Krabi : kembali lagi

Satu-satunya kota yang paling saya sukai di Thailand ternyata belum beranjak dari Krabi. Setelah awal tahun lalu saya solo traveling ke Krabi, kali ini saya jadi guide adik-adik yang ngebet ingin ke Phi Phi islands. Sebenarnya saya tak terlalu bersemangat untuk pergi ke sana, namun belum sah rasanya untuk menilai apakah layak untuk dikunjungi atau tidak jika belum menikmati  sendiri.

Kepergian kali ini mengalami banyak rintangan. Pertama, jadwal trip kali ini berbenturan dengan 50 % ujian tulis. Hari Senin pagi kembali ke Bangkok, hari Selasa pagi ujian dimulai. Jangan ditanya hasilnya bagaimana. Tak perlu dibahas lagi, haha. Kedua, teman satu lagi yang baru selesai thesis defense terpaksa harus membeli tiket ulang dengan harga berlipat karena ada janji dengan advisor di hari Jum’at pagi. Jadilah lagi-lagi saya berangkat sendiri ke Krabi untuk kedua kalinya. Tentu saja didukung niat mulia membawa paper bahan ujian, yang berakhir dengan drama kehujanan.

Ketiga, ternyata saya datang lagi di saat musim hujan. Hari Kamis malam, bandara diguyur gerimis mengundang, tapi saya tiba dengan selamat di guesthouse murah meriah dekat pangkalan bis airport di Krabi Town. PN Guesthouse ternyata hanya berjarak tidak lebih dari 60 langkah. Pilihan guesthouse ini diambil untuk mempermudah teman yang rencananya akan solo traveling dan menyusul kami. Ternyata malah saya yang duluan datang. Sendiri, dingin, hujan deras semalaman sampai pagi, plus harus ujian pula. Ditambah, kamdig Sony andalan saya tiba-tiba mogok beroperasi. Walah-walah, mengulang kejadian Krabi seperti pertama kali rupanya. Saya tersenyum kecut, kkk.. Lengkap sudah penderitaan.

Tapi sudahlah, mari kita nikmati saja!

Hari Jum’at saya mengambil paket join tour untuk keliling Krabi tanpa ke pulau. Jadilah kunjungan tak jelas ke Tiger Cave temple, Emerald pool, dan hot stream sebesar 900 baht yang ternyata tak sepadan dengan semua keadaan, saya jalani.  Sempat bete juga, kok rasanya mahal sekali ya jika dibandingkan dengan turis lokal yang cukup membayar 400 baht. Arrgh! Dijemput van  yang berisi banyak turis bule jam 9.30, kami menuju Tiger Cave temple atau Wat Thumsua.

Tiba di tempat, hujan masih setia menemani. Para turis bule bergegas mendaki 1237 anak tangga untuk menuju wat di atas bukit. Saya? Tidak, terima kasih. Baru saja latihan mendaki sekitar 50 langkah, kaki rasanya mulai bergetar. Akhirnya, kembali turun dan menunggu di parkiran sambil jajan dan jeprat-jepret tak jelas dengan kamera pinjaman. Bingung juga sebenarnya, ada apa di sini?

wat thumsua1wat thumsuaRupanya di wat ini dahulu kala terlihat harimau yang mengintip di balik bukit yang saat ini dijadikan tempat wisata. Lokasi itu diberi kerangkeng, diberi sedikit catatan, dan penuh dengan sesajen.

Rombongan diberi waktu sampai jam 11 sebelum nantinya dijemput van untuk pergi ke Emerald Pool atu Sa Morakot. Sebelum tiba di kolam yang dimaksud, kami makan siang di warung terdekat. Menu halal, katanya. Hujan malah semakin deras. Waduh, benar-benar diiringi background music di bawah payung hitam ala Iis Dahlia deh judulnya. Masuk ke kawasan national park, membayar 200 baht (sudah termasuk dalam paket) lalu berjalan sekitar 800 m. Kolamnya bagaimana?

sa morakot1sa morakotMelihat kolam ini berasa di situ Ciburial dulu jaman saya SD SMP masih suka mencebur ke kolam. Lokasinya lumayan licin, jadi kita harus hati-hati. Sempat berjalan untuk menuju Blue Pool yang berjarak 1 km dari tempat ini, namun baru setengah jalan saya balik kanan. Keder rasanya. Meski di atas jalanan bersemen, berjalan kaki sendiri di tengah hutan di saat gerimis rasanya membuat bulu kuduk berdiri. Akhirnya saya memilih kembali ke warung makan semula dan mengobrol dengan para bule-bule. Rupanya kami sepakat bahwa perjalanan kali ini mengecewakan. Tidak ada yang bisa dilihat karena hujan tak berhenti turun. Tapi kami setuju bahwa kita tak mungkin memutuskan bagus atau tidak jika belum mengalami sendiri.

Tambahan senyum kecut diperlengkap dengan penjelasan bahwa hot stream alias Khlong Thom Namtok Ron di destinasi berikutnya ternyata tak bisa dinikmati sebagaimana biasanya. Hujan berhari-hari membuat kawasan menjadi banjir. Masuk taman wisata ini membayar seharga 90 baht (sudah dalam paket). Alih-alih berasa di sumber mata air panas, ternyata bak disuguhi genangan banjir. Asli, haha..

100_5667100_5665

Terbayang kan seperti apa trip kali ini? Penuh dengan rintangan. Yang jelas penghibur saya begitu tiba di guesthouse adalah kedatangan teman-teman, jalan-jalan dan makan-makan di night bazaar. Puas rasanya bisa makan rajungan seharga 100 baht. Lupakan semua, mari kita bahas seafood saja!

100_5682

Dilanjut dengan cerita-cerita sendu lainnya..

Iklan

15 thoughts on “Krabi : kembali lagi

  1. Sisi lain dari tour Krabi ya Jeng. Menikmati postingan Krabi mama Hilsya dan foto2 kunjungan mbarep (sulung), masih menyimpan harap mengunjungi Thai selatan ini.
    Siap menanti cerita Krabi sesi berikutnya. Salam hangat

  2. iihh.. aku belom sampe krabi mbak. kemaren pengennya seh ke phi phi dari krabi tapi abang maunya dari phuket. hmmm..

    btw mbak, aku ada rencana mau ke bangkok akhir tahun depan, ntar numpang tanya tanya pas buat itenarynya ya mbak 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s