Catatan Haji (5): Persiapan Armina

H-7 sebelum Armina, terdapat diskusi kecil di antara bapak-bapak anggota kelompok mandiri. Hal yang dibicarakan adalah proses untuk melakukan request kepada ketua kloter dan pembimbing haji dari Depag untuk ‘keluar’ dari program pemerintah saat Armina dan membentuk kelompok kecil yang terpisah. Satu keluarga tetangga belakang rumah saya, ibu anak menantu sudah mempersiapkan proses tersebut, mencari info kendaraan, membawa materai, dll karena pasangan suami istri tersebut telah melakukan haji sebelumnya dengan cara yang sama. Sementara pasangan suami istri yang lain akan bergabung ke kelompok travel  yang berasal dari Jakarta Timur selama Armina dengan membayar sejumlah ekstra biaya dimulai dari Indonesia.

Saya tiba-tiba galau. Armina nanti harus bagaimana ya?

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan sebelumnya, ilmu tentang Armina selama manasik seperti tak terbayang buat saya. Prosesi masih bisa dimengerti tapi tetap saja mengawang-awang. Sampai dalam suatu diskusi saat di Madinah dengan teman sekamar yang pernah berhaji menyampaikan adanya perbedaan-perbedaan pelaksanaan dengan tata cara sesuai sunnah nabi dalam berhaji. Karena merasa terlambat belajar, jadinya saya sering menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku manasik yang kami dapatkan sewaktu di Saudi. Sambil bersiap-siap membereskan barang, saya habiskan waktu untuk membaca tata cara berhaji sesuai sunnah nabi milik teman saya dan banyak menemukan pertanyaan mengapa sekarang dilakukan begini mengapa begitu, apa alasan pelaksanaan.. bla bla bla.. tanpa mendapati jawaban yang pasti karena saya lebih memilih menghindari berbantah-bantahan. Searching di google dengan sumber dari Indonesia dan Saudi tetap tidak memuaskan keingintahuan.  Saya berdiskusi  dengan suami, ia memang ingin mengikuti kelompok kecil tetapi malah mengkhawatirkan kondisi saya yang ringkih, takut terjadi apa-apa bila tidak mengikuti jalur pemerintah. Saya keukeuh ingin untuk ikutan tetapi dengan syarat sesuai proses dan tidak ingin ada yang terlewatkan. Kami diskusi lagi dengan seorang bapak anggota jamaah Persis yang kebetulan satu ucapan dengan pembicaraan saya sebelumnya. Mengobrol lebih lanjut dengan jamaah yang juga berminat untuk bergabung dan membicarakan beberapa proses yang kurang sesuai. Salahsatunya saat membaca mengenai memotong hewan saat tanggal 10 dzulhijjah. Lha? Lantas yang kemarin potong kambing di Kakiyah bagaimana? Ini itu dan lain-lain. Meskipun beberapa pendapat rekan mengatakan tidak apa-apa .. akhirnya 4 orang dari kami melakukan pembayaran dam lagi ke bank Ar rajhi, semata-mata ingin semua sesuai dengan apa yang kami yakini saat itu.

Kami mulai menyiapkan pakaian seperlunya untuk 7 hari dan sedikit bekal yang dikemas dalam tas jinjing kecil. Secara pribadi, H-2 saya mengalami cobaan lagi, kembali jatuh sakit. Persis seperti ketika akan memulai umroh wajib. Saya konsumsi berbagai vitamin dan obat tetapi akhirnya tumbang, pasrah saja. H-10 juga saya mulai meminum obat penunda haid karena khawatir tidak dapat melakukan prosesi dengan sempurna. Sayang sekali jika tidak bisa dilakukan secara penuh. Armina yang utama dan bukan perjalanan mudah buat semua orang.

Setelah melalui proses penyaringan keyakinan di antara anggota kelompok mandiri, satu per satu jamaah yang tadinya berjumlah 20 orang, mundur. Salah satunya selain takut ada apa-apa, juga karena diminta extra bayaran oleh pihak mu’asasah yang mengurus jamaah.. akhirnya hanya saya, Lia, Erna, Anne beserta suami masing-masing kemudian ditambah anggota-anggota single, 2 orang bapak dan 2 orang ibu. Total 12 orang dan akhirnya diputuskan untuk bergabung dan membuat surat pernyataan bermaterai yang ditujukan kepada kepala rombongan dan ketua kloter. Sebanyak 7 orang diketahui sudah berniat sejak awal, 5 orang termasuk saya adalah tambahan.

Saat pemberitahuan disampaikan, saat itu pula mulai ada intimidasi verbal dari pihak pengurus yang menyatakan keberatannya atas keputusan kami. Lumayan intens juga karena  saat itu kami dipandang tidak kooperatif dan membuat mereka susah, sehingga pihak pengurus menyatakan tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada kami… bla bla bla sambil menunjukkan wajah tidak suka. Lantas kejadian  itu jadi agak sedikit berpengaruh juga dalam anggota kelompok mandiri kami.. seperti dianggap kelompok pencilan. Dan memang hanya 12 orang saja dari total 42 orang calon haji mandiri dan dari 1 kloter keseluruhan. Kami tutup kuping, memilih diam dan melanjutkan saja, karena berbantah-bantahan akan mengikis amalan. Kami sudah mengajukan statemen berikut tanda tangan dalam surat bermaterai, jadi seharusnya memang tidak perlu dipermasalahkan.

Dulu Lia cerita sewaktu ia berhaji tahun 2008, mereka harus mengurus segala perlengkapan sendiri karena ‘keluar’ dari pemerintah.  Jalan kaki ke Mina dari hotel, membuat tenda sendiri di sekitaran masjid Namirah, mencari makan sendiri, dan lain-lain. Terus terang hal itu membuat saya sedikit deg-degan. Bukan karena takut kelaparan, namun saya sangsi dengan kemampuan fisik saya. Tetapi saat pendataan kemarin, Ramli, pengurus jamaah  wilayah kami yang berasal dari Malaysia memberikan info bahwa jamaah yang akan menginap di Mina lebih dahulu dan melakukan nafar Tsani akan diuruskan akomodasinya dengan membayar tambahan 200 SAR per orang. Kami diminta bersiap tgl 7 Dzulhijjah untuk diantar secara bergiliran oleh bis ke tenda di Mina.  Alhamdulillah, jadi kami tak perlu repot mencari ini itu, karena ternyata di Mina pun banyak orang berjualan makanan. Dan setelah dikumpulkan dari seluruh jamaah yang tinggal di wilayah Raudhoh, terdapat 200 orang yang bergabung.