Istana taman kubis

Seharian kemarin kami jalan-jalan sekitar Bangkok. Karena tidak pernah bepergian di pagi hari, saya baru sadar ternyata kondisi lalu lintas lumayan parah. Padahal di sini sudah didukung fasilitas BTS dan MRT. Dari Laksi kami menuju Phaya Thai terlebih dahulu dengan memakan waktu sekitar 40 menit, segitu  sudah disambung dengan BTS.

Tujuan pertama adalah The Suan Pakkad Palace yang terletak tidak jauh dari BTS Phaya Thai. Keluar dari pintu exit 4 mengikuti arah ke kanan dan berjalan sekitar 5 menit. Lokasinya berhimpitan dengan gedung-gedung tinggi di sekitarnya. Ada apa di sana?

Suan pakkad dalam bahasa Indonesia diartikan taman kubis atau kol (cabbage garden), tapi saya tidak melihat kubis, hanya aneka bunga cantik terutama anggrek. The Suan Pakkad Palace adalah tempat pertama di Thailand dimana pemiliknya, their Royal Highnesses Prince and Princess Chumbhot of Nagara Svarga, memutuskan untuk mengubah kediaman pribadinya menjadi museum. Bangunan dengan arsitektur bergaya Thai tradisional yang dibuka pada tahun 1952 ini  berlokasi di 352-354 Rai Sri Ayudhya Road, Ratchachewi, Bangkok. Di sana terdapat berbagai koleksi antik sang pemilik yang dihibahkan turun temurun. The Suan Pakkad Palace merupakan kombinasi koleksi fine arts  dan ancient artifacts dari era H.R.H. Prince Paribatra Sukhumbandhu, anak dari His Majesty King Chulalongkorn, Rama V dan Her Majesty Queen Sukhumala Marasri.

Untuk masuk ke dalam museum yang terlihat asri dan bersih, pengunjung membayar tiket 100 baht sementara untuk orang lokal hanya setengahnya. Kami diberi bonus kipas bambu karena udaranya panas tak terkira,` juga ditemani guide sepanjang tur. Tidak diperkenankan mengambil foto di dalam ruangan, hanya di sekitar halaman saja. Jam operasional museum dimulai dari 9.00 sampai 16.00

Ada 8 bangunan tradisional Thai di dalamnya, selain galeri yang bergabung dengan kantor pengelola, taman asri, paviliun, dan perahu. Bangunan  2, 3, 4 terletak di tengah-tengah, no 5 – 8 terletak berjejer di sisi barat. Dan ada 2 jembatan yang menghubungkan bangunan no 1 ke 2 serta no 4 ke 6. Sayangnya saya sedang tidak bisa scanning denah bangunan, jadi kurang bisa mendukung penggambaran kata-kata.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah galeri The Ban-Chiang Museum (Thai Heritage) yang berada di Chumbhot-Pantip Centre of Arts.  Berisi koleksi peninggalan dari abad 17 berupa pot tanah liat dari daerah Ban Chiang, juga perhiasan, senjata dan peralatan terbuat dari tembaga, glass bead serta batu mulia. Setelah itu  menuju Marsi Gallery yang merupakan koleksi lukisan  Princess Marsi, anak sang pemilik yang memang terkenal sebagai pelukis berbakat. Tapi kalau soal lukisan sih saya no komen, nggak ngerti soalnya.

Kemudian kami menuju The Lacquer Pavilion yang terletak di arah selatan. Awalnya paviliun ini berasal dari temple dari abad 17 yang terletak di sisi sungai Chao Phraya di Ayutthaya yang dibawa dan direstorasi di Suan Pakkad tahun 1959. Paviliun ini berisi lukisan dinding yang terbuat dari tinta emas pada lacquer (kain pernish?) hitam yang bercerita perjalanan Buddha dan kisah Ramayana. Di dalamnya kita tidak diperkenankan menyentuh dan mengambil gambar. Btw, foto ini dari teman yang penasaran.

Di bawah ini adalah pemandangan bangunan no 4 yang terdiri dari 2 lantai dari arah paviliun, tampak para pekerja sedang merapikan kebun. Meskipun rindang dan banyak pepohonan, tetapi tetap terasa bersih dan nyaman. Bangunan no 4 ini kadangkala masih digunakan untuk menerima tamu dan mengadakan jamuan makan malam sampai sekarang.

