Similan Islands

Melanjutkan posting Phuket kemarin… Maaf aja ya, kalau ceritanya bakalan panjang dan lama!

Daerah Thailand selatan terutama yang berbatasan dengan laut Andaman dikenal mempunyai pantai yang indah. Sementara tidak akan singgah dulu di Koh Phi Phi atau Phang Nga Bay yang sangat terkenal, tetapi kemarin saya memilih pergi ke Similan Islands. Padahal harga tiket ke Similan 2x lebih mahal dibanding Phi Phi. Alasannya…

Similan Islands termasuk ke dalam kawasan konservasi laut nasional Thailand. Ada 9 pulau yang terletak berdekatan. Kawasan ini hanya dibuka 6 bulan setahun, dimulai bulan November saat kondisi ombak tenang.

Yup, saya penasaran ingin melihat seperti apa Similan itu.

Ngomong-ngomong perkara harga tiket saat high season November – Januari, kemarin mengobrol banyak dengan Noi tanpa acara negosiasi. Phi Phi dengan melewati 3 pulau seharga 1000 baht, James Bond island + canoeing 1200 baht, Raya island 1000 baht, apalagi ya.. Semuanya one day tour dengan speedboat, plus makan siang, dan minuman sepanjang tur. Harga tiket untuk dewasa dan anak berbeda.

Kembali ke cerita Similan, kami dijemput jam 06.15 teng dari hotel. Di dalam minivan ada beberapa penumpang. Satu per satu mencari penumpang dari hotel ke hotel. Saya mulai waswas karena melihat turis lain hanya membawa handuk hotel plus 1 kantong kecil saja, sementara kami  membawa 1 ransel tapi tidak  membawa swimsuit, haha..

Sekitar 1.5 jam kami berkendara dari Patong ke arah Phang-Nga kemudian kami tiba di kantor Enjoy Travel 77. Posnya berdekatan dengan Sea Star Travel yang terlihat lebih mahal. Di sana kami didata sambil diberi pita pink di tangan, lalu dipersilakan memilih alat snorkeling dan kaki katak. Mendadak jadi saling memandang dengan si ayah..

Saya senyum-senyum tidak jelas karena kekonyolan kami tadi pagi. Kalau saya sih memang tidak mau berenang karena tidak bisa, jadi saya tidak bawa apapun termasuk baju ganti. Tidak bawa handuk. Lalu dengan pede saya bilang tidak usah bawa baju renang, tinggal saja di hotel. Jadilah baju renang si ayah dan si kecil dikeluarkan dari ransel. Lantas celana pendeknya pun hanya saya pegang tanpa dimasukkan ke ransel, hihi. Yang saya bawa hanya baju ganti si kecil, topi, kaca mata, sunblock, kamera, kantong plastik dan minyak kayu putih *takut ada yang mabok*.

Begini nih, kalau itinerary tidak dibaca! Hihi.. salah kostum. Tahu sendiri kan kalau turis lain, hanya memakai baju yang pas buat ke pantai. Tapi gaya kami persis mau pergi kemana gitu, mana sendal saya yang selop itu pula *sendal multiguna yang dipakai ke setiap kesempatan karena nggak punya lagi*. Di konter travel pun tidak ada yang menjual celana pendek, jadi biarlah kita lihat saja nanti.

Lanjut ..

Setelah sarapan kopi, teh, dan toast secukupnya *boleh nambah kok*, kami pun briefing terlebih dahulu. Sang pemandu menjelaskan tempat-tempat yang akan dikunjungi plus larangan untuk para turis. Selain untuk bahasa Inggris, ada pemandu khusus bahasa Rusia karena banyak sekali turis dari sana. Setelah itu ia pun menawarkan pil anti mabuk. Saya memilih minum satu, padahal selama bepergian tidak pernah ada riwayat mabuk perjalanan. Kenapa ya? Saya jadi bingung sendiri.

Jam 9 tepat, kami berangkat dari Thap-Lamu Pier dengan speedboat. Semua alas kaki penumpang ditinggal di dermaga. Ada sekitar 38 orang dalam speedboat. Saat melewati sebuah pulau yang di dalamnya terletak rumah pemujaan kecil, boat berhenti sebentar dan mereka menyalakan petasan lalu memberi hormat.

