Catatan Haji (4): Hari-hari di Mekkah

Total hari yang kami habiskan di Mekkah berlangsung selama 32 hari. Kalau boleh flashback, banyak yang saya sesali karena merasa tidak menggunakan waktu dengan semaksimal mungkin untuk beribadah. Sebenarnya saya punya alasan cukup kuat yaitu tidak pernah sehat secara prima. Tapii.. mungkin hal itu terjadi karena salah saya juga yang tidak melatih fisik selama di tanah air (selain dikenal sakit-sakitan).

Saat mengikuti pertemuan  manasik haji oleh Markaz Inayah di Madinah, selain diberi sejumlah buku dan pamphlet untuk menambah pengetahuan, juga ada sejenis buku diari tentang aktivitas haji yang selalu saya sempatkan isi sebagai tantangan ibadah sekaligus kenang-kenangan di kemudian hari. Mungkin gara-gara itu pula jadi terdapat banyak penyesalan karena banyak kolom yang kosong.

Sehari-harinya, di Mekkah kami mendapat makan sebanyak 2x selama 12 hari. Setelah itu, kami masak sendiri atau mencari makanan yang banyak dijual di depan hotel. Saat kami tidak mendapat jatah dari pemerintah, kadang pemilik hotel bersedekah memberi makan besar jamaah satu hotel, rasanya sekitar 3 kali. Alhamdulillah, sang pemilik memberi makan satu kloter. Dijatahi ayam goreng Al baik yang tenar di Saudi atau diberi satu nampan besar nasi kebuli  kambing (kabsah atau briyani? Hihi..ga tau bedanya) dengan cara makan ala Arab. Seringnya sih sang pemilik bersedekah memberi kotak snack di pagi hari. Hotel kami termasuk hotel yang kecil karena hanya diisi satu kloter saja. Tidak ada fasilitas air zam zam gratis atau buah-buahan gratis, atau sekamar berdua seperti hotel tetangga. Tapi semua itu sudah cukup, syukur Alhamdulillah. Sayuran, beras, jajanan, susu, telur, minyak, serta lainnya bisa kami dapatkan di toko kelontong yang berjarak sekitar 200-300 m. Di kamar, kami berempat patungan membeli perlengkapan masak dan bahan-bahan makanan sambil mengeluarkan ransum dari Indonesia.

Bicara tentang kehidupan sosial antar jamaah di kelompok mandiri cukup menenangkan. Meski kadang ada satu dua orang yang nantinya berselisih, tapi tidak di kamar kami. Damai, aman, tentram.. kadang diselingi cekikikan usil (ah.. jadi kangen sama ibu-ibu sekamar). Hampir tidak ada friksi, kalaupun ada sedikit yang kurang berkenan mungkin hanya karena masalah kebiasaan. Hanya saja, secara umum terjadi pengkotakan jamaah berdasarkan kedekatan, sesuatu yang lazim. Beda kebiasaan membuat sesuatu menjadi suka tak suka. Karena jamaah mandiri, kami tidak diharuskan untuk selalu bersama-sama di setiap kegiatan. Siapa mau berbarengan, hayuu… mau tinggal di hotel juga silakan. Berbeda cerita  dengan jamaah dari KBIH tetangga yang dari mulut ke mulut terdengar bersitegang gegara berebut AC, tempat sholat di mushola, ini itu, dan lain-lainnya. Sampai-sampai ada jamaah KBIH yang akhirnya menumpang istirahat di kamar kami sambil curcol bercucuran airmata karena tidak akur dengan teman sekamarnya.

Bicara tentang ibadah, saya baru sanggup ke Haram lagi di saat rombongan berumroh kedua setelah umroh wajib, dengan miqot dari Ji’ronah, kemudian saya terkapar lagi dan keesokannya beristirahat di hotel.  Umroh berkesekian kali biasanya lazim dilakukan oleh jamaah Indonesia dengan banyak alasan dan pertimbangan yang tidak ingin saya debatkan. Setelah itu saya baru mulai bangkit dari peraduan 905 lagi saat jamaah lain umroh dengan miqot Tan’im, sementara saya dan suami memutuskan untuk tidak ikut umroh dan memilih langsung ke Haram. Walaupun sedikit memaksakan diri, saya yakin dengan kondisi tidak maksimal tersebut masih bisa diusahakan thawaf setiap sampai di Haram. Thawaf merupakan ibadah yang lebih diutamakan dibanding yang lainnya. Apabila berkesempatan berada di lantai dasar, saya selalu menikmati arus putaran thawaf penuh manusia tanpa merasa terusik. Meski terasa penuh sesak, aliran itu tetap diikuti dan dinikmati. Berpasrah diri.

