Catatan Haji (1)

 

img-20160905-wa0009Note : sebuah pengalaman yang dipandang dari visi pribadi untuk dokumentasi pribadi..

Keputusan untuk memantapkan diri menunaikan ibadah haji diawali dengan mengajukan berkas pendaftaran dan melunasi biaya haji di minggu ke 4 bulan Januari 2011. Sejujurnya kami tak punya cukup dana untuk pergi berdua, jadi saat itu hanya suami yang mengajukan permohonan porsi haji melalui bank Muamalat. Alhamdulillah, atasan saya berbaik hati meminjamkan hartanya sehingga saya akhirnya bisa ikut serta mendaftar di beberapa hari berikutnya.  Keputusan inilah yang saya syukuri di akhir perjalanan haji kemarin.  Entah bagaimana ceritanya jika saya pribadi berangkat sendiri. Alhamdulillah lagi, dengan segala keterbatasan pendapatan pada saat itu akhirnya pinjaman tesebut dapat dikembalikan 10 bulan kemudian. Dokumen dipersiapkan dan disimpan rapi sampai menjelang keberangkatan. Awalnya porsi keberangkatan kami di tahun 2015. Waktu itu tidak ada teman ataupun keluarga dekat yang mengetahui perencanaan ini, kecuali atasan saya. Dalam pikiran saya,keputusan ini murni karena segala jalannya dimudahkan Allah.Saya pribadi menetapkan hati karena masalah fisik yang kurang baik. Diam-diam, siap tidak siap tetap harus dilakukan. Bismillah.

Pengecekan jadwal keberangkatan dapat dilihat di situs resmi Kemenag. Akhirnya kami dijadwalkan mundur dari 2015 dan berangkat di sesi 2016, berpisah dengan atasan saya. Melalui pengalaman beliau, akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti program haji mandiri yang diselenggarakan oleh Kemenag dan difasilitasi oleh KUA setempat. Alasan pada waktu itu simpel, tidak punya dana untuk ikut KBIH (sekitar 3-4 juta untuk regular), masih relatif muda, biasa kelayapan, sepertinya sanggup mandiri karena kami mungkin akan lebih mudah beradaptasi di negeri orang “suatu perasaan yang selalu saya tekan mati-matian karena takut riya’ dan berimbas di sana”. Lalu nantinya ditambah dengan Alhamdulillah.. fasilitas hotel dan bis di tanah suci sama dengan yang lain, lalu uang saku kami utuh dan tidak perlu dipotong oleh yayasan, senang bisa bebas beribadah tanpa harus ikut jadwal rombongan, dan lain-lain. Meskipun ada banyak hal yang tidak kami dapatkan sebanyak KBIH seperti koordinasi dengan jamaah atau jadwal manasik lengkap. Jadi jika ingin berhaji mandiri, ilmu manasik harus dipersiapkan semaksimal mungkin dengan belajar sebanyak-banyaknya “satu hal yang saya sesali ; kurang ilmu”.

Ketika teman satu kantor yang bergabung dengan KBIH sudah mulai ikut manasik sejak Januari, sampai bulan Mei belum ada berita apapun tentang haji mandiri. Kebetulan pada tahun ini, dari unit kantor kami ada 6 orang yang berangkat bersamaan. Berdasarkan info ini itu dari teman saya, kami melapor ke KUA setempat,  membawa dokumen tahun 2011. Dari situ peran proaktif calhaj untuk menyiapkan diri secara mandiri dimulai. Ketika berita biaya haji sudah diumumkan pemerintah, maka sisa biaya segera dilunasi, total tahun ini sekitar 34 jutaan. Kemudian dilanjut dengan mendaftar ke Kemenag  setempat, menyerahkan paspor plus tambahan foto untuk membuat visa. Biaya pembuatan paspor baik yang baru maupun yang lama tahun ini diganti semua. Alhamdulillah, karena tahun lalu katanya (tolong dikonfirmasi ya..) hal ini tidak berlaku untuk paspor yang dibuat pada waktu sebelum tahun keberangkatan.  Selain itu kami menyiapkan dokumen kesehatan untuk mendapatkan buku kesehatan berwarna kuning, melapor ke Puskesmas terdekat, melakukan tes kesehatan (ada yang membayar :  rontgen, EKG, imunisasi flu HiB, ada juga yang gratis : tes darah, urin, vaksin meningitis). Semua kegiatan tersebut dijadwalkan secara resmi.

