Ultah berkesan

Ikut kontes adalah salah satu sarana untuk membersihkan blog dari debu dan rayap. Sekaligus merilis toksikan dan menyediakan ruang memori baru untuk materi berikutnya. Melepas stres.

Tapi setelah menimbang-nimbang dan berpikir sekian lama, ternyata saya kehilangan ide sekaligus tidak punya data pendukung yang pas untuk mengikuti giveaway Ultahku milik keluarga Qudsy. Hanya saja berhubung saat ini bulan Maret, dimana saya juga akan turut berulangtahun yang ke 3.. sekian *seumurlah sama Samara* saya jadi tambah rajin memanggil ulang memori.

Hasilnya? Tetap nihil.. hihi

Ternyata memang tradisi di keluarga saya dahulu dan keluarga kami sekarang memang sama sekali tidak menganggap ulang tahun adalah sesuatu yang spesial. Semuanya berlalu seperti hari-hari biasa, meski tetap ada ucapan selamat ulang tahun dengan catatan kalau ingat.

Kenapa bisa begitu ya?

Saya jadi bingung sendiri.

Sebegitu membosankankah cerita hidup ini sampai tidak ada dinamika dan warna-warna? Entahlah, mungkin hanya faktor ingin simpel dan tidak ingin aneh-aneh saja.

Satu cerita yang paling saya ingat tentang ulang tahun hanyalah saat saya merayakan ulang tahun seorang senior yang ke 20 (oke baiklah saya mengaku : dibaca sebagai nyaris cinta monyet), berabad-abad silam di saat para dinosaurus masih hidup berkeliaran mencari mangsa.

Hm, dibahas nggak ya?

Mengenai oknum yang bersangkutan sih saat ini entah ada di belahan bumi sebelah mana dan pasti sudah bahagia di alamnya. Saya tidak ingin menggali-gali lubang cerita romantika lama. Tapi jujur saja, saya paling suka pada momen-momen menyenangkan on the way to celebrate his birthday. Saat itu kami masih lucu dan polos khas anak abg tahun 90-an. Lokasi di kota Bogor.

Malu-malu (kekeke) saat itu saya menerima ajakannya untuk pergi ke sebuah toserba yang lokasinya lumayan jauh, mungkin lebih dari 1 km. Dengan sok gagah perkasa, saya menolak untuk naik angkot dan mengajaknya berjalan kaki.  Pulang pergi. Hm, iseng banget kan? Tidak tahunya perjalanan itu membuat ngos-ngosan dan akhirnya kaki saya gemetaran begitu sampai di tempat kos lagi.

Ya ampuun, kaki rasanya sudah tidak sanggup menopang badan. Pegal luar biasa. Orang Sunda bilangnya meni leklok. Kapok!

Rupanya saya salah target karena orang yang saya ajak berjalan kaki itu tukang naik gunung. Sementara saya sibuk memijiti kaki, yang bersangkutan malah asyik senyum-senyum sendiri. Beuh, emang enak?

Catatan penting : tidak ada adegan pegangan tangan atau apapun lho ya, asli jalan kaki saja. Lantas rasanya juga tidak ada pembicaraan yang menjurus ke arah getar-getar asmara (ehm, jadi batuk) sepanjang perjalanan. Biasa banget.

Tebak apa yang ia belikan buat saya?

Hanya 2 batang coklat silverqueen untuk saya pribadi dan sekotak es krim rasa stroberi untuk teman-teman satu kos yang sibuk saling bersuit-suitan setiap melihat ia datang mengunjungi kami *atau mungkin saya?*

Aiiih, hihihi… speechless! Dimana harga diri ini disimpan? Kenapa tidak meminta hadiah yang mahalan sedikit?  *lho, sebenarnya siapa yang ultah sih?*

Dan teman-teman saya yang usil luar biasa itu, alih-alih mengucap terimakasih karena sudah kami belikan oleh-oleh *maklum ya, yang namanya anak kos* tidak tahunya malah sudah berencana membuat birthday prank pada sang senior. Ketika ia sedang berbicara pada saya di depan ruang terbuka, seorang teman datang dari arah belakang sambil membawa air bekas pel dan mengguyurkan ke tubuhnya. Saat saya masih kaget, datang lagi teman lain membawa terigu. Byuur.. Saya terpana. Kasihan tapi ingin tertawa. Lantas akhirnya saya malah ikut serta berpartisipasi.

Lalu dengan sibuk ia mulai membersihkan badannya. Tak lupa saya memberikan simpati serta perhatian luar biasa bak suster jaga 24 jam *yup, antara perhatian dan kecentilan kadang memang suka tidak jelas batasnya*

Standar sih.. yang namanya ulang tahun anak muda. Ya.. kalau tidak disiram air, diceplok telur mentah, lalu ditaburi terigu. Lantas ditodong traktiran. Tidak berubah sampai sekarang.

Berkesan? Mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Namun ingatan tentang satu per satu momen yang masih terlihat jelas sampai sekarang membuat saya berpikir bahwa kisah itu adalah salah satu yang belum terlupakan. Berbeda sekali dengan hapalan-hapalan yang baru selesai minggu lalu. Langsung mendadak amnesia begitu kertas jawaban dikembalikan. Mungkin karena ada banyak unsur pendukung di balik cerita yang membuat itu tetap ada. Tentang segala sesuatu yang pertama dan rasanya hanya sekali-sekalinya. Tentang cerita yang bisa saya simpan tanpa meninggalkan luka. Tentang berdamai dengan masa lalu.

Sebuah kenangan menyenangkan, meski di antara kami akhirnya tidak ada cerita apa-apa.

NB : kira-kira event apa ya yang bisa membuat ulang tahun saya kali ini menjadi lebih berkesan? Ada ide?

====

“Postingan ini diikutsertakan pada Give Away Ultah Samara”

Selamat ulang tahun ke 3 buat Samara.. semoga jadi anak sholehah ya Nak.