Mengusir asap

Jujur saja postingan ini diinspirasi salah satunya oleh status fesbuk seorang teman yang bermukim di Johor Baru.. “Moga jerebu yang memedihkan mata dan cekak ini cepat berlalu” lengkap dengan huruf capslock-nya. Ditambah jeritan hati seorang kawan di Bintan, emak kinan yang juga merasakan dampak kabut asap dan menceritakan kondisi aktual di sana. Sementara saya sedang asyik bolak-balik membaca dokumen, mengolah kata, citing artikel untuk keperluan naskah thesis dengan tema yang sama, polusi udara. Saya jadi meneteskan air mata.

Menangis tentu saja bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Kadang hal itu cuma jadi implikasi ketika kita tak tahu mau berbuat apa. Terlebih ketika saya banyak mendapat informasi tentang bahaya kabut asap terhadap kesehatan manusia dari berbagai literatur. Lengkap dengan teori ini itu dan lain sebagainya. Dan ketika kita dihadapkan dengan masalah di lapangan, kita tak bisa bertindak apa-apa. Menyedihkan.

Saya sebagai salah satu staf pemerintah kelas bawah yang sedikit banyak berkutat dengan masalah polusi udara tidak bisa banyak berkomentar tentang masalah kebijakan yang memang bukan levelnya. Bahkan dalam upaya tindakan preventif pun rasanya masih di atas sana. Dalam opini saya, masalah polusi lingkungan bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Pemerintah memang diwajibkan melindungi keselamatan dan kesehatan yang menjadi hak sepenuhnya rakyat dengan menentukan baku mutu lingkungan. Jika dalam statemen lingkungan matriks udara menjadi indeks standar polusi udara (ISPU) atau di negara lain menjadi Pollutant Standard Index (PSI). Pemerintah juga diwajibkan untuk bertindak tegas pada pihak industri agar menggunakan teknologi pengendalian pencemaran sumber emisi dari pabrik, terhadap kebijakan penggunaan BBM, kepada para pengguna kendaraan tentang masalah polusi kendaraan, dan lain sebagainya. Semua memang menjadi kewajiban pemerintah.

Tapi jangan lupa, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya dukungan dan kesadaran dari masyarakat dan pihak terkait. Negosiasi dengan pihak industri tentunya lebih kepada kemampuan teknologi dan sektor ekonomi yang menjadi tanggung jawab pihak industri untuk menjaga lingkungan. Itu baru diaplikasi untuk sumber emisi tidak bergerak, yang dicirikan oleh tegaknya banyak cerobong asap. Masih ada tanggung jawab masyarakat umum (baca: diri kita pribadi) untuk juga berpartisipasi memelihara ekosistem. Dan hal itu terus terang menjadi bumerang jika tidak kita prioritaskan untuk berkomitmen. Kita harus sadar betul bahwa arogansi dan ketidakpedulian manusia akan membuat alam membalas dendam.

Kembali kepada asap yang sedang menjadi bencana. Semoga hal ini menjadi pelajaran bagi siapapun yang menjadi sumber kekacauan. Jika kesadaran untuk menjaga lingkungan dikalahkan dengan kepentingan pribadi, tentu saja itu menjadi poin yang harus ditindaklanjuti. Kita harus menjadi masyarakat yang pintar dan bersikap arif terhadap lingkungan. Tapi jika alam yang menjadi sumber prahara, tak mungkin kita menyalahkan Tuhan. Tentu saja apapun yang jadi penyebabnya harus disikapi dengan kualitas kepemimpinan yang bijaksana.

Mengusir asap bukan perkara mudah. Apalagi karena kita tidak bisa memilih udara mana yang hendak kita hirup. Maka tak heran, polusi udara berdampak signifikan bagi kesehatan manusia. Saat ini, bagi yang berada di lokasi sebaiknya mengurangi akvitas di luar rumah dan memakai pelindung minim. Semoga saja, hujan segera diturunkan untuk memberikan rahmat kepada alam sekitar dan bencana segera berlalu.

Ingin rasanya saya copas semua tulisan literatur review ke dalam postingan ini. Tapi …entahlah.

31 thoughts on “Mengusir asap

  1. like this mba….
    emang bener, Pemerintah tidak bisa disalahkan 100%, dalam hal ini justru masyarakat dan pelaku industri lah yang harus introspeksi diri. Kalo bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga lingkungan ini. Semoga hujan cepat turun agar bisa mengurangi asap

    Aku baca postingan ini jadi inget masa kuliah pencemaran udara beberapa tahun yang lalu🙂

  2. masalah ini harus disikapi dengan arif mulai dari sumbernya, kalau sudah jadi bencana tentunya jadi tanggung jawab pemerintah untuk memberi solusi/menolong rakyat

  3. Merasa bersalah jadi salah satu orang yang berperan dalam hal pengasapan ini. Semoga cepet sadar saja para pembakar hutan itu. Hidup gak cuman urusan perut mereka. Huhuhu…

  4. mbakkkkkkkkkkkkk…makasihhhhhhhhh pencerahannya lewat FB dan juga disini
    ..pagi pagi mampir disini dulu sebelum nyangkul…kemarin dirumah komputer di monopoli sama kinan….dan internet bapaknya yang pake dipake kerja..derita nggak ada wifi…
    alhamdulilah mulai kemarin hari minggu..sudah mulai cerah kabur udah berangsur menghilang..semoga nggak kejadian lagi soalnya kok aku dengar tergantung arah angin..walah…begitu liputan rcti kemarin dari seputar indonesia…eh katanya berita itu ternyata ada berapa perushaan dari negeri jiran yang disuspect ikut andil dalam perluasan lahan dan kalo terbukti melakukan pembakaran dengan sengaja akan dikenai sangsi..kata tv sih gitiu mbak..nggak ngerti aktualnya…nanti dilapangan kayak apa…
    tenggorokanku alhamdulilah membaik nggak parah..2 hari aku home treatmen…tak hajar dengan lemon, madu dan propolis…sup dan yang seger seger gitu…alhamdulilla semoga lancar puasa hari ini..thanks banget pencerahannya mbak🙂

    • ngomongin ini.. mau ga mau pasti masuk ke kelas yg paling atas.. ttg politik dan kebijakan, banyak yg terlibat, ga bisa kalo cuma yg ecek-ecek doang..
      yg aku posting cuma opini aja, ‘pencerahan’ itu kalo mejengin artikel ilmiah.. hihi
      yup, moga2 sehat semuanya.. makan makanan yg bergizi, kurangi aktivitas di luar rumah, pake masker

      PSI parameter debu kemaren 400, di London des ’52 pernah sampe 6 mg/m3 (blm konversi ke PSI ya) yg di waktu siang hitam gelap …kasus London fog

      kasus ini juga lagi rame masuk bahasan di kelas, ga tau deh aku bakalan jawab apa.. krn aku juga ga ngerti aktual di lapangan gimana.. malu juga, mana aku juga orang MoE lagi..

  5. pasti masalah kabut asap ini lebih kompleks daripada kelihatannya ya mak Hilsya..

    waktu saya ke Medan minggu lalu nggak kena kabut asap ya.. alhamdulillah..
    tapi sepulangnya saya ke Jakarta kok saya lihat di berita ada kabut asap di Medan ya…?

  6. Sekarang kabut asapnya mungkin sudah berkurang, Hilsya.
    Tapi itulah, saya juga sependapat. Kesadaran masyarakat, pemilik pabrik/usaha/perseroan atau apapun itu, dan pengawasan dari Pemerintah harus bersinergi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s