Guide dadakan

Sewaktu teman kuliah saya bilang ia akan ke Bangkok, saya memastikan diri untuk meluangkan waktu menemaninya keliling kota. Bukan apa-apa, setiap saya singgah ke Makassar minimal setahun sekali setiap ke sana pula saya selalu merepotkan. Ia selalu mengajak saya dan rombongan menikmati kota Makassar, terutama wisata kuliner dengan gratis. Saya jadi tidak enak hati. Malu ceritanya, haha..

Tapi dia bilang karena saya sedang di sini, jadi sang suami mengijinkannya pergi jalan-jalan. Oke, baiklah ternyata status saya berguna juga.

Teman saya memberikan alamat residence tempat rombongan menginap. Sebenarnya tidak jauh, masih sama-sama di Vibavadhi road. Tetapi berhubung Vibavadhi dari ujung ke ujung saya tidak bisa memprediksi dimana sebenarnya lokasi yang dimaksud. Daripada nyasar akhirnya saya naik taksi dengan membawa alamat palsu. Ya benar, alamat itu ternyata salah saya baca. Saya selalu bilang Soi 19 (soi sip kaow) untuk alamat Soi 1/19 Vibavadhi (aslinya dengan tulisan kriting) 38 , blablabla.. Dan dengan pede saya mempraktekkan bahasa Thai dengan sangat terbata-bata.

Sopir taksi bilang kalau alamat ganjil ada di seberang jalan. Jadi kami harus mencari U turn. Tahu sendiri jalanan di sini lebar dan U turn-nya lumayan jauh. Kami berputar mencari nomor yang dimaksud tapi tidak berhasil. Setelah 2x memutar dan tidak menemukan Ratchavipa Residence, akhirnya saya memberikan nomor telp residence kepada sopir taksi supaya komunikasinya berlangsung lebih lancar.

Ternyata residence itu ada di Soi 38 ( soi sam sip paed), saudara-saudara.. Sopir taksinya bilang, iya 19×2 *jadi malu*

Ya, dengan begitu pedenya alamat itu saya baca sedemikian rupa padahal 1/19 itu no residence-nya. Walhasil perjalanan yang sebenarnya memakan waktu sekitar 15 menit jadi meningkat 45 menit disertai rasa mual-mual karena bolak-balik memutar Vibavadhi road. Plus ongkos taksi yang seharusnya 65 baht naik peringkat jadi 210 baht.

*pengalaman berharga : lain kali jangan sok tahu baca alamat sepotong-sepotong, mending kasih kartu/printout-nya sekalian*

Di sana teman saya tidak sendiri, melainkan berdelapan orang dan banyak yang sepuh. Mereka para pengajar dan petinggi di universitas. Mereka ingin saya menemani ke beberapa tempat familiar *baca : tempat belanja*.

Waduh, saya salah strategi. Seharusnya kalau tahu mereka datang berombongan tentu akan lebih efisien jika menyewa van. Tapi masalahnya banyak pengemudi yang tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa konversasi Thai plus tidak punya teman Thai yang bisa dijadikan guide. Klop deh.

Tapi berhubung hanya sampai Jatujak, akhirnya saya membawa mereka naik bis saja. Sepuluh orang naik bis sepanjang 3 halte sampai Jatujak. Dan lagi-lagi halte serta jembatan penyeberangan di sini lumayan, saya tidak enak hati karena membuat para sepuh berjalan kaki di siang yang panas. Tapi ya beginilah Bangkok.

Sampai di Jatujak yang lagi-lagi saya tidak familiar saking luasnya, saya kembali ‘menyasarkan’ mereka berkeliling mencari clock tower. Setelah bertanya pada tukang penjual minuman, akhirnya saya hapal. Saya harus mencari gang no 24 dekat exit 3 untuk langsung ke sana. Dan sampailah kami di tempat makan muslim Saman Islam untuk brunch.

Di Jatujak, kami memutuskan untuk berpisah belanja dan bertemu di residence saja. Wanti-wanti saya bilang, jangan naik bis kalau tidak tahu mau turun dimana, mending kasih kartu nama hotel ke sopir taksi saja.

Akhirnya saya hanya berdua dengan teman saya belanja. Lainnya, bapak ibu itu entah kemana. Setelah selesai belanja kami berdua  singgah ke residence, masuk ke kamar, jalan-jalan dan foto-foto di tiap gedung di komplek institusi saya nan indah permai itu. Saya sampai malu dipandangi pak satpam. Mau disimpan dimana muka ini, kalau tiap meter ambil foto? Teman saya bilang, kalau tempatnya seperti ini dia jadi tidak ingin cepat lulus. Betah. Hihihi, saya mah makasih deh.

Dari residence, kami pergi naik BTS ke Siam dan MBK untuk makan makanan Indonesia. Mall-mall pasti ramai karena imlek. Saya naik taksi dan bilang ingin ke Mo Chit. Ketika sopir taksi menyerocos bilang *saya tidak full 100% mengerti* apakah saya akan ke Chiang Mai atau Phuket? Saya jadi bingung, jangan-jangan saya salah sebut tempat tujuan. Akhirnya saya koreksi jadi BTS Mo Chit, karena kalau Mo Chit saja ia akan membawa saya ke terminal bis antar kota. Dan akhirnya saya diturunkan persis di taman seberang pasar Jatujak untuk berjalan kaki lagi menuju stasiun BTS *oh, kaki*

Di mall, tidak perlu dibahas ya.. yang jelas saya sampai ke residence jam 9 malam.