Manasik dari KUA setempat baru dimulai sejak selesai Ramadhan. Jadwal digeber, Sabtu Minggu full day dengan pelbagai materi. Di sini akhirnya kami bertemu teman-teman serombongan, total 41 orang. Dari rombongan tersebut dipilih seorang ketua rombongan (Karom), lalu sisanya dibagi menjadi 4 kelompok dan tiap kelompok dipilih seorang ketua regu (KaRu) yang pergi sendiri atau sudah berpengalaman. KaRu bertanggung jawab atas aktifitas para anggota jamaah. Para KaRu dan KaRom menjadi tangan kanan ketua Kloter selama kegiatan.  Mereka bertugas memandu calhaj, mengkoordinasi pembagian koper, buku panduan dan dokumen penting lainnya, serta tugas printilan lain seperti pengumpulan dana kegiatan, penyeragaman koper dan aksesoris kelompok, dan sebagainya. Di awal persiapan, kami dipungut @Rp 500 ribu untuk kegiatan ibadah haji di Indonesia, yang nantinya menjelang kepulangan dikembalikan sebesar 300ribu kepada tiap jamaah. Alhamdulillah.

Jadwal kami, kloter 5 gelombang I. Berangkat tanggal 10 Agustus 2016. Bahan seragam  bisa diperoleh dari bank masing-masing, biasanya diberi bonus tas kecil, payung, mukena oleh bank. Menjelang hari H, koper yang diberi tanda dan tali mulai dikirim ke KUA. Di sini kegalauan mulai menghampiri.  Apa saja yang harus disiapkan? Pakaian, makanan.. Perlukah membawa ini itu dan lain-lainnya? Tahun 2016, jamaah mendapat full makanan di Madinah, dan saat Armina. Di Mekkah hanya 24 x dengan menu yang telah ditetapkan. Dari total maksimal koper 32 kg, isi koper saya sudah 26 kg.. hehe. Saltum, kebanyakan membawa baju sponsor, membawa beras 5 kg, mie instan, sedikit bumbu, minuman sachet.. pokoknya gitu deh! Sibuk dengan urusan dunia, bekal untuk ibadah malah jadi keteteran. Kalau boleh jujur, saat itu saya tidak memahami 100% kegiatan haji sesungguhnya, Armina. Bolak-balik membaca panduan, karena tak terbayang jadi sedikit membingungkan. Akhirnya Bismillah, mohon pertolongan dari Allah agar kegiatan ibadah kami menjadi mudah dan lancar.Pasrah.

H-1, kloter kami dilepas oleh Bupati setempat. Sebanyak 9 bus beriringan menuju Asrama Haji Pondok Gede. Di sana kami dibagikan uang saku 1500 SR, uang paspor, gelang ID, gelang kesehatan, obat-obatan beserta dokumen haji  lainnya sambil dilakukan pemeriksaan kesehatan akhir. Pembagian hotel dan wilayah di Tanah Suci bisa diakses dari aplikasi Manasik Haji yang bisa diunduh di HP. Kami diinapkan sehari, untuk diberangkatkan keesokan harinya ke Madinah jam 15.45 WIB. Setelah acara pelepasan di Asrama Haji, kami diantar ke Halim. Bismillah, kami berangkat. Labaik Allahumma labaik.

Ada beberapa poin yang saya lakukan yang akhirnya jadi sedikit mubadzir . Karena tidak punya pengalaman dan tidak percaya diri, akhirnya jadi ikut mudah terbujuk rayu membeli barang-barang yang tidak terpakai di Tanah Suci. Kalau untuk saya misalnya tisu mandi sekali pakai dan tempat pipis portable (hayo gimana pakenya coba?) untuk Armina. Harganya lumayan dan masih ada sampai sekarang. Penggantian tali tas slempang juga tidak berpengaruh. Memang sih, ada beberapa tas yang kualitas talinya kurang kuat. Tetapi di Tanah Suci, saya memakai ransel gendong yang lebih simpel. Tas slempang disimpan begitu saja. Sebenarnya ketika mengobrol dengan abang-abang tukang ganti tali, mereka dipatok untuk menjual jasanya @20 ribu per pemasangan. Jasa lewat koperasi asrama dan mereka bertugas membersihkan asrama dengan pemasukan dari hasil tersebut. Hikmahnya mungkin berbagi rejeki. Penukaran mata uang juga mungkin tidak harus semua di Indonesia,  bisa dilakukan di Madinah dengan nilai tukar yang lebih bagus. Tapi biasa deh ya.. saya juga termasuk salah satu yang heboh berburu uang SR.

Iklan

7 thoughts on “Catatan Haji (1)

  1. Mbaaaakkkk…. aku baru baca. Alhamdulillah, selamat yah mbak. Ikut seneng dengernya. Dan baca tulisan ini jadi tahu soal haji mandiri, kirain semua yang berangkat harus ada agennya. Duh, betapa minimnya pengetahuanku nihh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s