Sekitar 45 menit kemudian, kami tiba di pulau no 9 yang bernama Koh Ba Ngu. Di sini kami tidak merapat ke bibir pantai. Kami diberi waktu 40 menit untuk snorkeling. Saya duduk manis bersama si kecil di kapal, sementara si ayah nekat menceburkan diri dengan celana panjangnya. Sempat khawatir juga karena ini baru pertama kalinya ia bersnorkeling ria di laut lepas. Mana sempat terbawa ombak pula. Bolak-balik saya beri kode supaya ada dekat kapal saja, jangan terlalu jauh. Sementara turis-turis lain yang lebih jago berenang malah snorkeling dengan asyik. Dan dengan baik hati akhirnya sang penyu yang kami nantikan menampakkan dirinya bolak-balik. Giraang..

Dari sini kami melanjutkan ke pulau no 8 yaitu Koh Similan untuk menikmati makan siang di kawasan taman nasional di Similan dan melakukan aktivitas di sana. Di Similan terdapat tenda-tenda bagi para pengunjung yang mengambil paket menginap di taman nasional lengkap dengan segala fasilitasnya. Bersih dan terawat. Di sini kami diberi waktu sekitar 1.5 jam. Makanannya enak dan halal jadi terasa nikmat. Setelah makan siang, kami melewatkan waktu dengan mengeksplorasi sailing rock viewpoint yang jadi simbol Similan dan juga batu Donald Duck. Yup, kami naik ke batu karang sampai ke puncak.

Dari pinggir batu di posisi kiri ini terlihat seperti Donald Duck, tapi jika dari depan seperti sepatu

Meninggalkan Similan, saya lupa apa kami menuju pulau no 7 yaitu Koh Payu atau Koh Ha dan Koh Hok, pulau no 5 dan 6 untuk snorkeling lagi. Yang jelas saya masih setia duduk manis di boat padahal sang pemandu menawarkan turun ke laut bersamanya untuk melihat nemo. Jadi orang-orang yang tidak bisa berenang bakalan digeret dengan pelampung katanya. Kali ini si ayah tidak ikut mencebur karena terjadi insiden celana robek cukup panjang di bagian jahitan paha saat akan naik ke kapal. Jadi sepanjang sisa perjalanan dia sibuk menutupi paha putihnya, haha.. Padahal turis lain yang duduk berhadapan asyik dengan two piecesnya. Mana saya hanya bawa peniti satu pula, akhirnya peniti saya relakan untuknya. Saya hanya melilitkan kerudung lalu memakai topi plus kacamata *menyamar mode on*. Saya jadi geli sendiri karena hari itu kami banyak melakukan kekonyolan.

Hanya 40 menit snorkeling di tempat itu, lalu kami menuju pulau no 4 yaitu Koh Miang. Di sini kapal merapat sampai bibir pantai. Pasirnya putih dan lembut. Kami turun dari kapal lalu mencari tempat untuk sholat di atas hamparan pasir. Sementara turis lain asyik leyeh-leyeh membaca buku atau tidur bahkan ada yang berbaring sambil topless. Bermain di pantai tapi ombaknya lumayan juga karena saya tidak memakai life jacket. Saya juga latihan snorkeling yang baru kali ini saya coba gigit. Ternyata jika tidak familiar agak susah juga ya. Mungkin karena ditambah tidak bisa renang dan takut air jadi bikin megap-megap. Padahal kalau bisa pasti asyik banget bisa menikmati keindahan alam bawah laut.

Jam 4 sore peluit kapal mulai terdengar, semua pengunjung dari berbagai tur bersiap untuk meninggalkan pulau untuk kembali ke daratan. Baju kami sudah basah kuyup penuh pasir, lengket oleh air laut. Berhubung tidak ada ganti ya pasrah saja. Hanya si kecil yang berganti. Boat melaju kembali dan penumpang mulai kelelahan lalu tertidur. Sekitar 30 menit kemudian, tiba-tiba hujan turun di tengah laut. Ombaknya lumayan kencang dan saweran air hujan dari atap boat mulai membasahi kami. Baju yang mulai kering jadi kuyup lagi, wah..seru! Untungnya saat mendekati daratan hujan berhenti. Tapi sudah kadung semua basah mau bagaimana lagi?

