Phitsanulok : masih ingin kembali

Memang sih cerita ini berasa basi, karena saya sudah kembali ke alam realita sejak tanggal 5 lalu. Cerita tentang kota kecil di Thailand tengah bernama Phitsanulok masih akan saya lanjutkan. Memorial sekali.

Meski hanya tinggal semalam dan langsung kembali ke Bangkok pada penerbangan pertama. Kota ini tetap berkesan. Tidak seperti kota destinasi turis lainnya, di Phitsanulok agak sulit bagi para pendatang untuk berinteraksi, tapi tetap saja masih bisa diatasi. Seperti yang saya sebut di postingan sebelumnya, agak susah kalau kita tak bisa berbahasa Thai. Wong mengerti sedikit saja, dijamin terbengong-bengong. Jadi hanya bahasa tubuh dan dari hati ke hati yang akhirnya bisa menjembatani.

Kota ini dianugerahi berbagai pemandangan pegunungan yang indah di sekitarnya. Sebenarnya para turis yang tiba di Phitsanulok hanya menjadikan kota ini sebagai tempat transit sebelum mencapai Sukhothai *huhu.. belum kesampaian, sementara teman-teman kemarin akhirnya berhasil juga tiba di sana*.

Transportasi dalam kota berupa song taew dan bis. Taksi diperoleh on call via hotel. Dari kota ke bandara dipatok 150 baht, sudah pasti. Ke tempat lain, nego. Jangan sangka kotanya luas. Yang jelas masih bisa dijelajahi seharian. Jangan jalan kaki, remuk redam nanti *nyari balsem*.

Nah, dalam perjalanan on the way menuju hotel dari bandara kemarin, saya mengamati situasi. Setelah kebanyakan melihat peta via google map, akhirnya saya jadi ngeh lokasi-lokasi familiar saat memilih bookingan hotel ataupun atraksi-atraksi wisata. Ketika melaju dari terminal bis menuju stasiun kereta, tiba-tiba saya melihat logo halal dan masjid besar. Waah, senangnyaAlhamdulillah.

1

Gambar ini saya ambil dari web The Central of Islamic Council of Thailand (CICOT), karena tak berhasil mengabadikan masjid dalam keadaan terang. Saya tiba dari Phu Hin Rong Kla pas menjelang adzan Maghrib berkumandang dan minta diturunkan di mesjid, supaya sehabis shalat bisa sekaligus menjelajah wiskul halal di area ini. Mesjid ini disebut mesjid Pakistan, dan kebanyakan orang-orang Pakistan dan Bangladesh yang sempat kami temui. Sempat pula bercakap-cakap dalam bahasa Melayu dengan seorang guru mengaji wanita bercadar yang berasal dari Yala.

Dari posisi pengambilan gambar ini, satu jajar berdekatan dengan rel kereta dan beberapa meter ke arah kanan adalah stasiun Phitsanulok. Pas bertetangga dengan mesjid ini ada beberapa toko perlengkapan muslim, lalu sebuah toko kelontong, dan dilanjut dengan jajaran warung makan yang berada di alur intersection. Masih satu blok dengan mesjid, terdapat Princess Green Hotel yang bersebrangan dengan kedai martabak halal di Phra Ong Dam Road. Bingung dengan penjelasannya? Sama, hehe..

UntitledUntitled

Tapi saya tidak menginap di Princess Green. Pilihan jatuh ke Amarin Nakorn hotel yang letaknya di Chao Phraya Rd, berdekatan dengan night bazaar yang biasa-biasa saja dan sungai Nan. Kalau di peta di atas arah hotel saya ke kiri dan lumayan jauh kalau jalan kaki. Kemarin kami sempat menjelajah P1 guesthouse yang terkenal untuk turis manca dan melanjutkan jalan-jalan ke pasar malam yang lebih ramai, banyak makanan halal juga. Alhamdulillah, jajan lagi #eh?

Ketika sudah gemetaran akibat kebanyakan jalan sehabis trekking dan menyusuri Phra Ong Dam Road,  di setengah jalan kami menyetop tuk-tuk. Langka sekali alat transportasi ini. Sang driver mematok harga 60 baht untuk berlima, dan kami setuju. Ternyata begitu melaju, lumayan juga. Mungkin 1 km lagi. Sampai di hotel, saya mencharge batere kamera sebentar, menikmati lampu di jembatan yang membelah kota dan kembali lagi di esok pagi hari yang sepi.

????????????????????Hanya sebentar berjalan-jalan di sekitar hotel karena saya harus segera kembali ke Bangkok. Lagipun tak banyak juga yang bisa didokumentasikan. Lupakan saja aneka temple itu. Perjalanan dari hotel ke bandara hanya sekitar 20 menit. Selamat tinggal Phitsanulok.. Saya kembali ke kelas dulu ya!

??????????

23 thoughts on “Phitsanulok : masih ingin kembali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s