Saat-saat thawaf di Ka’bah ternyata sudah tidak lagi selengang beberapa hari lalu, karena jamaah dari berbagai penjuru mulai berdatangan. Akibat cuaca yang cukup panas dan jamaah yang uwel-uwelan di lantai dasar, saya memilih cara aman dengan thawaf di lantai 2 atau 3 meski jaraknya berkali-kali lipat yang memakan waktu sekitar 1 jam ala langkah kaki saya. Saat itu saya juga tak lagi memegang buku panduan Depag, memilih thawaf dengan bacaan-bacaan yang disunnahkan Nabi. Sempat saya kebingungan, mengapa tilawah saya tidak sepesat ketika di Madinah.. ternyata saya baru sadar, jika di masjid hanya sempat membaca beberapa halaman saja.

Karena tinggal di lokasi dengan jarak yang cukup jauh, jamaah kami sebenarnya diwanti-wanti petugas depag dan tim kesehatan untuk menjaga diri dan tidak memforsir untuk bolak-balik ke Haram, shalat 5 waktu.  Karena sadar diri pula, saya pun tidak pernah bisa begadang seharian di masjid. Jika berangkat jam 2 pagi, saya pulang ke hotel sekitar jam 8 pagi. Jika berangkat jam 2 siang, kadang saya bertahan hingga Isya dan sampai di hotel jam 9.30 malam, tetapi seringnya sih saya pulang setelah Magrib untuk menghemat tenaga. Kebetulan di belakang hotel juga terdapat masjid, tetapi sayangnya sampai pulang saya tidak pernah berkunjung ke sana.  Hanya shalat di mushola hotel atau di kamar.

Sekedar catatan,  saya tidak pernah sehat wal afiat selama di Mekkah. Flu berat bertahan lama hampir sekitar 10 hari. Setelah flu berkurang disambung dengan batuk tak henti-henti. Rupanya memang benar istilah yang mengatakan bahwa yang tidak pernah mengalami batuk pilek selama musim haji hanya unta dan tiang listrik. Entah sudah berapa banyak obat batuk haji (sebutan untuk OBH herbal yang disediakan tim kesehatan) yang sudah saya konsumsi, lebih dari 4 botol. Tapi rasanya batuk saya tidak terlalu ganas sampai menghilangkan suara. Hanya saja saat berjamaah di mushola biasanya batuk kami jadi bersahut-sahutan tak henti-henti. Batuk menjadi sedikit reda menjelang seminggu sebelum Armina, tetapi mulai flu lagi saat kami memulai Armina. Di antara 4 orang dalam satu kamar, cuma saya si ‘anak muda’ yang sakit-sakitan. Sisanya ibu-ibu yang lebih sepuh itu (kisaran usia 46-63  tahun) Alhamdulillah lebih sehat. Bahkan ada yang tetap prima sampai pulang dan baru batuk pilek setelah tiba di Indonesia. Saya keok.

Meski kondisi tidak fit, kehidupan di Mekkah buat saya sangat menentramkan hati. Rasanya ingin sekali lebih lama berada di sana karena terbebas dari  urusan duniawi, terutama tugas kantor. Saya memang tidak punya hasrat untuk berbelanja, jalan-jalan, bereksplorasi dan lain-lain. Entahlah, mungkin karena di Madinah sudah terlalu banyak belanja dan sudah berjanji untuk fokus di Mekkah. Hasrat traveling sudah sama sekali dilupakan karena memang bukan waktu yang pantas atau tepat, dan juga mungkin karena tiba-tiba jadi takut bergerak, merasa tidak pantas, takut kesasar..apalagi bila bepergian sendiri.

