Dibalik cerita

Setelah merenung sekian lama akhirnya saya mengerti mengapa saya tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang entertainer….artis atau penyanyi *pasang muka serius*

*tiba-tiba terdengar tawa cekikikan dari sebuah sudut, sementara yang lain menggelengkan kepala*

Oke, baiklah.. kenapa prolognya terdengar aneh seperti ini?

Ceritanya terinspirasi dari kegiatan ujian sebulan kemarin *dilarang bosen*. Jum’at lalu adalah sebuah klimaks yang berujung dengan perasaan yang tak bisa dilukiskan. Bahkan seorang teman jenius kami menuliskan status tentang betapa berat kehidupan di akademi. Jujur saja, dalam sesi ini sebenarnya saya suka sebal dengan profil yang sok merendah padahal mereka mampu. Jadi merasa terhina dina.. Just try to be in my position and step on my shoes. You can’t even imagine! *erosi*

Eh malah ngalor ngidul, mari kembali ke topik mengapa tidak bisa menjadi artis.

Kalau soal penampakan dan bakat akting mungkin tidak perlu dibahas lagi, hihi.. Alasan penting yang baru ditemukan adalah ternyata saya kesulitan menghapal dialog *bisa dilihat dari kesulitan menghapal materi selama ini* dan berpotensi besar untuk bolak-balik jatuh cinta pada lawan main.. Hwadeuh, lama-lama tulisan ini makin aneh.

Saya tidak terlalu suka film, kalau melihatpun mungkin keseringan diforward, cukup prolog inti dan ending. Tapi gara-gara kemarin banyak melihat behind the scenes drama dan sempat-sempatnya menonton serial drama tentang proses pembuatan film *sebuah pernyataan kontradiktif dalam satu paragraf*, saya jadi jadi sadar bahwa membuat drama atau film itu melelahkan. Untuk 1 scene bisa take berkali-kali, terdengar sahutan cut berulang-ulang, belum lagi NG’s. Editing, sound & effect, marketing, belum lagi rating. Butuh kekompakan dan kerja sama tim yang solid.

Saya yang tiba-tiba berfantasi menjadi artis utama *dilarang protes* membayangkan akan berapa kali take scene dilakukan jika tidak mampu menghapal dan mengapresiasi naskah menjadi dialog yang menyentuh penonton. Belum lagi menahan malu jika harus berlakon di ruang publik, semisal berlari-lari mengejar abang tukang sayur sambil memakai daster, memasang masker wajah dan rol rambut *adegan apa ini?* Lantas jika harus berhadapan dengan lawan main kinclong yang membuat hati deg-degan. Bagaimana ya caranya mereka men-switch on/off screen perasaan mereka saat harus beradegan romantis? Sampai sekarang, saya tidak mampu mendalami emosi asli mereka.  Saya merasa salut jika mereka bisa menganggap tidak ada apa-apa. Semuanya adalah bagian dari pekerjaan. Sementara jika saya ada di posisi itu mungkin tidak akan bisa. Kalau jatuh cinta beneran mungkin terlihat cinta setengah mati, kalau tidak ada apa-apa pun mungkin tidak bisa berperan sebagai pasangan yang saling cinta.

….. ceritanya sedang berpikir …..

Ya… akhirnya tersadar juga. Banyak sekali aspek-apek yang tidak kita ketahui, apa hikmah di balik suatu cerita, atau kenapa kita ingin A tapi tidak diberi.

Aissh, sebenarnya mau nulis apa sih ya?