Esoknya rombongan minta ditemani ke Grand Palace, Wat Pho, Wat Arun. Aduh, wisata religi di siang bolong lagi? Karena dengan kendaraan darat jalanan relatif macet, saya mengajak mereka pergi via BTS dan boat. Di stasiun, saya memberitahu arah tujuan serta bagaimana menggunakan BTS di Bangkok supaya mereka familiar. Pembelian kartu BTS harus memakai uang koin *meski ada mesin yang menerima uang kertas*. Jika tidak punya koin, bisa ditukar di konter koin. Lalu baca peta kita ingin kemana dan lihat berapa harganya. Lantas tinggal kita pilih harga yang tertera di mesin lalu masukkan uangnya dan kartu keluar. Dan selanjutnya masuk gate menuju ke kereta. Tujuan saya mereka harus bisa pergi sendiri kalau tertinggal dengan rombongan. Akhirnya kami naik BTS dari Mo Chit sampai Saphan Thaksin *lagi-lagi saya sempat salah ngomong, mau pergi ke Saphan Kwai.. error*

Sampai di pier Satthorn, saya sempat bingung kenapa banyak turis yang antri beli tiket terusan 120 baht. Menurut teman saya, kita  naik boat bendera oranye seharga 15 baht. Setelah bertanya dengan petugas, kami bisa langsung naik boat ke Ta Thien (dermaga tempat turun menuju Wat Pho dan Wat Arun) tapi harganya 4o baht seorang. Jika ingin ke Grand Palace, turun di dermaga satu lagi Maharaj apa gitu, lupa.. Saya mengajak turun di Ta Thien, karena saya tahu ada tempat makan halal pinggir jalan yang bukan resto. Kalau di dermaga selanjutnya saya tidak kenal medan dan saya membawa rombongan.

Setelah makan siang, kami ke Wat Pho. Saya menunggu di luar sambil waswas, masalahnya karena hari makin terik dan jalan menuju gate Grand Palace lumayan jauh. Mau naik taksi atau tuk tuk, jalanan macet. Serba salah. Akhirnya rombongan terpisah, karena tidak kuat panas mereka memilih tidak ikut selain karena sudah pernah juga. Kami pergi berenam ke Grand Palace yang ternyata sangat melimpah ruah penuh dengan turis. Dan ketka melihat tiket masuk 500 baht, roombongan tidak jadi masuk dan berfoto di luaran saja. Haha.. ayo kembali ke Ta Thien, kita pulang ke Satthorn.

Di dermaga, terjadi adegan saling menunggu teman yang terpisah. Karena waktu sudah menunjukkan jam 3 lewat akhirnya saya mengajak mereka kembali ke Saphan Thaksin untuk shalat di mesjid Ban Oou. Istirahat sejenak sambil menanti jadwal shuttle boat ke Asiatique mulai jam 4 sore. Sisa rombongan tinggal berempat.

Di sini saya wanti-wanti, sebentar saja ya di Asiatique..nanti keburu sore, blablabla.. tidak tahunya kami malah bereksplorasi dan foto-foto kesana kemari *saya sebagai tukang foto* sampai naik flyer harga promosi 200 baht. Bapak ibu dosen yang semula takutpun akhirnya menyerah ikutan juga. Ya, hitung-hitung pengalaman dan mereka senang plus pegal-pegal luar biasa. Sampai 2 hari kaki terasa kencang sekali.

Kadang saya pikir profesi guide itu luar biasa. Selain harus kuat secara fisik, kita juga harus peduli dan bertanggungjawab pada keberadaan anggota rombongan. Membuat mereka senang dan bisa menikmati perjalanan.

Dan sepertinya saya gagal jadi guide yang baik.. dari 9 orang berangkat yang tersisa hanya 4 orang..haha

=======

nb : Ada teman yang bertanya kenapa saya mau merepotkan diri.. Pertama tentu karena ada teman baik saya di sana, lantas kedua ternyata mereka adalah dosen-dosen bahkan profesor yang low profile. Memang mereka bukan pengajar langsung saya, tapi berada di Thailand yang notabene para siswanya respek terhadap Ajarn-nya membuat saya menjadi lebih respek pada para pengajar Indonesia. Teman saya yang dosen itu juga mengeluhkan kelakuan para mahasiswanya yang kian lama kurang menghargai para gurunya. Sedih sekali melihat sebagian anak muda seperti itu, sepertinya mereka harus belajar banyak dari sini. Ketiga, menyenangkan rasanya bisa menolong orang lain. Percaya deh!

36 thoughts on “Guide dadakan

  1. Daftar ah tuk di guide mama Hilsya. … Ada rasa nyaman tersendiri bila jalan2 ditemani rekan sebangsa di negeri tetangga. Suka sekali dengan konsep Ajarn, guru sekaligus pembimbing, respek dan keterdekatannya lebih langgeng. Salam

  2. Mbaaaaa…
    Inih kenapa jadi guide tapi kok hobi menyesatkan turisnya begini yaaah…hihihi…

    Gimana atuh kalo aku jadi pengen kesonoh jugaaaa…
    Pengen ke tempat syuting nya si leonardo dicaprio tea geuningan..hihihi..
    *mulai delusional*

  3. Ping-balik: Very Inspiring Blogger Award | lovelyristin

  4. Asyik…kalo ke sana ada guide gratisan hihihihi.
    Tapi si Jatujak itu emang luas bgt ya Teh, tempo hari ke sana sm temen2 thailand jg mereka tetep weh nyasar, salah keluar gate yg dimaksud hahahaha

  5. haduh….nggak bakat jadi guide nieh mbak..hehehe..
    kalo aku kesono digaet yah..heheehe….walah kayak mau kesana beneran aja yah..hehehehe…*celengan ayamnya udah dipecah soalnya…
    waduh kok nggak ono photo2ne….:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s