Catatan Haji (3) : Ke Mekkah

Setelah menghabiskan waktu 8 hari di Madinah, akhirnya kami dijadwalkan untuk pindah ke Mekkah. Koper jamaah telah disiapkan di lobby hotel sejak malam hari dan bersiap menunggu keberangkatan dengan bis pada jam 11 siang. Berat rasanya meninggalkan Madinah, tetapi hari itu kami akan menunaikan ibadah umroh karena mengambil haji tamattu.

Hari itu 20 Agustus 2016, para jamaah mempersiapkan diri untuk umroh sejak sebelum keberangkatan dengan memakai kain ihram. Sepanjang jalan, jamaah bertalbiyah sambil disuguhi pemandangan khas gurun dan daerah bebatuan. Di tengah perjalanan, kami masuk dalam suatu terminal dimana tiap jamaah disuguhi kotak makanan kecil oleh pemerintah Saudi. Larangan-larangan berlaku saat kami berniat ihrom di Bir Ali. Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam, akhirnya kami tiba jam 4 sore di suatu hotel berlantai 13 di distrik Raudhah –sekitar 2,75 km dari Masjidil Haram, dimana kami harus menggunakan bis angkutan jamaah bernomor 9 jurusan Raudhoh-Terminal Syib Amir yang dikenal dengan sebutan bis sholawat. Hotel nyaman tersebut, Rawdah Al Tawhed hanya khusus untuk jamaah kloter kami yang terdiri dari 9 bis. Kami jamaah mandiri, kelompok 9.

Setelah pembagian kamar dan pengambilan koper dilakukan, kami diberi pengarahan oleh ketua kloter dan disarankan untuk beristirahat karena umroh akan dilakukan jam 10 malam. Ada sedikit insiden dimana dua jamaah mandiri, satu jamaah lelaki  dan satu jamaah perempuan usia lanjut ternyata tidak terdaftar dalam jadwal rombongan. Akhirnya jamaah perempuan tersebut diikutkan dalam kamar dokter kloter, sementara jamaah lelaki  ditempatkan di lantai 12 dimana ia hanya seorang diri di kamar. Saya kembali berempat dengan ibu-ibu yang dulu sekamar di Madinah di sebuah kamar penuh memori, 905. Penempatan kamar sesuai  urutan daftar jamaah dan perpindahan dilakukan berdasarkan kesepakatan pribadi.

Menjelang waktu umroh, kami diberi pilihan apakah akan ikut jamaah yang pernah haji terlebih dahulu dengan jadwal lebih awal, selepas magrib dari hotel atau ikut serta rombongan jamaah mandiri yang nantinya dipimpin oleh karom, pembimbing kloter dan muthawwif jam 10 malam. Semenjak dari Madinah, saya sudah mulai merasa tidak enak badan, tenggorokan mulai sakit, bersin sepanjang dari Bir Ali dan tiba-tiba batuk dan flu. Saya memilih yang ikut pergi bersama kelompok agar bisa istirahat lebih dulu.

Rasa deg-degan mengawali perjalanan kami. Terharu, senang, kegirangan bercampur aduk. Memori saya kembali setelah 8 tahun kemudian. Banyak sekali perubahan di sana sini dan saya sempat kebingungan pula. Mengingat alur masuk kami yang berbeda 180o dibanding yang terdahulu, di jalur haji ini kami bermula dari terminal Syib Amir berjalan masuk dari arah pintu Marwah atau kadang dari  Babussalam.

Prosesi ibadah umroh dimulai dengan penuh rasa. Kami ikut serta thawaf mengelilingi Ka’bah dipimpin muthawwif sambil membaca rangkaian doa-doa pada buku haji yang biasa dikalungkan jamaah Indonesia, kemudian shalat 2 rakaat di belakang maqom Ibrahim, minum air zam zam, dilanjutkan dengan sa’i dari Shafa ke Marwah, kemudian tahallul. Meskipun tubuh terasa lelah dan mengantuk, penuh syukur kami rasakan umroh kali ini berakhir, walau rasanya banyak yang tidak sempurna terutama untuk saya pribadi karena kelalaian dan ketidaktahuan diri.

Kami kembali ke hotel  jam 2 pagi, lalu saya menyempatkan untuk mengisi perut seadanya di kamar karena sudah kadung merasa tidak enak badan sejak berangkat dari Madinah. Dan benar saja, mulai keesokan harinya kepala terasa sangat sakit jika diangkat atau melakukan gerakan shalat seperti sujud dan ruku. Saya  flu berat dengan perasaan seperti berputar-putar bila sedikit saja menggerakkan badan. Suatu hal yang tidak pernah saya duga, dan juga dengan polosnya tidak terpikir di benak saya untuk membawa obat pilek karena merasa sudah aman dengan mendapatkan imunisasi HiB dari Indonesia.

Pada saat teman-teman jamaah sudah mulai bolak-balik ke Haram, saya  masih terkapar manis di kamar hotel 905. Dua hari kemudian saya memaksakan bangun karena kelompok kami akan pergi ke lokasi pasar kambing untuk melihat penyembelihan dam karena kemarin sudah terlanjur membayar 500 SAR di Madinah dan dijadwalkan untuk umroh tambahan sebanyak 2x, dimana waktunya berselang di hari-hari kemudian yaitu dari mesjid Ji’ronah dan mesjid Tan’im. Pada saat itu saya masih mengikuti umroh kedua dari Ji’ronah bersama 75% dari total rombongan kami, kemudian setelahnya memutuskan untuk masuk ke kelompok 25% untuk proses ibadah berikutnya.

Iklan

2 thoughts on “Catatan Haji (3) : Ke Mekkah

  1. Senang sekali bisa kembali menikmati catatan mama Hilsya. Diberi kesempatan merasakan sakit saat ibadah yg didamba ya Jeng dan semuanya boleh lancar. Salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s