Remuk

Sebuah cerita basi yang harus diabadikan.

Sebenarnya cerita Chiang Mai berakhir tanggal 9 April seiring dengan kembalinya kami menaiki bus NCA yang kondisinya tidak sebagus keberangkatan. Hanya saja waktu yang ditempuh lebih singkat. Berangkat dari Chiang Mai jam 20.30 kami tiba di Bangkok jam 05.30, lalu naik taksi ke residence. Jam 06.00 pagi saya bebenah dan mandi untuk kembali berangkat lagi ke Svarnabhumi Airport. Yup, saya memang berniat melarikan diri selama liburan.

Yang membuat tergesa-gesa adalah ketika maskapai Tiger Airways memajukan penerbangannya menjadi 11.40, lebih awal 1 jam. Buat saya, akan lebih nyaman jika saya berangkat dari Don Mueang. Lebih dekat. Tetapi demi mendapatkan tiket murah 1,1 juta PP, saya rela menghabiskan waktu hampir 2 jam menuju Svarnabhumi.

On the way ke bandara, selama di bandara, dan sepanjang perjalanan sampai touch down Soetta biasa saja. Yang jelas badan terasa capek sekali. Begitu keluar terminal 3 saya bingung karena uang rupiah terasa ngepas banget. Cuma 100 ribu rupiah dan hanya berbekal baht yang notabene bakalan jatuh jika dikonversi ke rupiah. Akhirnya saya mensiasati dengan cara naik taksi membayar 60 ribu sampai Cikokol dan lanjut dengan naik angkot 5000 rupiah sampai depan komplek. Sebenarnya sih bisa lebih murah lagi tapi saya sedang tidak konek.

Tararaaa…. sampai juga di rumah tercinta yang notabene berantakan ampun-ampunan*ngelus dada*. Setengah sadar juga, perasaan semalam saya masih berada di  Chiang Mai esok sorenya sudah asyik naik roda niaga jurusan Serpong.

Saya pulang saat di Thailand sedang libur panjang menghadapi tahun baru Songkran. Menemani anak-anak karena suami esoknya pergi ke luar kota selama 6 hari. Kasihan banget kalau cuma ditemani si teteh sementara ibunya sibuk siram-siraman air nggak jelas. Emak macam apa gerangan? Karena itu dengan segala resiko, saya pulang.

Malam harinya saya mendapat kabar, kalau adik bungsu saya dalam kondisi kritis. Saya jadi bingung, kok selama ini tidak ada pemberitaan sama sekali. Saya berencana pulang ke Sukabumi. Tepat ketika suami pergi ke bandara jam 7 pagi saya langsung naik angkot gonta-ganti sampai Bogor. Jam 12 siang saya sampai di Cicurug, ke tempat keluarga bapak. Gustiii… itu yang namanya macet nggak kira-kira.

Rencana bahwa saya akan pulang hari itu juga gagal total. Badan saya capek. Remuk. Di samping saya juga harus mengurusi dan memaksa adik saya untuk ke rumah sakit. Entah ke Jakarta, Bogor, atau Sukabumi. Rupanya selama ini, ia tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya. Badannya kurus kering seperti tengkorak hidup, batuk tak berhenti, suaranya tersendat-sendat jika harus bicara. Mengkhawatirkan. Belum lagi jika mendengar cerita dari bapak bahwa beberapa hari kemarin ia mengamuk lalu tidak sadarkan diri karena diguna-guna. Saya rasanya tidak ingin percaya.

Esoknya kami pergi ke dokter spesialis paru-paru. TB found, case closed.  Sang dokter terlihat agak marah dengan mempertanyakan kenapa saat sudah separah ini baru didiagnosa. Apalagi sebelumnya sudah pernah diobati. Penyebabnya polusi udara, atap asbes, dan perokok pasif dari suaminya. Sumpah, saya marah sekali kepada orang-orang yang merokok. Ya bapak saya, adik lelaki saya, terutama kepada suami adik bungsu saya. Ingin saya jejali orang yang merokok dengan asap rokoknya itu. Untuk bertanggungjawab atas apa yang dia nikmati, bukan orang lain yang merasakan penderitaannya.

Saya menutup telinga dari istilah magis. Cukup secara medis saja, meski mungkin saja itu terjadi. Setelah semua diselesaikan sedikit demi sedikit, tiba-tiba saya merasa sangat letih. Jiwa dan raga. Saya harus kembali pulang ke rumah menemani anak-anak.

Sendiri saat lelah dengan segala permasalahan membuat saya ikut-ikutan ambruk meski tidak parah. Sedih rasanya ketika tidak ada seseorang yang menemani. Sementara itu saya baru ngeh jika melakukan kesalahan booking tiket akibat salah interpretasi jadwal dinas. Tadinya saya kembali tanggal 16 sore hari karena kami akan mulai kelas di tanggal 18, ternyata si dia juga pulang tanggal 16 siang. Hm.. bisa-bisa ada yang diam seribu basa. Jadilah niat untuk mendapat tiket murah gagal total. Saya kembali harus membeli tiket dengan harga sama tetapi turun di Don Mueang.

Yaa.. begitulah, selalu ada cerita baru saat pulang ke rumah. Kadang-kadang berada jauh di seberang samudera itu jauh lebih menyenangkan.

22 thoughts on “Remuk

  1. walah mbak gak bilang bilang balek kemarin at least aku telp…walah kemarin ditelp malah si dia yang angkat waktu balek waktu itu..sampean udah balek…
    walah..
    sabar yah mbak..piye sekarang adik mbak?? semoga lekas sehat..sodaraku dulu juga pernah kena TB karena rutin pengobatan alhamdulilah sembuh
    hmm bismilah semangat yah mbak…semangat mencari ilmu..*ibadahkan…baik baik..jadi jangan sampai dideportasi dulu siapa tahu next destinasi aku bisa ke bangkok mumpung dirimu masih disana..:)

    • wiii.. nelpon toh? hehe…

      aku belum dapet kabar baru lagi, dia sih masih lanjut berobat..
      kemarin tanteku bilang, kalo udah balik ke bangkok jangan mikirin yang lain-lain.. biar cepet beres.. ya tapi gitu deh, makin ke sini makin entah ada dimana statusku sekarang, haha.. terapung-apung bingung dan tambah ga konek

    • udah jadi butiran debu, mba… langsung ambil mike dan nyanyi

      aku terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi
      aku tenggelam dalam lautan luka dalam
      aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang…….

  2. paling sedih klo liat orang sakit geegara lingkungan terdekatnya pada ngerokok…. kalau orang yang disayang sudah jadi korban, apa masih belum sadar juga?… eh maapkeun nyerocos dimarih….curhat karena pernah mengalami, semoga segera sembuh ya mbak adiknya, wah klo tau mudik, kita kopdaran….. hallaah…

  3. hidup itu memang penuh kejutan-kejutan ya mbak …
    semoga adiknya semakin membaik …
    tetap semangat ya mbak …
    Kalimat yang terakhir itu, mmm, setuju …😀

  4. Waaahh.. ada pulang toh mbak.. paling gak pulang ke jakarta satu kali penerbangan ya mbak. jadi gak jaoh dan bisa hemat juga kalau ada tiket murah.. ya kalau gak salah booking seh .. hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s