Lovely Saturday

Saya punya banyak cerita random tentang hari Sabtu kemarin.

Meski masih berada di seputaran kota Bangkok total 12 jam saya berada di luar residence. Mantap! Tumben banget saya jalan dari Laksi sendiri. Saya hanya ingin melupakan ujian hari Jum’at yang sukses membuat saya tersenyum rikuh seorang diri. Mau tau soalnya apa? Fill in the blank, teman-teman. Haha, baguuus.. Sampai panas kepala mempelajari hal-hal yang rumit tentang dunia perkankeran, soal yang keluar malah bagian yang tidak terlalu saya perhatikan. Nasib.

Ceritanya, seorang kenalan yang saya anggap paling welcome akhirnya pai kaban (pulang ke rumah) setelah menghabiskan waktu lebih dari 4.5 tahun untuk bermesraan dengan udang P.vannamei dan P.monodon, menghasilkan gelar Ph.D dengan mulus. Padahal jika riset saya berikutnya juga masih memakai udang yang sama, saya bakalan kehilangan mentor.

Saya berangkat dari Laksi jam 8.30 pagi dan baru sampai di kawasan Petchburi Soi 11 jam 10.15. Kombinasi antara macet naik bis, BTS, dan jalan kaki membuat saya sadar kalau residence saya itu ada di pinggiran kota. Lalu naik 2 taksi kami bersembilan mengantar ke bandara Svarnabhumi. Kawasan lalin yang agak macet membuat supir enggan memakai argo dan mematok harga 400 baht termasuk tol. Bagasi hampir 60 kg diperoleh gratis setelah senior tadi berkorespondensi dengan direktur perwakilan Garuda di Thailand untuk meminta keringanan. Jika tidak ada surat, kelebihan 1 kg dikenai 400 baht (kalau tidak salah dengar).

Setelah urusan saying goodbye selesai, kami menuju lantai 3 untuk ke musholla. Saat duduk di bangku tunggu, tiba-tiba saya melihat sesosok profil lelaki muda sedang melangkah tenang¬† disertai dua orang di belakangnya ke arah saya. Ia¬† terlihat luar biasa mempesona dari kejauhan. Tinggi, putih, berpakaian bagus, berkacamata hitam, dan terlihat sangat ganteng. Saya kira dia bukan siapa-siapa, karena tidak ada yang berkasak-kusuk di belakangnya atau mengambil foto. Setelah ia melewati tempat saya duduk, barulah muncul orang-orang yang bilang ia artis film Thailand yang akan melakukan shooting di lantai 2. Whuaa…pantas menggiurkan sekali. Tapi teman saya langsung nyeletuk, “lihat dulu, pacarnya perempuan atau lelaki”.. Haha, iya. Lupa.

Setelah cuci mata selesai, kami melangkah menuju lantai 1 (atau Basefloor ya? kok jadi lupa) untuk makan di foodcourt bandara. Tempatnya kecil dan termasuk kategori murah. Untuk belanja di dalam kantin, kita menukar uang sekitar 100 baht untuk diganti kupon 5 dan 10 baht. Tempat makan halal ada 1. Dari tempat kupon kita berjalan belok kiri dan mentok ke kiri lagi. Posisi kios paling ujung. Hanya menjual nasi kuning dan ayam. Pilihan lainnya adalah 1 kios seafood yang sejajar dengan kios halal tapi letaknya di ujung yang berbeda. Tidak susah kok mencarinya, karena lokasi kantin itu tidak besar.

Setelah makan, saya memutuskan ikut kegiatan teman-teman yang biasa mengadakan pertemuan kajian. Kali ini kami akan pergi ke Islamic centre di Ramkhanghaeng. Dari bandara kami naik airport rail link menuju Phayathai dan berhenti di stasiun Ramkhanghaeng membayar 30 baht. Dari pintu exit kami berjalan lurus sampai jalan raya dan dengan nakal menyebrang jalan tanpa jembatan berjalan ke arah kiri sampai bertemu Soi 2 Ramkhanghaeng lalu masuk ke dalam gang tersebut. Aura kawasan muslim sudah terasa di sekitar itu, dan kami masuk ke Islamic centre yang megah.

