Berkelana di area Bang Rak

Postingan kali ini tentang perjalanan saya hari Minggu kemarin. Sebelumnya saya diundang untuk ikut pengajian 2 mingguan di Mesjid Jawa. Kebetulan mesjid ini memang salah satu tujuan saya di Bangkok. Setelah bolak-balik berkelana dari satu wat ke wat lain, maka wisata mesjid menjadi salah satu keharusan tersendiri.

Menurut sumber dari wiki, mesjid ini disebut mesjid Jawa karena memang didirikan oleh orang Jawa di Bangkok, di atas tanah wakaf milik Haji Muhammad Saleh pada tahun 1906. Terletak di Soi Charoen Rat 1 Yaek 9. Ancar-ancar paling mudah yaitu turun di BTS Surasak, keluar di exit 3 sebelah kiri, lalu  berjalan ke arah jalan tol. Belok kiri masuk gang, ikuti terus gang itu, kemudian sampai bertemu pertigaan tusuk sate dan ambil kiri lagi. Dari sana boardnya sudah terlihat di jalan. Tidak terlalu jauh, tapi kalau tidak mau capek bisa naik ojek sekitar 20-30 baht.

ImageBahagia sekali rasanya bisa menemukan mesjid jawa. Waktu Minggu kemarin ke sana, saya masuk lewat gang kecil yang berujung dari sisi pinggir mesjid. Senang sekali bisa sampai. Dulu saya juga pernah mencoba ke mesjid Jawa tanpa peta tapi malah berakhir ke arah St Louis Hospital, gara-gara tidak mau bertanya dan tidak mau naik ojek.

Sayangnya, saat ke sini saya meninggalkan kamera di laci meja, jadi saya tidak punya dokumentasi mendukung. Gambar mesjid bisa dilihat di wikipedia ataupun berbagai web lainnya. Yang jelas bangunan beratap hijau ini memang memenuhi pola bangunan Jawa pada umumnya. Lagipun karena kegiatan kemarin adalah mengikuti pengajian, maka tak terpikir untuk membawa kamera.

Setelah dzuhur, acara selesai. Kami menikmati thai noodle 40 baht yang dijual masyarakat sekitar. Enak dan banyak. Sehabis makan siang, kami berpisah tujuan karena saya ingin berlenggang kaki sendiri ke arah Bang Rak. Maka saya naik BTS untuk melanjutkan ke arah Wong Wian Yai. Tetapi niat keluar BTS untuk pergi ke Thalat Phlu dibatalkan dan berbalik arah lagi menuju BTS Sathorn. Lalu keluar melalui exit 3 dan melanjutkan perjalanan ke arah kiri, ke Charoenkrung Rd.

Sepanjang jalan, saya mengamati jalan kiri dan kanan. Dimulai pelan-pelan dari Charoenkrung soi 50 saya menemukan warung Thai noodle muslim di pinggir jalan persis setelah keluar dari kawasan BTS. Melihat bis no 1 dan 75 lalu lalang, tadinya hendak ikut salah satu bis itu tapi tidak tahu hendak kemana rutenya. Lagipun tujuan saya kali ini adalah menemukan tempat makan halal yang kabarnya banyak terdapat di daerah Bang Rak.

Sampai di Charoenkrung Soi 42, saya mengikuti jalan belok kiri dan bertemu dengan salah satu restoran halal yang didominasi warna biru. Tidak tahu namanya apa, karena semua ditulis dalam bahasa Thai. Saya menunjuk martabak kecil seharga 50 baht untuk jadi pengganjal perut. Duduk sendiri sambil menikmati martabak. Sepertinya pemilik resto ini orang India, karena banyak sekali menu kari, briyani, dan lain-lain. Melihat dua orang pengunjung datang memesan briyani dalam porsi besar, dan minta tambahan, saya langsung ikutan kenyang. Tapi nanti lain kali saya ajak teman untuk memesan makanan berat. Terlihat enak sepertinya.

Selesai makan, saya meneruskan perjalanan searah bis 1 dan 75. Tak lama saya juga menemukan restoran halal Thai Amina di sisi kiri, kalau tidak salah Soi 38 atau 42 (lupa) dan juga beberapa resto India di kanan jalan. Yang jelas pada hari Minggu kemarin pertokoan rata-rata tutup, jadi jalanan cukup lengang.

Saya berjalan terus di arah yang sama tanpa tahu hendak kemana, sepanjang ada penunjuk jalan berbahasa Inggris masih lumayan. Sempat kesasar pula sampai ke gereja Holy Rosary peninggalan orang Portugis, lalu memutuskan balik arah dan mengikuti petunjuk jalan ke Yaowarat. Haa? Ternyata saya sudah on the way ke Chinatown dan berakhir di balik Wat entah apa namanya (yang chedi emasnya menjulang tinggi di sekitar Yaowarat). Saat melihat tukang jualan tahu air jahe, saya memutuskan untuk duduk di pinggir jalan untuk menikmati hidangan murmer 10 baht.

Tak lama kemudian, sambil mengikuti papan penunjuk arah saya memilih untuk pergi ke arah Hua Lamphong, dengan alasan bisa naik MRT atau bis. Sekitar 500 m berjalan di jam 3 sore, perlahan dan akhirnya bertemu juga dengan ancar-ancar yang dikenal. Stasiun Hua Lamphong. Tadinya menimbang untuk memilih MRT yang cepat, namun akhirnya saya melompat ke bis non AC no 29 yang akan membawa langsung ke Laksi dengan membayar 8 baht. Lumayan irit. Sebelum merasa pegal, saya senyum-senyum sendiri dengan pencapaian hari ini. Jalan kaki sendiri dari jam 12.30 sampai jam 15.30 mendapat tempat duduk paling depan di bis. Puas rasanya..🙂

ImageJangan ditanya berapa kilometer jalan-jalan kemarin. Saya juga tidak tahu… haha

32 thoughts on “Berkelana di area Bang Rak

  1. Hi salam kenal, nyasar kesini dari blognya novi thebunnycat. terus terang seneng baca disini karena jadi nostalgia jaman kuliah dan tinggal di bangkok dulu thn 2005-2007. beberapa tempat udah pernah didatengin tapi beberapa juga belom. keep writing ya, hehehe…

  2. Waahh….jadi pengen liat bentuk mesjid nya? #kepo…..hihiii….

    kalo saya jg suka lupa bawa camera, tapi HP selalu siap menemani jalan-jalan saya, walo agak buram kadang-kadang, lumayan la kalo udah diedit…..hehee

    kunjungan balik, mbak…..salam kenal…

  3. duh namanya masjid jawa..penasaran sama gambarnya..sayang mbak nggak bawa kamera…hiks…nggak afdol nieh penasaran…*kapan yak ke bangkok..???huaaaaaaaaaaaaa…ingat cicilan jadi keder mau jalan jalan mbak..hiks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s