Hari istimewa?

Sejak kelas selesai, saya kembali berkutat menyelesaikan sisa pekerjaan di sesi kimia yang notabene butuh tenaga kuli. Di depan gedung kami saat ini sedang ada konstruksi pembangunan BTS ke arah Rangsit, melewati bandara Don Mueang. Kadang dari kaca jendela saya suka tersenyum-senyum sendiri melihat pekerjaan saya tak jauh beda dengan mereka di luar sana. Setelah membereskan preparasi dengan parameter organik dan menyerahkan urusan alat kepada supervisor, hari Kamis minggu lalu saya beralih ke peralatan canggih lain untuk parameter logam. Berhubung waktu terbatas, supervisor lain membantu saya mengoperasikan alat nan mahal itu. Kalau waktu di lab panjang, mungkin saya bakalan dibiarkan mengoperasikan sendiri. Beruntung ada fasilitas autosampler, jadi kami tak terlalu sibuk di depan alat. Sayangnya, karena jumlah autosampler sekitar 80 buah, maka penggantian sampel harus dilakukan pada waktu yang ditentukan. Hitung punya hitung, sekitar jam 9 malam baru bisa saya ganti. Saya memutuskan untuk tetap di dalam lab di lantai 2 sampai sekitar jam 8 malam. Tak ada hal penting yang saya kerjakan. Sudah capek luar biasa karena kelaparan, bolak-balik naik turun ke lantai dasar, dan berkutat dengan asam pekat. Saya memilih bermain game, haha..

Tapi lama kelamaan, saya dihantui rasa lain karena di lantai 2 semua lampu sudah dimatikan. Pikiran-pikiran iseng mulai berdatangan, lalu akhirnya memutuskan untuk kabur dan nongkrong di ruangan alat saja. Di lantai yang sama, masih ada beberapa orang penjaga malam yang sedang mengobrol. Meski beda ruangan, tapi masih terasa ramai. Sambil chatting dengan suami dan seorang teman di Ina, saya mengkalkulasi ulang waktu yang diperlukan untuk menyimpan semua sampel baru. Ternyata semuanya baru selesai jam 10.50 malam dan sampai di kamar jam 11 sambil melayang. Saya tak sadar kalau hari itu malam Jumat tanggal 13 *ga ada hubungannya sih*

Setelah sukses menemani pak satpam dan baru bisa tidur jam 1 pagi, hari Jumatnya saya datang ke lab jam 10 dan diberi kabar ‘gembira’. Gas Argon yang tabungnya gagah perkasa itu habis jam 2 pagi. Secara teori, harusnya semua sampel saya sudah terukur, namun apa daya 1 jam setelah saya pulang, pengukuran mulai tak konsisten dan harus diulang. Saya tersenyum manis. Pasrah. Lebih pasrah lagi ketika ulangan pekerjaan baru bisa dilakukan tanggal 24 besok. Yang membuat kaget adalah ketika saya baru ngeh jika ujian tulis terakhir saya diadakan sore hari tanggal 18. Hwaaaa…. ini yang bikin panik.

Berhubung sudah mual dengan perbiomolekuran luar biasa, saya cuek saja. Baca seperlunya, sebisanya. Sudah cukup rasanya. Karena tidak enak badan, alih-alih membaca yang ada saya malah banyak istirahat. Berita hilangnya pesawat MAS malah akhirnya lebih menyedot niat membaca saya. Lebih seru! Karena cuaca kali ini sangat tidak nyaman dan sudah memasuki musim panas, tiap malam saya menyalakan AC *padahal aslinya anti AC*. Walhasil, hari Senin sebelum ujian, saya tak bisa mengangkat leher dan pundak. Berat rasanya. Saat ujianpun badan masih terasa sangat tidak nyaman. Tidak bisa menoleh, jika batuk atau tertawa leher terasa sakit. Aih, alamat tidak sukses ini.

Sebenarnya ujian terakhir ini bisa dibilang gampang. Saya sudah banyak melewati pertanyaan-pertanyaan sulit sebelumnya. Saya kira soal yang diberikan oleh professor dari luar negeri jauh lebih sederhana, dengan syarat jika kita membaca materi hand out lantas hapal luar kepala.. heuu. Inginnya sih berjalan mulus, tapi bukan saya namanya jika tak melakukan kekonyolan saat mengisi jawaban.¬† Mendadak saya tidak ingat, lupa selupa-lupanya pertanyaan simpel tentang kepanjangan dari apa PCR itu, haha… Poly.. apa Chain Reaction gitu *sungkem Ajarn, langsung ngepak barang buat kabur*. Malu-maluin!

Tapi setelah selesai ujian itu terasa lega sih, beban berkurang satu. Hasil seperti biasa tak perlu dilihat. Pikiran saya disibukkan dengan urusan riset dan pengetikan yang belum kelar juga. Dengan tertundanya proses analisis, otomatis saya tak bisa tepat waktu. Lalu beberapa data yang sudah direkap ternyata terlihat ajaib. Setelah bingung urusan pekerjaan, keluar data ternyata masih membuat bingung juga. Biasa itu ya? Lantas sang laptop juga turut berbuat ulah, tiba-tiba not responding dalam waktu lama atau malah tak bisa distart sampai membuat ketar-ketir. Padahal saya gaptek soal komputer. Koneksi internet di zona kamar juga lambat. Saat entri dan kalkulasi data sampai lewat tengah malam, esoknya file itu hilang. Hwaa… sabar! Ditambah lagi-lagi urusan leher yang masih berkepanjangan membuat saya akhirnya pasrah minta dikerok, tapi tak berhasil. Paginya diberi pinjaman balsem neotica yang panasnya melebihi count*rpain dan menyebarkan aroma nenek-nenek di sepanjang ruangan. Walhasil sampai hari ini saya masih merasa nyeri secara fisik dan panik¬† secara psikologis.

Jadi begitulah hari-hari istimewa berlalu. Tidak ada yang spesial. Hanya kiriman foto kue-kue enak dan nasi tumpeng. Cuma foto. Saya hanya membuat nasi liwet abal-abal yang dilahap dengan sambal. Meski mengkhianati janji untuk tidak terlalu banyak curcol tapi sengaja didokumentasikan, supaya saya bisa mengingat apa saja yang terjadi. Hidup memang penuh perjuangan dan butuh proses panjang. Masih tetap harus semangat, masih ada waktu 2 bulan lagi. Meski bukan pekerjaan mudah tapi Insya Allah bisa.

Salam kegerahan dari Laksi.