Jejak pertama di Ko Samui

PS : kalo ga nyambung, liat cerita seminggu lalu, ya 🙂

Dari Cheowlarn Lake, kami kembali menaiki boat menempuh perjalanan 45 menit menuju dermaga di Khao Sok. Tak banyak obrolan di boat selain masing-masing dalam bahasa Thai dan Indonesia. Tiba di pier, kami diantar van sampai pool bis  Seatran dan tiba jam 12 siang.  Perjalanan kali ini sekitar 1 jam.

Membayar tiket 240 baht, jadwal bis jam 12.30 membawa penumpang menuju Donsak Pier Surat Thani lalu disambung dengan ferry ke Nathon Pier di Ko Samui. Total perjalanan yang akan ditempuh sekitar 3 jam, 45 menit dengan ferry sisanya perjalanan darat ke dermaga Surat Thani. Lama dan jauh ternyata, namun bis yang ditumpangi sangatlah nyaman.

DSC02286Tiba di Donsak Pier, saya kagum dengan sistem keluar masuk penumpang di dermaga yang terlihat bersih dan rapi. Entahlah, mungkin karena saya jarang naik kapal laut. Kaget juga saat melihat penumpang hanya bisa masuk ke kapal setelah melewati sistem karcis otomatis seperti di BTS  #eaa.. dari desa banget! Tidak ada yang bisa lompat pagar.

???????????????????????????????Berhubung saya tak akan pulang dengan jalur yang sama, jadi saya memuaskan diri menikmati suasana Donsak dan sekitarnya. Hanya saja tak ikut melihat-melihat ke tingkat 3 di kapal, karena panasnya luar biasa di jam 2 siang. Di kapal ini, tersedia ruangan berAC dan tempat duduk lapang dilengkapi dengan kafetaria.

???????????????????????????????Sekitar jam 4 sore, kami tiba di Ko Samui. Ya ampun, seperti mimpi rasanya. Selama ini hanya melihat di peta dan bukan jadi destinasi saya. Ko Samui memang dikenal sebagai spot turis yang cukup ramai. Tak heran, banyak sekali orang asing berseliweran.

???????????????????????????????Bis Seatran menyediakan song taew gratis menuju pusat kota. Namun karena sudah memesan hotel dengan membayar total 12 ribu baht untuk 8 pax 2D berikut breakfast + hotel transfer, kami menunggu van dari Vetricolor Hotel. Perjalanan ke tempat menginap juga sekitar 1 jam, karena kami tiba sekitar jam 5 sore di distrik Chaweng.

???????????????????????????????Lokasi kami berdekatan dengan pusat keramaian dan arena thai boxing, namun jauh dari pantai. Jadi kesimpulannya, saya tak berhasil menikmati pemandangan cantik saat sunrise atau sunset. Tapi hotelnya bagus, bersih, rapi, cantik, dan berwarna-warni. Namanya juga Verticolor, yeyy!

Setelah menyimpan barang, kami berencana untuk keluar hotel menikmati kota. Direncanakan untuk menyewa motor. Namun sayang beribu sayang, kami berdua hanya sanggup membonceng. Kalau teman saya sebenarnya masih bisa naik motor, hanya bukan yang matik dan harus pendek. Motor biasa, kakinya tak bisa menjejak tanah sementara saya si kaki panjang tak ada guna. Nebeng.com judulnya. Akhirnya tak disangka tak dinyana saya kebagian dibonceng berondong rupawan, si mas Racer hihi.. *kasian sekali ya Nak, nasibmu sampai harus membawa tante satu ini*

Mas Racer melaju dengan kencang meninggalkan rombongan lain, saya grogi luar biasa. Medan jalan di pantai kan selalu mengerikan bagi saya. Berkelok, dengan tanjakan dan turunan yang tajam. Meski ia bilang it’s okay, posisi saya tak pernah luwes. Berhubung posisi memeluk sama sekali tak bisa dilaksanakan, kkk.. maka saya terus siaga memegang pegangan jok, sementara kaki dalam posisi ingin menjepit.  Mana perjalanannya lumayan jauh, hampir 30 menit dari Chaweng ke daerah Lamai. Pegal, deg-degan, lapar pula…

Sekitar jam 6.30 kami tiba di lokasi Hin Ta Hin Yai, batu granit yang berbentuk seperti organ vital lelaki dan perempuan. Sebenarnya saya juga tidak sadar ada apa di sana, wong hari sudah menjelang malam *ya ampuun.. ngapain juga keluyuran di tempat ga jelas pas Maghrib gini?*

???????????????????????????????Tak berlama-lama di tempat ini. Karena tak ada yang bisa dilihat kami berbalik arah menuju sebuah restoran di tepi pantai Lamai. Dengan memesan berbagai versi hidangan laut yang disantap dengan lahap, akhirnya total 2500 baht diserahkan pada pemilik resto. Tapi wajarlah, dimana-mana resto seafood memang lumayan mahal.

Motor kami sempat tersesat dan berputar-putar karena salah berbelok. Mas Racer terlalu mengebut, dan meninggalkan motor lain yang ternyata sampai di hotel 30 menit lebih awal. Begitu tiba di hotel, kami berjalan kaki sejenak menikmati keramaian malam di Chaweng. Biasa saja sih, tidak ada apa-apa. Saya sudah tak sanggup melihat-lihat, gara-gara keburu mengantuk.

???????????????????????????????Sampai di hotel jam 11 malam, dan esoknya kami sudah harus bersiap jam 6.30 pagi. Tak terbayang capeknya karena kami banyak menempuh perjalanan laut dan darat yang berjam-jam. Tapi yang membuat tidak enak badan seketika adalah naik motor malam-malam tanpa jaket dan helm *cari ant*ngin*.

Iklan

32 thoughts on “Jejak pertama di Ko Samui

  1. sangat menikmati catatan perjalanan menarik ini. ijin catet ya Jeng siapa tahu ikut angin ke negeri gajah putih cantik ini. lokasi Hin Ta Hin Yai, hasil abrasi ya, kembali kagum dengan kemasan wisatanya. Salam

  2. Hilsyaaaa…saya ngebayangin pas Hilsya dibonceng itu!
    Waduh…kebayang deh, nggak bisa meluk pinggang si om, terus posisi kaki harus menjepit jok karena takut jatuh…hihihihihi…horor abis lah pokoknya 😛

    • klo si om sih masih rada2 sebaya, nah..ini, mba .. brondong 10 th lebih muda.. apa namanya bukan penindasan? qiqiqi

      asli horor, mba.. baik bagi pembonceng karena udh parno duluan dan akhirnya pegel sendiri ..juga bagi si mas racer karena harus bawa emak2 rempong… kyaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s