Jalan-jalan Chiang Mai Part 3

Ya ampun… berasa basi menuliskan perjalanan hampir 3 minggu lalu. Cerita tur Chiang Mai dilanjut kembali sebelum benar-benar amnesia.

Sebenarnya salah satu target kepergian saya pergi ke Chiang Mai adalah penasaran dengan Chiang Rai dan Golden Triangle. Jadi saya sudah berencana untuk ikut paket tur full Chiang Rai – Golden Triangle dan sekitarnya di tanggal 8, supaya tidak merepotkan tuan rumah. Ada beberapa pilihan harga dari agen tur. Rata-rata paket yang ditawarkan dimulai dari harga 900 baht ++. Plus-plus yang saya maksud ini adalah agen ternyata tidak mengikutsertakan biaya boat tur di sungai Mekong sebesar 300 baht dan kunjungan ke Karen long neck village juga sebesar 300 baht. Entahlah, mungkin ada yang lebih murah tapi saat itu juga saya tidak sempat mencari info lebih lanjut, jadi hanya memilih seketemunya.

Kami dijemput van jam 7.30 untuk segera menuju Chiang Rai. Titik pertama yang dikunjungi adalah sumber air panas yang memang banyak ditemukan di sepanjang jalan menuju Chiang Rai. Tak sampai 1,5 jam kami tiba di sebuah hot spring yang dibangun sebagai salah satu tempat atraktif turis. Pancaran sumber air panas mungkin sekitar 5 m. Di sebelah spot ini masih ada beberapa sumber air panas dengan pancaran yang lebih tinggi.

hotspring

Di sini kami diberi waktu sekitar 30 menit untuk menikmati suasana sekitar dan sensasi air panas dengan merendam kaki di kolam dengan temperatur yang lebih bersahabat. Di sumbernya suhu bisa berkisar 90oC. Banyak juga penjual telur di sekitaran kolam. Biasanya turis-turis asyik merebus telur di kolam air panas untuk kemudian disantap on the spot.

Titik kedua setelah sumber air panas adalah mengunjungi White Temple atau Wat Rongkhun di Chiang Rai. Wat ini merupakan salah satu kreasi arsitek terkenal  Chalermchai Kositpipat yang mengeluarkan uang pribadi untuk mempersembahkan karyanya kepada sang raja. Kabarnya sampai saat ini pembangunan wat tersebut masih berlangsung. Saya sangat terpesona dengan keindahan arsitektur bangunan tersebut. Benar-benar unique beauty. Berbeda dengan candi historikal lainnya

wat rongkhun

Konsep wat ini menggambarkan perjalanan manusia menuju nirwana. Di awal masuk terdapat patung tangan-tangan menggapai di bagian bawah yang mengkiaskan neraka. Kemudian ada jembatan yang menghubungkan ke altar wat. Semuanya dicat serba putih. Tidak diperbolehkan menyentuh dinding bangunan untuk menjaga agar warnanya tidak kotor. Selain wat yang bercat putih, di komplek ini juga dibuat bangunan kamar mandi dengan arsitektur eksterior paling indah karena bercat emas. Sementara bagian dalamnya seperti kamar mandi biasa.

pizap.com13671092137301

Jam 11.40 kami bersegera kembali ke van untuk selanjutnya mengunjungi Golden Triangle. Tidak terlalu jauh rasanya. Di sini kami berkumpul sebelum ikut naik boat bersama rombongan lain untuk mengitari kawasan tiga negara yang dahulu terkenal dengan perdagangan opium. Tur selama 2 jam ini termasuk menyeberang ke wilayah Don Sao, Laos yang tidak memerlukan paspor.

golden triangle

Sayang sekali cuaca sama sekali tidak bersahabat, di sepanjang perjalanan kami tidak bisa melihat daratan Myanmar secara jelas. Termasuk patung Budha besar di wilayah Thailand yang tidak tertangkap secara visual oleh kamera dalam jarak 500 m. Semua gara-gara kabut asap akibat pembakaran lahan.

gt1

Tak lama kamipun menjejak ke wilayah Don Sao atau Done Xao, di Laos. Untuk masuk ke sini pengunjung hanya cukup membayar 30 baht sebagai biaya restribusi, tanpa perlu paspor. Tapi kami bisa juga mendapatkan kenang-kenangan cap paspor tanpa tanggal.

