Jatujak di akhir minggu

Pagi tadi hujan deras turun menyapa Bangkok. Kali ini memang sedang musim penghujan, hampir setiap hari. Untung saja hanya sampai jam 8 pagi. Di beberapa tempat kadangkala terjadi banjir tepat beberapa menit setelah hujan deras turun. Seperti halnya Selasa lalu saat kami tidak bisa melanjutkan perjalanan di Phaya Thai, air menggenang sekitar 20 cm di sekitar stasiun BTS. Melihat gelombang air menyapu pinggir jalan saat bus lewat, hiyaaa…serasa berada di Pattaya haha..

Duh, malas banget rasanya jika harus berhadapan dengan banjir. Jijaayy…

Saat teman minta diantar untuk pergi ke Pratunam (lagi) untuk berbelanja bersama orangtuanya, saya setuju. Namun mengingat keduanya sudah sepuh, saya usulkan untuk singgah di Jatujak saja. Lumayan, mengirit setengah perjalanan dari tempat kami. Sekitar 20 menit dengan bus non AC dari Laksi seharga 7 baht, cuma 2200 perak.

Dari tempat saya, arah Vibhavadi road biasanya kami turun di BTS Mo Chit lalu menyeberang jembatan tepat di depan Jatujak Park. Dulu biasanya sih saya suka menulis Chatuchak, tapi kata teman Thai saya yang benar itu tulisannya dengan huruf j, meski dibacanya tetap ch.

Sebenarnya hampir setengah tahun ada di Bangkok, baru kali ini saya pergi ke Jatujak (lagi), hihi.. Tidak tahan dengan panas teriknya! Pernah dulu pergi malam-malam, tapi malah kurang seru. Di samping saya juga tidak terlalu hobi belanja. Kadang-kadang suka kurang jelas juga yang mau dibeli apa dan bagaimana. Tidak seperti teman sejawat saya yang setiap minggu hobi banget belanja ke sini, sampai tukang jualannya hapal.

Kalau teman-teman disuruh keliling pasar seperti ini, sanggup tidak?

Tadi saya lupa bawa kamera, semua gambar dicopas dari situs http://wptthailand.net/markets.php

Yang paling saya suka jika pergi ke Jatujak adalah tempat oleh-oleh. Kedai favorit saya letaknya berseberangan dengan toilet area 3. Di sini jauh lebih murah, penjualnya juga fasih bahasa Inggris. Lengkeng kering alias lamyay bervariasi 200-400 baht (kabarnya di Chiang Mai jauh lebih murah, tapi ongkos ke CM-nya lumayan). Durian cake alias lempok paling murah dibandrol seharga 60 baht ukuran kecil *lirik irnie irmayani*, keripik durian seharga 300 baht, keripik nangka 180 baht, teri bangkok (saudaranya teri medan yang putih) 100 baht, teri jengki lebih murah 50 baht, aneka ikan asin biasanya dijual per plastik seharga 50 – 100 baht, aneka kacang-kacangan juga 100 baht, semuanya serba 250g. Ada juga aneka permen duren, permen pandan, buah kering (btw, ini maksudnya apa ya.. malah cerita makanan semua?)

Iya, saya cuma suka makanannya aja! Pernak-pernik serba gajah sih kurang terlalu, mungkin ini gara-gara tidak berjiwa seni. Tapi asli kok, lucu-lucu! Dompet gajah dijual sekitar 100 baht (jumlahnya tergantung ukuran). Tas gajah juga sama, yang lebih bagus lebih mahal tentunya. Hiasan dinding gajah yang biasa dipigura harganya sekitar 500 baht lebih, tergantung ukuran.

Bicara tentang makanan halal ada beberapa tempat makanan muslim. Berhubung tadi tidak sempat terlalu menjelajah karena membawa serta orang tua, yang saya ingat cuma kedai kebab halal dan warung makanan Thai selatan di dekat clock tower. Itu saja. Itupun sudah 4 tahun lalu saya ke sana, hihi..

Paling sering ditemui di sini adalah para penjual buah potong segar dan aneka sosis/seafood tusuk, favorit saya squid egg bakar bumbu pedas aje gile *campur debu*, selain penjual minuman botolan atau jus buah. Semua harga rata-rata sekitar 20 baht ke atas.

Tapi ada sedikit yang mengganjal di hati nih. Tadi saya bertemu seorang nenek tua yang berjalan dengan penyangga. Ia menjual lotere dan benda-benda kecil mungkin sejenis lip gloss. Saya juga kurang yakin. Dari awal bertemu saya perhatikan, ia berjalan tertatih-tatih menyeberang jalan padahal mobil tetap berseliweran melewatinya. Sampai akhirnya saya sengaja memasang badan berdiri di tengah jalan supaya mobil berhenti dan membiarkan nenek tua tadi lewat, karena sebelumnya sempat melihat mobil yang menyerempet tongkat penyangganya. Dalam hati ingin sekali memberikan sesuatu untuknya, tapi saya ragu-ragu merasa kurang nyaman dan akhirnya membiarkan ia pergi menjauh.

Setelah itu saya menyesal, sampai sekarang! Nyesak rasanya dada ini melihatnya.. lebih menyesal lagi karena tidak  membantu barang sedikitpun.

Iklan

26 thoughts on “Jatujak di akhir minggu

  1. Pasarnya luas sekali. Mungkin kalau hanya sekedar lihat-lihat saya masih sanggup menyusurinya Mbak Hilsya. Tapi kalau sambil belanja, gotong tas belanja plus mengawal dua orang tua, yah mending minggir ngadem saja deh nyari es cincau..Eh ada cincau hijau disini ya Mbak?

    Mengenai kesempatan yg dilewatkan dalam membantu orang, sering juga terjadi padaku. Ragu2 takut orangnya tersinggung atau ditanggapi secara salah. Akhirnya saya cari selamat dengan tidak membantu apapun. Sampai dirumah terus saja kepikiran, “kok gw payah banget ya..” Welcome aboard Mbak 🙂

    • es cincau hitam ada mba…
      cendol juga ada, enak.. kayak elizabeth gitu..
      kalo dessert di sini kan manisnya ga ketulungan, gurih manis…

      iya, mba.. persis itu perasaannya.. juga takut diliatin orang *ih, geer banget* tapi akhirnya nyesel..
      duh, masih ga enak hati.. kepikiran, kasihan banget.. udh sepuh banget mungkin di atas 70..

  2. wah mbak serba duriannnnnnnnnn..pengin….wah mbak kok jadi pingin ke bangkok yah…heueeuehueheu….semoga bonus awal tahun depan dapat lumayan dan approve sama ayah kinan untuk jalan jalan…bisa jadi pilihan nieh bangkok setelah KL…*yang deket deket aja dulu …heueheuehue……btw maret atau april 2012 jadwalnya padet yah mbak kuliahnya?? walah bath sama rupiah berapa yah ..1 bath berapa rupiah harus ditukar yah?? kayaknya nggak terlalu tinggi yah nilainya..tinggian rupiah yah???

  3. Ah Hilsya, kayaknya kita hampir sama..kalo mau berbuat sesuatu yang kira-kira bakal membahagiakan orang tapi urung kita lakukan..nyeselnya memang suka lama…
    Tapi mudah-mudahan, nenek tadi mendapat banyak kemudahan ya!

    Jatujak…ehm, ehm…jadi inget buah mangga segar yang dibawain Risa dari Thailand dulu…dan eh, saya jadi penasaran lo dengan squid egg bakar bumbu padas campur debu itu…hehehehe 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s