Kembali ke Pier, kami mencari sendal yang tadi ditinggalkan dan kembali ke pos untuk mengembalikan alat snorkeling. Di sini sudah tersedia foto-foto penumpang dalam plate yang dihargai 160 baht per pc, kalau tidak mau beli pun tidak apa-apa paling fotonya dihapus lagi, hehe..

Setelah para penumpang berganti baju kecuali kami yang bak anak ayam kehujanan, jam 5 sore minivan mulai melaju mengantarkan penumpang menuju hotel masing-masing. Dan kami tiba di Patong sekitar jam 6.15 sore. Alhamdulillah akhirnya kembali dengan selamat..

Dari tulisan yang panjang lebar dan lama itu kesimpulannya frankly speaking saya agak kaget juga, saya kira Similan itu bakalan sebagus apa karena pariwisata di sini sangat gencar sekali berpromosi. Dan terbukti banyak sekali turis mancanegara yang datang. Malah seorang turis wanita Rusia mengobrol dengan si ayah dan bertanya “apa di negara kamu ada pantai bagus?” Si ayah tertawa dan bilang, “banyak.. malah lebih bagus dari ini”. Ia balik bertanya, “oh, iya? Nanti saya cari di google!” Btw, coba ya kalau turis itu nanya sama saya yang hobi kelayapan di pantai, pasti saya bakalan promosi pantai-pantai bagus di Indonesia bahkan saya kasih alamat webnya sekalian. Hanya ya gitu, dia cuma ngobrol sama si ayah doang, hihi..

Pendapat saya pribadi, no offense.. Dengan membandingkan panorama bebatuan alam, saya katakan keindahan alam Belitung jauuuh *u-nya banyak* lebih bagus dari Similan. Dulu di Belitung saya sampai menangis haru melihat ciptaan Allah yang luar biasa. Di sini menang karena konsep pariwisatanya rapi dan terorganisir luar biasa. Banyak jempol untuk kementerian pariwisata Thailand.

Di akhir kata semoga cerita ini bisa memacu banyak turis terutama orang Indonesia sendiri untuk lebih mengeksplorasi keindahan negara kita sendiri sebelum ke tempat lain. Termasuk saya yang baru sedikit menjelajah negeri *kayaknya bakal sering kelayapan lagi nih*.

Percayalah, Indonesia itu selalu jauh lebih baik dalam konsep tertentu, on it’s own style..

Akhirnya selesai juga ngetik 3 jam🙂

70 thoughts on “Similan Islands

  1. Ya itu kesalahan kalau bisa dibilang Indonesia mbak. aksesnya sulit dan gak dikembangkan dengan bener. kalau mau ke belitung kan mahal dari Pontianak harga tiket pesawatnya daripada ke bangkok >_<

    ayo dong para pengusaha buat pariwisata diorganisasikan dengan baik.. jangan nunggu pemerintah yak. soalnya bakalan lama deh terealisasinya.. *eh😆

    btw noi itu berbahasa inggris atau indonesia mbak?

  2. tadi di TV abis nonton lagi liputan Belitung Timur…, pantai Bukit Batunya rasanya lebih luas ya daripada pantai Simian ini..
    belum pernah ke Belitung, pokoke wajib deh suatu waktu…,apalagi mama Hilsya sampai nangis di sana…., makin bikin penasaran
    ke Belitung dulu sebelum ke Similan ya

  3. Sama mbak, dalam benak saya Similan islands luar biasa, dari postingan ini diingatkan bahwa kekayaan alam kita sungguh luar biasa. Bagaimana kemasan dan promosinya tantangan kita bersama, sebagian nebeng di kemasan wisata blog cantik ini yuk. Salam

    • iya Bu.. mumpung saya di sini bisa eksplorasi..segala informasi Thailand yang pernah saya alami dibagikan..syukur-syukur kalau bisa bantu tambah info
      tapi kangen juga bikin posting jalan-jalan di kampung halaman..karena ingin promosi wisata Indonesia

