2N1D di KL

Prolog : Sebenarnya ini cerita lama, mulai tanggal 13 Oktober lalu.. tapi sepertinya saya harus meralat judul, karena menghabiskan 2N1D di sana, bukan 2D1N. Posting ditunda berhubung harus mempersiapkan ujian seminar (lagi dan lagi), baru selesai tadi jam 11 siang, dan tumben tidak pakai acara tambah waktu🙂 Bisa? hehe.. tidak juga

Setelah tanggal 11, saya selesai ujian presentasi perorangan. Lalu disambung dengan perjalanan ke Petchaburi bersama teman-teman tanggal 12. Keesokan harinya lagi saya melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Pada saat kemarin, dua senior saya datang ke Bangkok dan menginap di residence. Tadinya saya akan mengajak ke Amphawa hari Sabtu, tapi karena ada cultural trip dari akademi, guide saya serahkan pada teman yang kebetulan berkenan. Hari Minggu, karena waktu mepet saya hanya mengajak mereka pergi ke Koh Kret yang kebetulan sedang dilanda banjir untuk mencicip bunga goreng. Padahal Koh Kret terbilang lumayan dekat, tapi akhirnya kami tiba di residence sekitar jam 1 lalu bersiap menuju bandara.

Hehe, iya.. saya nekat ikut pulang ke Indonesia. Tiket jelas mahal, simpanan baht langsung menyusut ke angka ribuan. Belum lagi stipense dipotong per hari. Bodo ah! Mau ikutan jalan sama mbak-mbak saya, ikutan singgah di KL. Sebenarnya bisa sih langsung ke Jakarta tapi harga tiketnya sama dengan transit Kuala Lumpur. Saya mau menambah koleksi cap paspor baru, hihi.. lagipun, berhubung sudah membayar harga visa multiple entry, sayang rasanya kalau tidak digunakan *alasan*.

Perjalanan ke KL terbilang biasa saja. Dan asli, saya kaget melihat bandara LCCT saat ini. Penuh kerumunan manusia, agak tak terawat, kotor, bak terminal bis rasanya. Dipikir-pikir, ternyata saya memang baru 2x ke LCCT setelah tahun 2009. Kemarin-kemarin, sempat ke KL tapi sedikit naik tahta singgah di KLIA yang megah. Tapi takjub juga, berarti AA memang laku keras sebagai budget airlines.

Saya tidak pernah hapal area LCCT, KL Sentral, KLCC, dan lain-lain. Biasa duduk manis, tinggal telpon langsung dijemput teman buat numpang tidur dan jalan-jalan, hihi.. kebangetan memang. Nah kemarin, akhirnya bisa juga menikmati suka duka di dalam bis. Ini adalah perjalanan saya paling aneh, karena tidak tahu mau menginap dimana, bagaimana caranya, akan kemana, pokoknya manut saja. Tapi sempat juga sih disuruh browsing untuk mencari lokasi tempat penginapan, dan akhirnya ketemu link ini, haha… Beuh, jatuhnya ke emak kinan juga🙂

Setelah naik bis selama 1,5 jam akhirnya kami tiba di KL Sentral. Dengan tas ransel yang lumayan berat, sebetulnya saya merasa tersiksa harus berjalan ke stasiun monorail setelah KL Sentral *apa namanya ya?*, karena bangunan ini sedang direnovasi *perasaan dari 4 tahun lalu, masih sama bentuknya*. Kami berhenti di stasiun Imbi, lalu keluar melewati jalan tikus menuju Plaza Low Yat, jalan lurus sambil sedikit bertanya-tanya dimana hotel Bintang Warisan berada. Tak tahunya lumayan dekat. Dan suasana malam di Bukit Bintang terasa sangat meriah. Ramai manusia.

???????????????????????????????Akhirnya saya aman jadi manusia selundupan di hotel itu. Seperti biasa hotel di Malaysia tak pernah terlalu pusing dengan para tamunya. Tak lama kami keluar untuk mencari makan di seputaran hotel. Jam 11 malam terasa masih sore, karena banyak sekali orang-orang berkumpul untuk menikmati makan malam. Kami mencari makan asal ketemu dan berakhir di warung kaki lima halal milik orang Bangladesh. Duh, nikmat rasanya mencicipi makanan ada rasa setelah sekian lama bertahan dengan cita rasa hambar nasi goreng Thailand. Tak habis dimakan di tempat, saya meminta nasi goreng ayam itu untuk dibungkus. Lumayan buat sarapan pagi. Pulang ke hotel, cuci kaki, ganti baju, dan memilih untuk tidak mandi karena sudah lewat dari jam 12 malam. Tidur.

Esoknya, saya langsung balas dendam mandi paling pagi dan bersiap menunggu subuh yang ternyata jam 5.45 waktu KL. Agak malas untuk beranjak karena masih lelah, tapi sekitar jam 8 akhirnya kami bersiap menuju Batu Caves. Naik monorail menuju KL Sentral, lalu pindah kereta Port Klang-Sentul, berhenti di stasiun Batu Caves. Lagi-lagi transportasi yang terbilang menyenangkan. Murah dan cepat.

