(Masih) Cerita Ramadhan

Ya ampun, sudah lama rasanya tidak melongok blog dan bertamu ke rumah teman-teman maya.. Bagaimana kabarnya, sahabat? Mungkin ada beberapa teman yang sudah kembali ke kampung halaman untuk merayakan Idul Fitri bersama keluarga tercinta, dan ibukota melengang ditinggalkan penghuninya begitu saja.

Saya masih setia di sini, menikmati satu lagi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman berbeda. Tidak pulang kampung.

Banyak orang yang bertanya, kenapa saya tidak pulang dan bertemu keluarga? Jawabannya tidak kenapa-kenapa. Memang pas tidak bisa pulang saja. Jangan ditanya, betapa saya merindukan suasana Idul Fitri selama 13 tahun di lereng gunung Merapi bersama keluarga besar suami yang juga menjadi favorit anak-anak. Terbayang rasanya, betapa girang mereka di suasana pegunungan dan bertemu saudara-saudaranya. Menyenangkan.

Kadang saya jadi suka meneteskan air mata. Rindu..

Tapi mungkin tetesan air mata itu juga diakibatkan karena saya (lagi-lagi) melongo melihat lembar ujian kami tadi pagi. Ya ampun, soal macam apa itu?

Sejujurnya saya sudah menderita mual-mual yang teramat sangat karena masih saja disuguhi berbagai lecture di tahun kedua ini. Meski sudah lumayan nyambung tapi saya ternyata tidak kunjung bisa mengingat semuanya. Meskipun bilang sudah pasrah dan dinikmati saja, tapi kadang beneran kepingin pulang, huwaaa….

Apalagi banyak sekali cerita selama sebulan ini yang membuat konsep bulan puasa jadi tidak keruan. Yang paling mengganggu adalah sesuatu hal yang tidak melibatkan saya tapi membuat saya terlibat. Bikin pusing karena kepikiran terus. Tapi karena ini bukan hal yang baik yang harus diceritakan, terpaksa harus saya simpan di hati. Mungkin karena tekanan batin, mendadak saya jadi ringkih dan sakit-sakitan. Dari mulai sakit perut, masuk angin, leher tidak bisa menengok.. heu, lengkap.

Di bulan puasa ini juga, saya ditinggalkan dua teman untuk kembali pulang ke negaranya. Pertama, junior saya dari Mesir yang harus pulang karena masalah pribadi dengan segala cerita mengharukan di balik itu seminggu lalu. Kedua, junior teman bermain saya yang selesai menyelesaikan semedi di AIT selama 5 tahun dan akan pulang ke Padang esok pagi *langsung melirik koper doraemon, mendadak ingin packing*

Ada lagi yang membuat terhenyak. Seminggu kemarin saat berbasa-basi dengan advisor saya ketika kelas selesai, beliau menyatakan bahwa topik thesis saya akan diganti. Ia khawatir waktunya tidak cukup sementara proyek yang bersangkutan belum deal. Mahasiswa internasional memang diharuskan selesai cepat waktu. Maksimal bulan Mei 2014 sudah harus beres semua. Terhitung minggu depan, saya akan mulai masuk dunia lab karena dalam seminggu ini masih ada konggres protein dan tentunya Idul Fitri.

Lantas teringat bagaimana nasib 40 halaman thesis saya yang kemarin itu? hihi.. Think positive, untung baru 40 halaman, mendapat ilmu baru, jadi bisa lebih lancar mengerjakan bagian yang lain *optimis*.

Langsung shock? Jelas. Itu saja prosesnya cukup lama, mengesot dari 1 halaman ke halaman dengan contekan tersedia. Padahal di siang harinya baru saja saya kegeeran senang setengah mati disapa Ajarn rupawan yang dulunya akan saya intil di bagian animal testing. Wah, jarang-jarang beliau mengajak ngobrol lho. Saking pendiamnya dalam berbagai kesempatan, ia hanya sedikit tersenyum dengan wajah bule cute yang menggemaskan itu. Beliau menanyakan progres proyek thesis, dan dengan berbunga-bunga saya bilang akan dimulai bulan depan. Tidak tahunya… gubraak! Pukulan telak ini juga saya pikir karena di hari yang sama saya mendapatkan obat mata segar karena diajar oleh seorang profesor asal Italia tampan yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen Italia yang kental. Waduuh, mendadak semangat belajar rasanya. Lupa kalau sedang puasa. Akhirnya lagi-lagi bisa dibuktikan bahwa orang Italia ini kebanyakan berwajah rupawan. Serius ini, hihi…

Naik turun banget tapi ya mau bagaimana lagi? Itulah dinamika. Dalam satu hari ada banyak cerita yang mewarnai.