  4. Mbak Hilsya, dibanding Karimun Jawa sajam Similan ini banyak kekurangannya, Tp kalau turis manca negara lbh banyak berkunjung kesana, yah mau apa lagi. Kecerdasan gak bisa dibeli sih Mbak. Thailand pintar jualan, kalau kita jago korupsi

    • Setahu aku di Karimun ga terlalu banyak granit mbak… atau apa aku waktu itu ga banyak keliling Karimun ya? lupa..
      di Similan ini mereka ‘menjual’ batu karang seperti Belitung dan bener-bener menjaga taman nasionalnya..

      yg terakhir, itu dia mba.. apa kita salah makan ya?🙂

  5. Tahun 2008 saya backpacker ke Thailand selama 1 minggu dan salah satu itinerary nya ikut one day tour ke Koh Phi Phi, pas udah sampai Jakarta ada seorang teman yang bilang “ngapain jauh2 ke Thailand, wong di Babel aja pantainya bagus” *tutupmuka*

    Hmmm..jadi pengin ke sana tapi sampai sekarang belum kesampaian.
    Kapan ya kapan?🙂

    • saya men-skip Phi Phi karena dipikir kurang lebih sama dengan di Ina, tapi tetep aja kalau ada waktu mah kesana lagi.. mumpung tinggal di sini🙂

      hayuu kesini.. akhir Desember saya libur, rencana mo ke CM..

  6. Waktu lihat pantai belitung di film laskar pelangi, emang benar2 bagus, mbak. Pantai dengan pasir putih yg masih alami……… Pengin juga suatu saat ke sana. Moga2 ke depan transportasi udara yg menghubungkan tempat2 yg punya obyek wisata bagus, makin banyak. 🙂

  7. Mungkin karena Similan berada di Thailand, makanya banyak turis yang antusias, padahal di Indonesia banyak sekali pemandangan Pantai yang sangat indah, contohnya Belitung dan satu lagi Raja Ampat Papua, sangatttt indaah sekali, tapi mau gimana lagi Indonesia systemnya saja yang tidak Indah, hehehe🙂

  8. kok aku malah fokusnya kenapa mba minum “anti mabuk” nya ya pas dikasih?hihihihihi…lucuuu. sayang memang pemerintah indo kurang giat promo wisata alam kita, plus pengelolaan fasilitasnya juga masih jauh dari kata layak🙂

  9. wah sampe 3 jam mba ngetiknya?😀
    uni pengen ke belitung blum kesampean, yups semoga suatu hari nanti bisa juga wisata ke pulau similan ini🙂
    nice share, terimakasih🙂

  10. masyallah……lautnya biru indahhh…jernihhhhh…walah mbak..ngiler pingin berendam disono..main air sepuasnya jernih banget..
    walah jalan jalan teyussssssssss sih…pan gigit jari disini…
    maaf ngelanjutin komentnya disini yah..sampai rumah kemarin langsung tepar..nidurin kinan ikutan tertidur….hehehe

    • bener Mir…
      kemasan inilah yang membuat Indonesia dipandang sebelah mata… tapi dilemanya bisa ga kita jaga supaya tetep alami…
      tau sendiri kan, manajemennya gimana..
      bisa-bisa rusak semua😦

  11. wasuh serinya jalan2nya mbak…😀
    pemandangannya bagus… tapi bener mbak… pemandangan pantai2 di Indonesia pasti lebih keren dehh… setuju pemandangan di Belitung itu keren abis,,, hehehe…

    subhanallah ya…

    • nangis juga ga waktu itu?

      sayangnya tulisan tentang belitung aku ga detil dan males nulisnya
      waktu itu baru mulai ngeblog, belom kayak perjalanan yg baru-baru sekarang…
      aku pergi pertengahan 2010

  12. Ping-balik: Curhat Nggak Jelas akhir Minggu dan Tentang Ummi Maryana | My new world

  13. Ping-balik: Pesona Mawar Utara | RyNaRi

  14. mau tanya, saat mau manjat ke viewpoint similand island.. (yg nampak pantai di bawah nya)

    itu berapa lama? dan bukitnya terjal gak?

    karena saya pernah ke view point di angthong national marine park, sangat terjal dan musti sepatu sport baru mudah naiknya. tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s