Jalan-jalan Chiang Mai Part 1

Agak susah ternyata ya mencari judul yang catchy?

Ini adalah edisi perjalanan menjelajah Thailand berikutnya. Chiang Mai merupakan salah satu destinasi yang menyenangkan bagi saya karena kami punya banyak teman yang berasal dari tempat ini. Sengaja saya memilih pulang berbarengan agar punya teman untuk bertanya. Secara ya, sampai detik ini konversasi saya tidak beranjak dari kop khun ka dan sawasdee ka. Parah!

Kami berempat memilih naik bis Nakhonchai Air, seri Gold Class. Tiket pulang pergi seharga 1314 baht termasuk biaya pembayaran di minimart 7-11, masih lebih murah dibanding harga tiket pesawat dadakan termurah one way seharga 1600 baht. Perusahaan bis ini adalah yang terbaik di Thailand. Di dalam bis serasa berada di pesawat. Tempat duduk lebar plus massager, sandaran kaki disertai layar monitor pribadi. Nyaman. Berangkat dari pool Nakhonchai Air jam 20.30, kami tiba di Chiang Mai jam 7.00 pagi.

548412_4078933550678_701617123_n

Chiang Mai tidak seperti Bangkok yang padat transportasi. Perjalanan publik dalam kota bisa dilakukan dengan menaiki tuk tuk atau song taew berwarna merah. Taksi jarang ditemui, lebih banyak di bandara. Untungnya kami menebeng mobil ikut serta dengan P’Toon dan Meen yang asli Chiang Mai. Kalau tidak, mungkin persis orang bingung. Baru bangun tidur, tiba-tiba terbangun di negri antah berantah dengan bahasa yang tak dikenal.

Sebelum pergi ke tempat Meen, kami diajak ke area Night Bazaar yang terlihat sepi di pagi hari. Karena P’Toon bekerja di Islamic bank yang berdekatan dengan mesjid, saya bak menemukan surga makanan. Murah-murah. Semangkuk mie putih kuah kental seharga 35 baht, lalu 3 potong sayap ayam goreng plus sticky rice  25 baht. Langsung kalap belanja untuk sarapan, karena semalam saya diberi nasi kotak berisi ayam sayur dan telur. Hanya kuning telur dan setengah porsi nasi yang saya makan, sisanya khawatir.

602159_4078934190694_478233934_n

Setelah mengambil foto masjid, kami langsung menuju kediaman Meen dan diberi kamar bersih gratis untuk 2 malam. Mungkin setara dengan guesthouse seharga 500 baht. Keluarganya memiliki tempat kos-kosan untuk mahasiswa. Setelah mandi dan sarapan, kami langsung diantar P’Toon dengan Jazz hitamnya ke arah Doi Suthep. Lagi-lagi karena mendapat servis gratis, kami hanya mengisi BBM  seharga 1000 baht. Sebenarnya saya malas sekali wisata religi dari wat ke wat. Bosan. Namun apa daya. Belum ke Chiang Mai namanya jika belum pernah ke Doi Suthep. Doi sendiri artinya gunung. Baiklaaah…

Perjalanan dari kota ke area Doi Suthep memakan waktu kurang dari 1 jam dengan jalan berkelok-kelok seperti di Puncak. Hanya saja kami datang di musim yang salah, Pepohonan banyak yang meranggas dan kering. Tadinya kami akan singgah di Doi Pui, tempat tinggal suku Mong yang terletak di paling atas. Tapi karena malas, *hihi.. perjalananan apaan ini* akhirnya tempat pertama yang kami singgahi adalah Bhubing Palace, lantas Doi Suthep, lalu yang terakhir ke Chiang Mai Zoo karena perjalananannya searah pulang. Yup, sebenarnya tidak ada ide sekali. Pertama karena masih lelah setelah perjalanan dari Bangkok. Lantas tidak enak juga merepotkan tuan rumah karena kami full numpang.

Ups.. ceritanya Doi Suthep dan teman-teman menyusul saja. Saya sudah ditunggu si kecil yang sedang mengantri untuk main game. Saya mau ke salon, hihi…