Di sebelah paviliun disimpan kapal tongkang kerajaan (royal barge) untuk menyusuri sungai dalam kondisi masih terpelihara. Badan kapal terbuat dari odorata hopea wood (kayu apa ini ya?) sementara atap dan kabinnya terbuat dari jati.

Pindah ke bangunan selanjutnya adalah rumah no 5 yang  berisi koleksi aneka cangkang kerang, hewan laut, juga batu-batuan.

Tak lupa hadir pula anggota elapidae, si cantik naja naja yang sudah tak berdaya. Kalau melihat yang seperti ini sih rasanya tidak mengerikan.

Karena ada lagi yang lebih mengerikan di samping rumah, coffin alias peti mati yang terbuat dari pohon. Rada merinding juga sih deket-deket peti itu, lagian pake acara iseng foto-foto segala. Agak sedikit penasaran juga kenapa tidak lebar ya? Hanya selebar pohon, rasanya kurang dari 0,5 m.

Lanjut ke bangunan berikutnya yaitu no 6, tempat disimpannya koleksi patung-patung Khon. Tentang Khon pernah saya bahas sedikit di sini. Lalu kami bergeser ke bangunan no 7 yang berisi tentang koleksi artifak prasejarah dari propinsi Kanchanaburi, keramik China, pottery dari Khmer, dan lain-lain. Sedangkan di bangunan no 8 merupakan koleksi pribadi peralatan rumah tangga terutama kristal, perak, dan porselen.

Melanjutkan perjalanan ke bangunan no 1 yang terletak persis di pinggir pagar langsung berhadapan dengan jalan utama. Di lantai dasar terdapat koleksi peralatan musik Prince Paribatra yang terkenal sebagai salah satu komposer terkenal. Di dalamnya terdapat aneka instrumen musik, juga ditampilkan perbedaan gong dari tanah Jawa dan Thailand. Prince Paribatra menghabiskan hidupnya tinggal di Bandung selama 12 tahun sampai akhir hayatnya. Sementara di lantai atas disimpan beragam koleksi artifak dari berbagai era. Dari sini kita dihubungkan dengan jembatan penyeberangan menuju bangunan 2, 3 , dan 4 yang tentunya berisi beragam koleksi antik dan beragam patung Buddha.

Tampak pula pemandangan gedung paling tinggi di Thailand, yaitu Baiyoke Tower yang terletak tidak jauh dari lokasi. Kapan-kapan ke sana deh!

Capek? Belum.. karena kami hanya menghabiskan waktu 1, 5 jam berkeliling komplek. Tidak terlalu banyak turis yang datang, hanya satu bus berisi turis dari Korea. Perjalanan masih berlanjut, tapi postingnya keteteran.

37 thoughts on “Istana taman kubis

  1. Lagi2 iri dengan tempat wisata di negara orang… Bersih dan terawat. Kalo di negara kita, biasanya udah banyak tuh penjual2 sovenir yang mengganggu pemandangan aja…

  2. Si cantik naja-naja yang sudah tak berdaya?
    Tetep aja nyeremin, Hilsya….😦

    Ehm, ternyata bener yang Hilsya blang, kalau di negara lain rasanya semua tempat menggoda untuk didatangi, museum, taman kubis atau apapun yang berbau sejarah rasanya kita penasaran buat berkunjung. Mungkin karena di Indnesia kesannya biasa-biasa kali ya, jadi kalo nggak terpaksa kita juga malas buat datang kesana…

  3. Masih libur mbak….jadi banyak tahu tentang thailand dari baca postinganmu ini..tfs banget..
    eh masih panaskah disana..disini didalam rumah tiap malam tanpa ac 32-33 derajat celcius …Atungnya kinan kena biang keringat akut disini..ngeluh panas terus…hehehhe…Ac cuman atu dikamarku sama kinan..heueheuehe…OOT yah..hehehe
    eh terus kalo ujan masih banjir kah kayak berita berita di tv tahun lalu??? lanjutkan perjuangan mbak….aku menunggu postinganmu..walaupun maaf tersendat sendat bwnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s