Pentas seni Songkran

Di sini kami sedang libur semester tahun ke 2, terhitung 31 Maret sampai 17 April.. yihaaaaa! Sebenarnya akan menjadi sebuah liburan yang menyenangkan apabila ujian-ujian kemarin berlalu dengan sukses. Tapi apa dikata begitulah adanya. Meski ingin rasanya jadi bersembunyi karena tidak sukses, saya akhirnya mencoba melupakan kegalauan yang ada. Bersenang-senang!

Tanggal 13-16 April adalah perayaan Songkran, tahun baru Thailand. Mengenai awal kisahnya bisa dilihat di situs resmi turisme Thailand, yang menjelaskan tradisi setiap region dalam merayakan tahun baru.

Singkat cerita jika teman-teman berada di Thailand pada tanggal itu dan berada di area publik, maka dapat dipastikan akan pulang dengan keadaan basah kuyup. Di lokasi tertentu malah terjadi perang air besar-besaran memakai pistol air atau waterhose. Setiap orang harus rela disiram dan tidak boleh marah. Bahkan kadang bis atau taksi pun tidak luput dari guyuran air. Kalau saya rasanya bakalan emosi kalau diguyur orang tidak dikenal dengan tiba-tiba. Karena saya termasuk golongan anti air.

Kegiatan Songkran di akademi baru saja selesai sore ini, seminggu lebih dini. Jadi jika saya tidak berinteraksi dengan internet *kecuali nonton drama favorit, teteup yah?* selama ini, hal itu disebabkan karena kami sibuk latihan menari tradisional untuk pentas Songkran. Yup.. tidak salah baca. M-e-n-a-r-i.. haha

Sewaktu pertama kali mendapat jatah menari dari organizer, saya gondok setengah mati. Gile aje, setua ini disuruh manggung dengan gaya anak muda? Mbok ya, saya jadi MC saja. Kan tidak perlu bergaya centil-centilan ala girlband cibi. Ya ampun, kualat rasanya sering menggoda teman sekelas yang masih suka alay. Apa kata dunia? Ini kalau teman-teman sekantor tahu saya ikutan pentas, pasti mereka ngakak habis-habisan. Nggak banget deh judulnya. Prestasi terbesar dan satu-satunya saya selama ini adalah manggung tari kreasi di pentas yang berlokasi di stasiun kereta dalam rangka 17 Agustusan jaman masih SMP.

Tapi jumlah personel kami sedikit, hanya ber-18. Dua teman Ina saya menjadi presenter, lainnya menari masing-masing 4 orang dalam 4 region Thai. Saya kebagian daerah selatan, yang berbatasan dengan Malaysia. Kami menari tari kipas. Tari kipas ini punya makna yang sama antara bahasa Thai dan Melayu. Sebuah tarian yang cukup simpel dan mudah diikuti.

Setelah latihan 2 hari berturut-turut disertai dengan tangan yang tidak lentur dan jari yang kaku, akhirnya kami tampil. Grogi rasanya ketika melihat para Ajarn berada tepat di depan saya. Malu. Niat untuk menebalkan muka dan pamer gigi mendadak hilang begitu saja. Demam panggung. Padahal sesi tarian saya hanya 3 menit saja. Baru setelah semua region selesai, kami kembali tampil bersama dengan liukan jari khas Thai untuk bersuka ria merayakan Songkran dan melanjutkan acara formalitas.

Tidak ada acara saling mengguyur di akademi. Kami membawa mangkok kecil berisi air bunga untuk dituangkan ke tangan para Ajarn sesepuh. Pay respect dan receive their blessings. Lebih kepada penghargaan anak kepada orangtua dan menerima doa orangtua kepada anak.

…….

Lega sih setelah acara selesai. Meski ada sedikit kecewa kenapa tampil hanya sebentar *tiba-tiba jadi banci pentas*. Dari kemarin badan rasanya sudah sakit semua. Setelah pentas tadi akhirnya saya sadar dan mantap memilih mengundurkan diri dari audisi girlband, hihi… Pegel ternyata! Lagipula, teman saya protes “mbak, dandanannya sih udah kayak penari ronggeng.. tapi kenapa nggak ada goyangannya, ya?”

*tidak ada sesi aplot foto…*