???????????????????????????????Sebetulnya datang ke Batu Caves ini adalah sekadar memenuhi rasa penasaran, karena kami hanya numpang berfoto di depan kuil dan langsung balik lagi. Tidak sampai 1 jam. Suasana di sini tidak terlalu bersih dan banyak bebauan menyengat.

Dari Batu Caves, kami pergi ke Bandar Tasik Selatan untuk melanjutkan perjalanan menuju Malaka dengan menumpang bis antar kota. Jika melihat keindahan terminal terpadu ini, saya jadi iri luar biasa. Kapan Indonesia bisa seperti ini? Rapi, bersih, on time. Sempat menyempatkan diri untuk mengisi perut sebentar dengan nasi lemak mini di sebuah minimart, tak lama kami sudah menuju Malaka. Perjalanan berkisar sekitar 2 jam lebih sedikit. Harga tiket promo bis 10 RM. Ransel saya titipkan di loker tas terminal Tasik Selatan, dengan membayar 3 RM.

Setiba di terminal bis Malaka, kami mencari musholla sebelum menaiki bis dalam kota Panorama Malaka no 17 menuju bangunan merah (Stadhuys). Harga tiket 1,2 RM, sementara pulangnya 1,5 RM. Dan akhirnya tiba juga di kota pelabuhan masa lalu nan megah. Sayangnya bangunan utama dekat gereja sedang direnovasi, jadi tidak cukup indah untuk difoto.

??????????????????????????????????????????????????????????????Kami menyempatkan diri berjalan mengelilingi jejak warisan multibudaya, ke kawasan Jonker Walk. Bangunan peninggalan penjajah Portugis, Belanda, jejak laksamana Cheng Ho, dan perantau muslim dari India menjadi bukti keberjayaan Malaka di masa lalu.

???????????????????????????????g

Termasuk mencicipi kue sus dan es cendol durian 6.5 RM yang menjadi daya tarik wisata kuliner Malaka. Lagi-lagi terbayar tunai segala penasaran. Tadinya kami mengantri es cendol di seberang Stadhuys, tapi keburu habis. Di sini lebih murah, hanya 3.5 RM. Jika melihat pancake durian ini, jadi ingat Medan.

???????????????????????????????Tak berlama-lama di Malaka, kami segera kembali menuju Bandar Tasik Selatan dimana kami lalu berpisah tujuan. Saya naik bis langsung ke LCCT, sementara mereka kembali ke hotel. Saya memang berencana menginap di LCCT, karena pesawat menuju Jakarta berangkat jam 7 pagi. Tidur di bandara memang membuat tersiksa, tetapi senang karena bisa pulang ke rumah. Dan yang paling ‘menyenangkan’ sekaligus bikin tak enak hati adalah karena sepanjang perjalanan ini adalah full gratis dari mbak-mbak saya. Alhamdulillah…

35 thoughts on “2N1D di KL

  1. hahahahaha….sebentar saya ngakak panjang panjang dulu….*disela pedih kerjaan bertumpu..bodo jugah yang penting bw dulu 🙂
    eh asli ngakak soal jatuhnya ke blog ku soal review ke KL…kekeke..itu hotel bintang warisan salah satu hotel kanditat yang mau aku pake nginep entah kenapa kemarin akhirnya ke pincut ke radius yang ternyata masyallah jalan lagi jauh kalo ke arah monorail…du du du…
    situ dekat mau ke sungai wang plaza, dll….bukit bintang..rame kan mbak..walah…kemriyuk…
    hehehe tambah lagi stempel negaranya..sip sip..:)

  2. eh nambah lagi mbak..beh dirimu malah kemana mana..aku cuman kota kota aja..mall to mall…duh ngiri deh mak…
    terus itu photo yang keliatan kayak antena tvri itu ada hotel besar sebelumnya yang kelihatan ..itu radius international pasti…:) tempatku nginep kemarin…

    • kalo mesjid itu peninggalan orang india, ini mesjid kampung kling namanya

      liat peninggalan Laksamana Cheng Ho, terasa banyak sekali amal ibadahnya, semoga Allah membalas segala kebaikan dan mengampuni segala kesalahannya

  3. Enak nginep di mayview glory, dpn puduraya. Dr situ ke mn” gampang. Kalo terpaksa hrs nginep di lcct, ke demostik departure aja. Di situ ada km mandi, trus musholanya bisa buat tiduran, ndak spt mushola int yg dikunci kl udah jam 11 mlm

  4. mbaaaa…
    ya ampun, udah loncat ke KL aja sih ternyataaaaaa🙂

    Dan ituh Batu caves nya indah sekali yaaaa…

    etapi kenapa di Malaysia juga ada Tasik segala siiih?

    duh, untung daku gak doyan duren deh, jadi gak kabita…hihihi…

    • Er, mohon dibaca ini tanggal berapa kisahnya.. sudah berlalu sekian lama

      Batu Caves? biasaaa…
      Tasik bukannya bahasa Melayu ya? perasaan banyak kok di sana yg berjudul tasik juga

      btw, kenapa klo berkunjung ke blogdetik ga bisa mulu… rapel aja yah, lagipun ini inet bikin erosi banget maklum gretongan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s