Lagi-lagi soal

Minggu ke 3 sudah dilewati dengan terengah-engah, tapi masih ada seabreg materi yang harus disimpan di kepala. Masih 2x lagi kalau ingin teriak “aku bebaaas!” Kalau buat saya, mungkin ada tambahan catatan boleh bilang bebas kalau hasilnya tidak terlalu jauh dari rata-rata kelas. Kabar burungnya sih tidak akan ada ujian ulang. Jika mendapat hasil paling kecil dan sepertinya memang iya *habis siapa lagi yang paling tuwir, ga nyambung, dan ngos-ngosan?*, mungkin hanya akan diberi tugas tambahan. Aduh, biar saja deh. Pasrah!

Bicara tentang ujian saya jadi ingin cerita tentang tipe soal yang harus kami jawab kemarin. Semenjak sekolah ini, saya jadi takjub sendiri mendapati hasil karya fiksi sebuah karangan indah yang bisa bolak-balik satu halaman. Entah nyambung atau tidak, yang penting tulis saja apa yang diingat. Essay dalam bahasa Inggris? Jujur saja ya, aslinya saya ini minim banget dalam urusan English apalagi yang scientific. Entah writing, listening, speaking, apalagi grammar. Pokoknya pas-pasan banget. Kalau disuruh membuat blog dalam bahasa Inggris pun kayaknya nggak deh, kebanyakan suka lupa grammar dan miskin kosakata  Mahasiswa angkatan lama katanya sih bisa bikin jawaban sampai 4 halaman, Tapi sekarang sepertinya dibatasi, paling banter 1 halaman. Dosennya mungkin pusing membaca jawaban ngalor ngidul.

Iya.. saya paling suka disuruh menjawab soal essay. Meski kadang suka mati kutu kalau kebetulan tidak tahu jawabannya apa atau pernah baca tapi lupa *kebanyakan sih kasusnya seperti ini*. Ingat frame halaman dan posisinya ada dimana, tapi tidak ingat isinya apa, haha. Di awal jawaban biasanya tulisan tangan masih bagus dan rapi tapi lama-lama hancur tak berbentuk. Tidak konsisten dan menggambarkan perasaan hati yang sesungguhnya.

Tapi ternyata di unit 1 itu, di saat saya mati-matian menghapal ini itu kesana kemari. Mekanisme, bahan kimia, reaksi, definisi, dan lain sebagainya tiba-tiba kami disodori soal benar atau salah, pilihan ganda, jawaban singkat, atau mencocokkan. Tanpa ada essay.

Ya ampuuun, pengen nangis rasanya… *bercucuran airmata buaya*

Tau sendiri kan, benar salah itu bukan seperti jaman kita SD dulu. Tricky banget. Dan apesnya, saya sama sekali tidak tahu jawaban yang benar. Hanya tahu satu statemen, sementara statemen lainnya tidak yakin. Sudah begitu, jika harus memilih memang terasa sekali kegalauan yang ada. Persis seperti memilih kekasih hati. Jawaban yang benar saya contreng salah, demikian pula sebaliknya. Akhirnya di unit 2, jika tidak tahu persis jawabannya apa saya selalu memilih jawaban benar. Cari aman.

Sementara untuk pilihan berganda, nyerah. Beneran cap cip cup kembang kuncup. Pakai naluri dan bismillah. Plus faktor keberuntungan. Pilihan ganda yang penuh muslihat itu mengharuskan kita untuk  teliti dan mengerti semuanya jika ingin menjawab benar.

Ya, sebenarnya soalnya sih tidak terlalu susah. Hanya jawabannya saja yang tertinggal di handout *tuing..tuing*

Jujur.. kepala rasanya masih penuh.

–udah ah, mau lanjut TWTWB dulu–