Linglung

Seing membuat catatan perjalanan ternyata tak menjamin seseorang menjadi pro. Saya contohnya, tetap saja suka melakukan ‘keajaiban’ sepanjang perjalanan seperti baru pertama kali pergi.

Sebuah rencana matang memang diharuskan ada supaya segala sesuatunya berjalan lancar. Tapi meski kita sudah berusaha cermat dan hati-hati, tetap saja masih tersisa sedikit sifat alami manusia. Melakukan kesalahan karena ceroboh. Menganggap enteng ini itu atau merasa sudah biasa.

Seperti halnya kembali ke Ina kemarin, adalah sebuah rencana yang baru bisa dilaksanakan secara dadakan. Meski libur sudah cukup lama, tetap masih harus menanti keputusan pihak terkait supaya penalti bisa dieksekusi untuk ciao..

Kalau sudah dadakan begini tentu akan bersinergi dengan masalah ekonomi. Menimbang dan memutuskan, mau saving atau stipense-nya habis untuk beli tiket PP *nombok malah*. Mencari skala prioritas. Jika masih lapang sih, mungkin tidak masalah. Tapi kalau sudah kepepet, lantas pakai acara tidak teliti pula rasanya bikin ngenes.

Tahu sendiri kan jika membooking tiket murah budget airlines itu harus teliti. Banyak pilihan tricky dalam formulirnya. Jika calon penumpang ceroboh, mungkin dia akan membeli fasilitas yang sebenarnya tidak diperlukan. Seperti saya kemarin, ceroboh tidak menghapus centang boardmefirst. Fasilitas yang membuat kita langsung masuk pesawat tanpa harus mengantri. Padahal saya paling hobi masuk pesawat paling buncit. Lumayan harganya, bisa buat beli pizza ukuran besar *balada emak-emak ga punya duit di akhir bulan*. Saat itu saya sudah tidak enak hati nomor 1.

Tidak enak hati nomor 2, dimulai saat setengah hati berangkat dari residence. Dengan sok berteori bahwa kemacetan Bangkok masih bisa dimaafkan, saya nekat berangkat mepet sebelum take off. Hanya 3 jam dari Laksi ke Svarnabhumi . Berencana naik taksi langsung dari depan residence menuju BTS, tapi taksi yang dinanti tak kunjung hadir. Akhirnya terpaksa naik jembatan penyembrangan sambil menggendong ransel dan tas total 12 kg. Nafas ngos-ngosan dan pundak langsung nyeri, padahal ini masih permulaan. Kemudian dikagetkan dengan kenaikan harga tiket BTS, biasanya 25 naik jadi 34 untuk tujuan BTS Phayathai airport link. Tidak terlalu banyak sih, tapi akhirnya jadi heboh mengeruk-ngeruk koin di depan mesin tiket. Lalu kembali menggendong tas untuk pindah jalur. Tidak terlalu jauh, tapi tidak tahan beratnya. Lantas deg-degan karena sang kereta tak kunjung jalan padahal sudah jam 10.40. Belum lagi memikirkan kondisi airport, takutnya sedang penuh penumpang. Nah lho!

Akhirnya meski sport jantung sepanjang jalan, sampai juga tepat waktu. Perjuangan belum berakhir sampai gate tempat boarding. Saya turun ke gate yang berbeda karena ingin ke toilet. Setelah keluar saya baru sadar jika yang saya masuki adalah toilet pria. Lalu ketika ingin mencuci tangan dengan kran sistem sensor, tidak keluar airnya. Saya coba semua, termasuk ibu-ibu lain mencoba satu per satu. Ternyata sensornya di bagian hitam bawah berbatasan wastafel, sementara kami semua menyimpan tangan terlalu dekat dengan ujung kran. Logikanya dengan tangkai yang panjang, pasti kita tidak mau air kran muncrat kemana-mana kan? Haha.. linglung.

Tidak enak hati no 3, terjadi saat akan masuk ke pesawat. Ternyata dalam boarding pass saya tidak tercantum priority boadmefirst. Padahal saya sudah kadung maju paling depan. Terlanjur beli dengan setengah tidak rela dan ingin masuk karena ransel saya berat ditambah antrian satu pesawat, membuat saya jadi lupa dimana menyimpan tiket. Saya tidak protes panjang lebar karena merasa norak jika harus ribut masalah masuk duluan ke pesawat. Saya mundur untuk memberi tempat pada penumpang yang membawa anak-anak dan orang tua. Setelah ketemu saya memberikan tiketnya, tapi si petugas penjaga pintu tidak memeriksa dan berkata itu hanya logo. Salahnya saat itu saya tidak memperlihatkan tulisan service boardmefirst tadi. Terlanjur sudah banyak orang yang masuk dan harus antri, akhirnya saya memilih barisan akhir. Malu juga rasanya karena merasa seperti orang pertama kali yang kepingin masuk pesawat duluan. Padahal kan sampainya berbarengan juga. Ternyata itu kesalahan petugas bagian check in. Tidak ingin marah karena hal sepele, tapi tetap saja tidak nyaman karena tidak rela menerima akibat dari kecerobohan diri sendiri. Akhirnya setelah hampir semua penumpang masuk, saya perlihatkan tiket di bagian service boardmefirst sambil bertanya what is this? Dengan tenangnya, dia bilang.. this is board me first.. Beuuuh! At least, bilang maaf kek atau dia periksa dulu tiketnya *tapi bukan salah dia juga sih* disamping saya juga tidak terlalu gigih mempertanyakan hak -yang terjadi by accident dan tidak rela- itu.

Susah ya buat ikhlas dipermalukan *lebay*, saya jadi tidak habis pikir kenapa harus mengalami kejadian seperti ini. Masih tidak ketemu apa hikmahnya. Tapi untungnya satu penumpang orang Ina tidak ada yang kenal, hahaha…

Hm, don’t make it too serious! Masih banyak hal yang lebih penting yang harus dipikirkan. Antara lain.. sejumlah paper yang sok-sokan dibawa pulang. Kita lihat saja ya, apa dibaca semua atau tetap dalam posisi semula.

Badan terasa remuk redam..