Satu hal yang membuat saya sedikit tidak pede tentang penampilan adalah barisan gigi yang berantakan. Kemarin saya iri setengah mati pada gigi dentist yang biasa kami kunjungi. Dengan badan yang besar, gigi beliau kecil, rapi, dan putih. Seandainya diberi pilihan untuk bernegosiasi, saya ingin sekali memohon kepada Tuhan untuk diberi rahang sedikit lebih besar dengan gigi lebih kecil.
Tapi ya sudahlah, tak perlu berandai-andai…
Masalahnya segala sesuatu yang berhubungan dengan gigi itu selalu menyebar ke segala aspek. Rasa sakit akibat gigi yang bermasalah bisa menjalar ke bagian tubuh yang lain selain tentunya berpengaruh secara estetika.
Setahun lalu saya sempat memakai kawat gigi untuk merapikan gigi seri bagian atas yang seperti gigi kelinci dan merenggang. Karena giginya cenderung besar sementara rahang saya kecil, maka susunan gigi seri nyaris maju mundur dan sementara gigi taring tumbuh berputar. Pemakaian kawat tadi hanya berlangsung selama 7 bulan, karena saya takut tidak bisa berkonsentrasi dengan studi dan rasa sakit dengan resiko gigi yang belum rapi. Begitu dilepas tidak sampai 2 minggu, gigi seri tadi mulai bergerak kembali dan merenggang dengan satu sisi yang sedikit berputar. Malah tambah parah. Saya jadi tambah tidak pede untuk tersenyum. Ya ampun, kalau saja saya tahu akan seperti ini tentu bakalan ditahan sampai waktunya. Lagi-lagi ya sudahlah.., my pain was in vain judulnya.
Biaya perawatan gigi di tempat studi saya tidak termasuk dalam tanggungan asuransi yang besarnya hanya 10000 baht setahun. Biaya dentist di sana pun relatif mahal *buat saya*. Untuk menambal gigi, biayanya 2000 baht sekali datang. Minimal 2x perawatan. Untuk pemasangan kawat gigi standar paling murah seharga 25000 baht, belum termasuk perawatan ini itu. Duuh, harus merogoh kocek siapa ini?
Salah satunya, urusan dentist inilah yang saya jadikan alasan untuk pulang kampung. Dalam perjanjian beasiswa, kami tidak diperkenankan keluar dari Thailand sepanjang masa studi kecuali dengan alasan penting. Jika pulang, semua biaya perjalanan ditanggung sendiri dan uang saku dipotong per hari. Hiks…
Balik lagi ke masalah gigi, ternyata geraham bungsu bawah bagian kanan bermasalah. Saya seringkali merasa sakit tak terkira. Nyut-nyutan. Waduh, usia nyaris 40 tapi geraham itu baru tumbuh dengan mendesak gigi-gigi sebelumnya sehingga satu gigi seri bawah jadi mundur dan mencuat ke atas. Saya jadi merasa seperti vampir.
Opsi treatment untuk kasus saya ada dua. Pertama operasi gusi untuk membuka ruang bagi geraham terakhir yang akan tumbuh, dan kedua yaitu mencabut geraham di barisan sebelumnya. Kebetulan geraham tadi juga bermasalah, karena sudah ditambal amalgam dari sejak 1996.
Tiga jam saya menghabiskan waktu dalam sesi ini. Jangan tanya seperti apa derita saya sepanjang pencabutan, berikut kesenewenan beliau menangani pasien dengan kasus saya. Dari mulai perkakas kecil yang ringan dan lucu, sampai tang dan entah apa namanya semua perlatan pencabutan dikeluarkan. Senjata terakhir, karena tidak berhasil mencabut gigi secara utuh, akhirnya geraham itu dibelah dua dan diambil satu per satu bagian. Ternyata akar gigi yang berbentuk x tadi mencengkeram kuat dan bersinggungan dengan gigi baru yang tumbuh. Belum lagi ditambah tiba-tiba giginya patah saat akan dicabut, sehingga menyisakan akar dalam gusi. Benar-benar perjuangan…
Saya disuntik obat bius 1,5 ampul karena suntikan pertama tidak berhasil menidaksadarkan sepenuhnya bagian rahang bawah. Ternyata itupun akibat ada rongga antara dua gigi yang bermasalah. Sakitnya selain karena geraham yang masih anteng itu akan dicabut, juga karena sakit kepala di bagian kiri akibat untaian rahang. Sedap banget, tiada tara. Kalau saya sudah memegang sisi kiri kepala biasanya prosesi langsung dihentikan. Lemas sekali rasanya. Mau menangis, kok tidak bisa. Mau pingsan, kok masih sadar juga.. haha. Saya bertahan akan rasa sakit karena bilang dalam hati, “wong sudah pernah melahirkan, masa cabut gigi saja langsung keok?” Tapi badan ini benar-benar tak berdaya..
Itu cerita Kamis lalu..
Cerita Sabtu kemarin, akhirnya saya memantapkan diri untuk memasang kawat lagi. Terserah deh mau sakit seperti apa juga. Sudah pasrah.. rah.. Tapi alhamdulillah, pemasangan berjalan lancar dan tidak terasa sakit. Biasa. Makan pun dibawa biasa saja, tidak terlalu ngilu seperti pertama kali. Cuma saja, ya balik lagi risih. Penderitaan saya sekarang pun masih berkutat pada sisa luka bekas pencabutan berikut masalah geraham yang membuat nyut-nyutan. Ditambah luka di sudut bibir akibat terkoyak peralatan perang. Masalah sariawan di bagian dalam mulut karena ada kawat masih bisa diatasi. Semuanya diterima saja.. semoga lancar ke depannya.
Jadi siapa tuh yang bilang lebih baik sakit gigi ini daripada sakit hati? …. Bang Meggy salah besar!
——
Oh, iya ada sedikit konversasi dengan si Kaka begitu pulang sampai ke rumah ketika saya mengadukan penderitaan yang baru dialami *berlebihan*
Saya : Ya ampun, Ka.. tadi Mama lama banget lho dicabut giginya. Kasihan deh, Pak dokternya sampai keringetan. Pegel banget kali.
Kaka : Emang berapa jam?
Saya : Hampir 3 jam. Dari jam 6 sampe jam 9 malem. Ih, hebat banget ya yang jadi dokter gigi. Mama sih nggak akan tahan kalo jadi dokter gigi..
Kaka : Hm.. pasiennya juga nggak akan tahan kali ama Mama *kalem*
Ayah : Hwahaha…
Saya : *tampang polos sambil tulalit*