Tapi setiap akan berangkat ke Haram naik bis, biasanya saya berangkat dengan teman sekamar atau berangkat berbarengan suami lalu pulang sendiri. Mungkin karena ritme kami berbeda dan saya tidak mau mengganggu ibadahnya.. atau mungkin juga karena tidak mau terlibat perselisihan suami istri karena saling menunggu yang lazim terjadi. Dengan kelompok juga, bila waktunya tidak pas biasanya saya minta ditinggal saja, karena seringnya kami berbeda keinginan dan saya merasa lebih nyaman sendiri. Mereka juga sangat mengerti dan percaya bahwa saya bisa pulang sendiri karena mereka tahu saya sering bepergian. Saya dan suami juga jarang bertemu. Alasannya, pertama.. karena beda ritme jadwal  ibadah, kedua.. kami memang biasanya irit bicara, hihi.. ketiga.. hape saya mati sejak di Madinah. Sehingga komunikasi jadi cukup terbatas dan hanya dilakukan dari hati ke hati, saling percaya. Habis mau bagaimana?

Sebenarnya saat jiwa kelayapan saya muncul, terbersit juga rasa ingin bereksplorasi naik bis dengan jurusan berbeda untuk melihat situasi kota Mekkah. Tapi keinginan itu hanya sekedar keinginan saja dan dilupakan. Malah suami yang akhirnya sempat nyasar karena salah naik jurusan bis. Jadi jangan tanya apakah saya pernah ke mesjid Jin, Ma’la, pasar Jaafaria, atau bahkan keliling Zamzam tower? Jawabannya hanya sebatas lewat saja, paling banter pergi ke Bin Dawood Zamzam Tower sebanyak 2 kali. Di sana, saya benar-benar merasa tidak nyaman untuk bepergian bila bukan ke Haram.

Saat di Mekkah, kami sempat mengalami hujan lebat 3 kali. Haru sekali melihat hujan turun, tetapi saat disertai badai pasir suasana sedikit mencekam. Teringat pengalaman tahun lalu saat terjadi kecelakaan  crane yang menimpa jamaah haji di Haram, tak terbayang seperti apa kondisinya saat itu. Biasanya hujan tidak terlalu lama tapi terasa deras. Badai pasir biasanya menerbangkan pakaian-pakaian yang dijemur di balkon atau lantai 13 di paling atas hotel.

a

Waktu berjalan tanpa terasa, hingga kami dihadapkan pada hari-hari menjelang puncak ibadah haji. Bis sholawat mulai dihentikan untuk beroperasi  3 hari sebelum waktu Armina untuk mempersiapkan jamaah agar tetap fit. Sebelumnya saya tidak selalu pergi bersamaan, tetapi sejak tanggal 3-5 September, saya bersama suami menyempatkan diri untuk pergi berbarengan sebelum kami bersiap Armina. Menikmati hari-hari penuh haru karena waktu telah berlalu. Saya jadi lebih sentimentil, memandangi Ka’bah dari lantai paling atas dengan tetesan air mata. Terakhir kali sebelum Armina, saya pergi bersama teman sekamar ke Haram menjelang Subuh pada tanggal 6 September 2016. Setelah dzuhur, bis tidak lagi dioperasikan. Bagi kami-kami yang bertempat tinggal jauh dari Haram, bis sholawat  merupakan suatu sarana yang paling krusial. Rasanya pemerintah memang sengaja menyetop waktu operasional bis agar jamaah lebih fokus untuk kegiatan Armina. Seminggu sebelum hari H, saya mulai merasakan kebimbangan tentang bagaimana Armina sesungguhnya karena menemukan banyak perbedaan, apakah ikut rombongan sesuai jadwal pemerintah atau melaksanakan tarwiyah.

Iklan

One thought on “Catatan Haji (4): Hari-hari di Mekkah

  1. ….melatih fisik selama di tanah air….. Point ini menjadi salah satu persiapan penting buat calon jamaah Haji ya Jeng. bersyukur secara keseluruhan ibadah terlaksana lancar yaak. Salam sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s