hari. Ditambah saya masih suka teringat cerita teman yang mengingatkan kejadian toilet di waktu lalu, jadi membuat saya merasa horror sendiri.

Tidak ada kegiatan khusus di tenda kami. Sewaktu menengok ke tenda KBIH teman saya, di sana saya melihat perbedaannya. Mereka mengharuskan seluruh jamaah sholat  di tenda kemudian mendapatkan jadwal kajian setelah sholat. Saya lupa tidak menanyakan berapa raka’at mereka sholat wajib selama disana. Karena di tenda 20, kami yang ikut tanazul biasa memilih sholat sendiri, kecuali saat sholat diimami oleh rekan yang ikut tanazul.. Jika ikut jamaah, mereka mengerjakan sesuai jumlah rakaat sambil melakukan shalat sunnah.

Pada tanggal 12 Dzulhijjah, rombongan kloter kami akan kembali ke Mekkah setelah melontar. Sepertinya mereka pergi saat dini hari atau menjelang subuh, karena setelah sarapan pagi mereka langsung bersiap mengantri untuk diberangkatkan bis ke hotel masing-masing. Kami berpisah disana. Tenda menjadi sepi kembali. Hanya tinggal kami berdua belas orang. Saya dan 2 orang sepuh tinggal di tenda, proses melontar kami dibadalkan. Mereka pergi setelah dzuhur.

Sebelum pulang, pimpinan kloter tiba-tiba menyapa kami  dan bilang kami akan baik-baik saja. Ehm? Saya jadi bengong. Memang kenapa ya? Toh kami merasa baik-baik saja selama ini. Setelah mereka semua pergi, kami bercerita banyak tentang hal-hal yang kemarin.. sambil tertawa-tawa dan bersyukur. Semua sudah berlalu.

Keesokan paginya, tanggal 13 Dzulhijjah setelah diberi makan pagi oleh pihak tenda, kami diberi tahu untuk bersiap dan segera pulang ke Mekkah. Kalau tidak salah jam 8 pagi, kami bolak-balik dipanggil untuk berbaris di depan.  Karena hari itu belum melontar, maka diputuskan semua ibu-ibu pulang ke hotel sambil membawa koper para bapak. Lontaran saat Nafar tsani semuanya dibadalkan. Para bapak itu juga pergi dari tenda dan akan bergeser basecamp-nya ke masjid kemudian pulang berjalan kaki ke hotel setelah dari Jamarat. Kami meninggalkan Mina dengan menaiki bis, tiba di hotel jam 10 pagi dan bertemu dengan teman-teman satu kloter.

Iklan