done xao

Kedai-kedai di area Done Xao ini menjual barang-barang yang serupa dengan Thailand. Saya malah 100% yakin kalau barang-barang ini datang dari Thailand. Yang cukup terkenal adalah minuman beralkohol yang dicampur dengan binatang dalam botol. Ular, kalajengking, dan lain-lainya di dalam botol whiskey. Di samping bir Lao seharga 30 baht yang katanya enak.

donsao1

Kami tak terlalu lama berada di sini. Panas matahari menjelang jam 2 siang lumayan membuat sakit kepala. Done Xao terasa gersang. Kami segera kembali ke Thailand untuk menuju Mae Sai. Di sana  disediakan buffet makan siang penuh pilihan menu. Tapi hanya ini yang bisa saya makan. Sisanya tahu sendirilah.. *ihik*. Teman saya bilang makanan lainnya enak sekali. Saya iri setengah mati.

lunch

Meski makanan berat yang bisa saya nikmati hanya sayuran, tapi saya cukup bahagia bisa menemukan makanan lama. Roti gambang. Ingat? Hanya saja bentuknya lebih kecil dan tidak ada butiran wijen di atasnya. Lumayaaan…

Puas menikmati makan siang yang terlambat, kami segera menuju perbatasan Thailand dan Myanmar yaitu gedung yang beratap biru itu. Perbatasan Mae Sai di Thailand dan Tachilek di Myanmar. Untuk memasuki wilayah Myanmar, kita harus melewati proses imigrasi dan mempersiapkan visa. Jadi untuk sementara hanya cukup melihat dari kejauhan saja. Entah kapan sempat singgah.

mae sai border

Para penduduk Myanmar biasanya berbelanja di Mae Sai karena harganya jauh lebih murah dibanding di Tachilek. Warga Myanmar bisa memasuki Thailand secara free, tapi tidak untuk warga negara Thailand. Lagi-lagi kami sedikit bingung dengan apa yang hendak dibeli karena sama dengan Bangkok, jadi hanya berkeliling sekitar pasar saja. Lalu kembali ke van untuk melanjutkan perjalanan ke perkampungan suku migrasi Thailand utara yang berasal dari daerah China, Akha.

akha

Penduduk suku Akha umumnya beragama Kristen, jadi pada hari itu penjual suvenir hanya sedikit karena mereka pergi ke gereja. Dari sini rasanya di grup kami tidak ada yang melanjutkan pergi ke long neck (shan) village, Karen (dibaca: Kariyen). Ya untuk sementara bisa dilihat dari google saja. Kami baru tahu juga kalau untuk masuk ke wilayah itu, harus membayar ekstra lagi karena tidak termasuk paket. Akhirnya kami malah beristirahat sejenak di area parkir, karena tidak lama kemudian langsung melanjutkan perjalanan pulang selama 4 jam menuju Chiang Mai. Jalan yang berkelok-kelok ditambah semburan AC di kepala plus telat makan siang ternyata cukup membuat saya mendadak mual. Tapi untunglah, ketika AC dimatikan rasa tak nyaman itu mendadak sirna. Berganti lapar karena waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam.

dinner

Saat makan malam di sebuah resto vegetarian di Soi Nimman, kami memilih makanan khas Thailand utara. Rasanya nikmat sekali. Meski tidak ada protein hewani tapi tetap mantap. Alhamdulillah.

–masih 1 hari lagi, sudah mulai capek–

24 thoughts on “Jalan-jalan Chiang Mai Part 3

  1. Waooo ini yang ditunggu Chiang Rai dan golden trianglenya dengan aneka sensasinya. Daerah Thailand Utara tak kalah menarik dengan Selatannya, pengelolaan wisata yang patut dipuji. Menunggu wisata lainnya ah. Salam.

  2. Kemaren pas dipucket ada yg cerita juga mereka dari ciang mai.. di thailand ternyata banyak juga tujuan wisatanya ya mbakk..

    aahh.. tapi uang travelingnya udah disiapkan utk hongkong aja.. >_<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s