Runaway to Phuket

Pergi ke Phuket weekend kemarin sebenarnya dadakan. Gara-gara saya kangen si kecil dan mendadak ingin kabur dari residence, maka dalam 2 minggu itu segala rencana dilaksanakan. Booking tiket yang tidak bisa dibilang promo dan tidak efisien pastinya. Secara teori, tim dari JKT bisa langsung ke HKT dan saya langsung ke HKT. Tentunya jauh lebih murah jika harus JKT-BKK lalu BKK-HKT di hari yang sama. Tapi begitulah, naluri kelayapan saya langsung jalan dan dengan dalih mengajak pergi bulan madu *yang tidak pernah dilaksanakan*, saya berhasil merayu si dia…

Dalam 2 minggu sebelumnya, mumpung belum benar-benar sibuk dengan materi baru saya kerap mengunjungi forum traveling untuk mencari informasi. Mencatat contact person agen tur, mengirim email, searching hotel bersih dan nyaman dari agoda atau booking.com, cari info transportasi, dan lain sebagainya. Menjelang hari H, karena dijejali peer segala catper itu malah saya lupakan dan akhirnya go show saja.

Hanya berbekal no hape Noi, saya kabur ke Phuket. Tujuannya cuma ingin pergi ke Similan. Alasannya penasaran. Teman-teman yang pernah ke Phuket pasti tahu dong siapa saja cp tur yang terkenal diantara turis Indonesia, yup ada Mrs Ladda, Mr Puttachat, dan satu lagi Noi. Mrs Ladda sibuk banget dan tidak membalas email yang saya kirim ke billyladda@windowslive.com, Mr Puttachat bisa dihubungi di naranong_2524@hotmail.com *ini email istrinya, yang balas biasanya Mr Charlie*, lalu hanya Noi yang merespon cepat via telpon dan memberi harga standar dan langsung deal.

Tapi lagi-lagi jalan menuju Phuket tidak terlalu mulus. Setelah sehari sebelumnya capek gara-gara gagal nonton parade kapal tongkang kerajaan dan malah berakhir dengan jjs di Chinatown. Malamnya saya mencoba memandangi contekan PR biostat dengan tampang melongo. Bingung. Usaha untuk mengerti masih dilanjut pagi harinya sebelum berangkat ke HKT. Malah dengan sok rajin saya membawa laptop ke bandara sambil menunggu penjemputan.

Tapi niat mulia saya gagal total. Meski jarak dari residence ke Don Mueang hanya sekitar 7 menit naik bus, rupanya saya salah turun halte. Padahal saya hobi wanti-wanti bilang sama teman-teman, ada 6 bus stop sampai airport. Lha kok, malah sendirinya turun di bus stop ke 5? Dan begitu menyeberang baru sadar bahwa saya ada di Terminal 2. Padahal semua penerbangan ada di Terminal 1, hahaha… Jam 11 siang, bawa laptop berat, panas-panas jalan kaki, diliatin pak satpam bandara, lumayan lah jaraknya. Jalan kaki 10 menit. Jadi sampai di bandara hanya sempat mengetik beberapa kalimat sebelum akhirnya bertemu si bungsu dan ayahnya. Kami pulang sebentar untuk menyimpan barang-barang dan hanya membawa seperlunya saja.

Menjelang berangkat ke airport, ketika berencana mengambil uang di ATM ternyata ATMnya tidak beroperasi. ATM kedua terdekat ada di tempat kuliah atau menyeberang jembatan. Jauh! Panas pula. Lalu tak lama lagi-lagi saya harus kembali ke residence karena sendal cantik yang dibawa dari Serpong dan ingin saya pakai copot dengan sukses dan berakhir di tempat sampah. Untung copotnya masih di halte bus, jadi masih bisa ganti walaupun berjalan kaki di jam 1 siang ini luar biasa teriknya. Coba kalau di airport? Bisa-bisa nyeker sepanjang jalan.

Area bandara Don Mueang ini tidak seketat Svarnabhumi atau Soetta. Para stafnya jauh lebih ramah pada turis. Dan ruang tunggu bandaranya lumayan jauh. Hwadeuh, belum apa-apa betis mulai terasa kencang. Pesawat menuju HKT penuh oleh turis dan take off secara on time. Di dalam pesawat, semua penumpang rasanya tertidur dan tak terasa menjelang 1,5 jam kemudian kami sudah tiba di Phuket.

Sampai di Phuket, saya langsung mencari ATM karena hanya berbekal 200 baht.

Noi wanti-wanti, taksi dari bandara ke hotel yang berlokasi Patong berkisar antara 500 baht. Tapi di sepanjang booth taksi dan airport bus, tarif taksi berisi 4 orang 650 baht atau shared minivan/airport bus 150 baht per orang. Apa karena menjelang high season atau karena saya tidak menawar?

Jarak antara airport ke Patong sekitar 1.5 jam perjalanan. Yang bikin horor, kami mendapat supir taksi yang rada-rada. Sepanjang perjalanan tak henti-henti ia mengeluh dan menjejak-jejak stir atau rem dengan gaya seperti orang marah apalagi jika jalanan macet. Ngeri pokoknya. Saya khawatir, dia stres dan tiba-tiba menabrakkan mobil. Di tengah perjalanan, seperti cerita teman-teman sebelumnya taksi maupun minivan ini biasanya akan singgah di sebuah agen tur yang menawarkan hotel atau paket tur. Tapi berhubung kami sudah punya tujuan khusus, saya bilang langsung. Saya menduga, jangan-jangan supir itu capek dan kecewa karena sudah bolak-balik menyetir airport-Kata, airport-Patong berkali-kali dan tidak dapat fee dari agen. Begitu sampai hotel, saya hanya bilang kop khun ka dan langsung ngibrit saja. Bodo ah..

Hotel tempat saya menginap di RCB Patong. Dua malam di kamar superior tanpa breakfast via booking.com seharga 2340 baht untuk kami bertiga. Anak-anak di bawah 11 tahun gratis jika menginap satu tempat tidur.

Saya langsung tertawa lebar begitu melihat lokasi yang strategis. Letaknya persis di belakang Bangla Boxing Stadium. Jalan kaki 2 menit menuju mall terbesar Jungceylon *dibaca: cangceylon/cangseylon gitu deh*. Di seberang jalan Stadium, ada Banzan fresh market yang jika malam penuh dengan tempat makanan. Belum lagi kios-kios di sekitarnya yang menjual aneka pakaian atau pernak-pernik. Hanya saja agak lumayan jika menuju pantai.

Masuk ke mall ini membuat saya merasa geli sendiri. Rasanya baru beberapa postingan lalu, perkara dari mall ke mall dibahas. Kami tak berminat untuk belanja oleh-oleh atau apapun hanya berputar untuk mencari bekal untuk esok hari di Big C. Setelah itu makan es krim sambil menunggu Noi untuk urusan tur besok dan duduk sejenak menikmati air mancur di malam hari. Iih, romantis kan?

Makan malamnya?

Di Banzan, kami bertemu penjual pad thai dan fried rice muslim asli Phuket yang mahir bercakap Melayu. Kami menikmati makan malam murah meriah seharga 80 baht di dalam kamar hotel jam 10 malam. Si kecil lahap banget menyantap aneka masakan Thai, termasuk mangga ketan dan duren monthong.

Sudah ya, tidur dulu. Besoknya kami harus bersiap jam 6 pagi.

28 thoughts on “Runaway to Phuket

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s