Tak berlama-lama larut dalam dunia perkuliahan, saya menyempatkan diri untuk menerima ajakan bermalam di Islamic Center dari seorang junior yang juga sekarang sudah pulang kampung ke Banjarmasin. Sebenarnya merasa tidak enak juga berkeliaran di malam hari, tapi tetap harus saya coba. Berdua kami pergi ke stasiun Ramkhamhaeng dari area Ratchaprarop. Sekitar jam 12 malam, tiba di area mesjid yang ramai oleh orang yang beri’tikaf. Subhanallah, ini adalah pengalaman pertama saya bermalam di mesjid. Rasa lelah tak terasa, karena banyak jamaah yang berkumpul. Jika terasa pegal, saya meluruskan diri sejenak namun tetap tak bisa tidur karena siangnya sudah kebanyakan tidur, hehe. Bangkok yang tadinya terasa panas, menjadi lebih sejuk dengan hembusan puluhan kipas angin di area masjid. Dan menjadi lebih dingin saat hujan turun dengan derasnya.

Jam 2 pagi, jamaah berkumpul untuk melaksanakan sholat malam 8 rakaat dan witir 3 rakaat. Diiringi lantunan merdu suara sang imam, saya tak merasakan berada di sebuah negeri mayoritas non muslim. Menyenangkan sekali. Setelah selesai, jam 3 pagi kami menyantap sahur yang telah disediakan pihak masjid. Kari daging dan terong, tumis tauge serta ikan asin. Saya kembali memilih ikan asin. Di sini disediakan lengkap dengan kolak pisang. Selesai sahur, kami kembali ke area masjid sambil menanti subuh.

Selesai subuh, kami bersiap untuk kembali ke residence. Diiringi rintik hujan, saya pulang dengan setengah linglung karena kurang tidur. Salah arah naik bis. Tadinya ingin berhemat dengan naik bis, ujung-ujungnya tetap saja menggunakan BTS. Ingin cepat dengan naik taksi, eh malah dibawa berputar-putar. Nasiiib!

Ya.., meski cerita kali ini ngalor ngidul tetap saja menjadi pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Selamat menikmati Ramadhan yang tersisa.. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin kepada semua sahabat yang merayakan. Semoga ke depannya kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik.

37 thoughts on “(Masih) Cerita Ramadhan

  1. Walau sedih karena gak bisa pulang tahun ini, tahun depan Insya Allah kan bisa Mbak Hil. Mual-mual sedikit bisa ditahan lah, Mei 2014 kan sudah selesai🙂

  2. 40 halaman, kalo sy lelah banget ngerjain tulisan byk gitu. sukurnya masih sempet ke islamic center. ramdhan yg penuh warna

  3. waah… cerita ramadan yg ‘nano2’ ya mbak.. hehe… sabar ya mbak…, mudah2an diberi kelancaran semuanya… selamat siap2 Iedul fitri di negeri orang, Insya Allah ada hikmahnya…🙂

  4. sebetulnya aku lihat mama Hilsya orang yg sangat tegar dan sangat bersyukur jadi merayakan Idul Fitri jauh dari tanah air bisa diambil sisi positifnya ya …
    merasakan suasana lain sesekali

  5. Met malam, Hiheihiee. Pendatang baru kayaknya saya. Ketika saya searching sana sini eh ada alamat blog ini jadi sekalian aja mampir berkunjung. Itung itung perkenalan dan silaturahmi hiehiehiehiee.

    Mudik juga kah? Kebetulan kami sekeluarga sedang mudik. Kalau Jakarta mungkin akan sepi ditinggal mudik, saya malah “balik kampung” ke Jakarta. Hiheihiehiee. Terima kasih sudah berbagi. Salam dari blogger Pontianak

  6. insya Allah pulang. ini mungkin masalah waktu saja. yg penting waktu diisi dg hal2 yg bermanfaat, biar gak ngerasa nunggu

  7. Selamat Idul Fitri, kemenangan dariNya memenangkan Teteh atas aneka ujian. Mohon maaf untuk salah dan khilaf dalam berinteraksi. Ketegaran mama menginspirasi HilSya untuk pantang menyerah meraih cita. Salam

  8. Wah cerita Ramadhannya benar2 penuh warna mbak…
    Lebaran tanpa bersama keluarga besar pasti rasanya kurang lengkap ya mbak?
    BTW selamat Idul Fitri, maaf lahir batin ya mbak…. Maaf telat karena baru online lagi nih🙂

  9. ramadhan penuh cerita di negeri rantau..jauh dari keluarga..
    semoga insyallah tahun depan ramadhan kumpul keluarga yah mbak..nanti semoga insyallah bisa mudik bareng ke yogya kayak dulu…tapi sambil jalan jalan nggak hanya ketemu dibandara kayak dulu..hehehe🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s