Ternyata di sana sedang ada event perayaan 1 tahun stasiun white channel. Ada bazaar di sekitar kawasan. Dan yang paling seru, ada makanan kecil gratis yang disediakan panitia. Dengan pede teman-teman ikut nimbrung mengambil makanan minuman. Tidak tahu ya apakah mereka minta ijin atau tidak, hihi.. Saya tidak berani ikutan mengambil, tapi ikut makan juga *ye, sama aja*. Padahal kan ketahuan banget kalau kita bukan orang Thailand. Dari cara pakaiannya saja sudah berbeda, orang Indonesia lebih berwarna-warni.

Sedikit bercerita tentang muslim Thailand, secara fisik mereka diberi kelebihan raga yang rupawan. Perempuannya cantik, lelakinya tampan. Rata-rata muslimah Thailand berkulit putih, memakai gamis hitam atau bahkan banyak yang bercadar dan memakai celak mata. Para lelaki muslim biasanya memelihara jenggot, berpakaian gamis hitam atau putih. Kadang saat melihat mereka, saya suka merasa sedang tidak berada di Thailand.

Di halaman mesjid kami berkumpul untuk bergantian mengaji, membaca tafsir, sekaligus menyampaikan materi dan diskusi. Dan yang paling menohok adalah saat materi yang disampaikan itu menyentil status pelajar saya yang diharuskan untuk belajar, ikhlas, bekerja keras, dan semangat. Secara ya.. dari kemarin rasanya masih saja berkeluhkesah, tidak suka, atau tidak bisa beserta para tidak lainnya. Rupanya Allah memang membiarkan saya menikmati Sabtu dengan suasana berbeda yang mengharuskan saya merenung lagi. Terimakasih banyak pada teman-teman seperjuangan para dosen universitas yang sedang menempuh S3 *ehm, sebenarnya sih adik-adik ya.. karena rekor usia masih dipegang saya* yang berbagi cerita dan saling memberi semangat.

Panas hari ini luar biasa, maklum sudah menjelang musim panas. Selesai diskusi, kami memutuskan untuk berkeliling bazaar mencari makanan. Duh, surga rasanya melihat banyak makanan halal. Saya memutuskan untuk membeli nasi kuning plus semur daging sapi 50 baht, 2 cup lasagna @ 45 baht, kolak labu 30 baht, kue lapis 35 baht. Atau kepingin sekali balas dendam beli ini itu untuk persediaan makanan seminggu. Atau mencicip makan aneka jajanan yang biasa saya temui di banyak tempat. Tapi saya menahan diri, tidak baik jika berlebihan. Lagipula makanan itu tidak akan awet. Yang paling seru saat balas dendam membeli siomay seharga 30 baht. Ceritanya waktu kemarin saya sempat beli siomay udang di supermarket yang rasanya uenaak banget.. tidak tahunya? Teman nonpri yang sharing meal dengan saya sudah curiga kalau baunya beda tapi dia tidak tega melihat saya happy dan tidak yakin pula. Saat kami belanja lagi, saya tunjukkan lokasi harta benda itu. Karena ia jurusan teknologi pangan, ia membaca kemasan dan bilang kalau lard itu artinya lemak babi. Huwaa.. gini nih, kalau punya English pas-pasan?

Tapi kehebohan ibu-ibu ini tidak berhenti di makanan, karena banyak yang menjual pakaian murah akhirnya kami malah berhenti di stand pakaian untuk memborong. Dasar ya, orang Indonesia hobi belanja.. teman saya malah membeli batik dari Yogya, dan pakaian khas tenun Chiang Mai seharga masing-masing 50 baht. Saya juga tergoda untuk membeli baju lucu-lucu bervariasi antara 20, 50, 100, dan 150 baht. Bayangkan, dari harga 6000 rupiah dan masih baru. Nyesel nggak beli banyak #lho?

Setelah memutuskan mengerem untuk tidak berbelanja lebih lanjut, kami sholat Maghrib dan menghabiskan jajanan di area event sebelum kembali ke kandang masing-masing. Perjalanan saya lumayan jauh, dari satu bandara ke bandara lain. Hanya memakan waktu 1,5 jam karena banyak ditempuh dengan BTS sampai Mo Chit lalu menyambung bis ke arah Laksi. Tiba di residence hampir jam 9 malam, dan mendadak mulai terasa capek. Kaki sih masih sehat, tapi pinggang… ooh!

Meski lelah tetap menjadi suatu hari yang menyenangkan… *minum 2 tablet antangin*