Friksi

Bukan cerita fiksi. Ini kisah nyata.

Menjadi orang asing, tinggal sehari-hari di tempat yang berbeda, dengan berbagai jenis kepribadian, jauh atau dekat dengan asal muasal tetap saja berpotensi menimbulkan perselisihan. Disadari atau tidak. Karena kita hidup bersosialisasi, gesekan yang terjadi akibat perbedaan kultur dan kebiasaan seharusnya bisa diminimalisasi dengan mencoba saling memahami *tsaaah*.

Btw, sebenarnya saya suka banget dengan istilah Portugisnya fricção dibaca friksao*sounds sexy, right?* Ga nyambung? Ok.. lupakan!

Tidak berniat untuk ber-SARA ria, tapi mengenal dan mencoba mengerti struktur tata sikap seseorang berdasarkan kebangsaan ternyata memang lumayan menguras hati *lebay*. Jika tidak punya stok sabar berlebih, dijamin bakal sakit hati sendiri. Rugi toh?

So far, berhubung belum lumutan tinggal di sini saya masih mengalami culture shock. Selama ini kadang saya suka merasa sedih sendiri. Mungkin karena belum bisa menikmati, jadi terasa sepi. Beda sekali rasanya tinggal di tanah air dengan masyarakat yang berjiwa sosial tinggi, penuh basa-basi, ramah, mau saling membantu, bla bla bla dan sebagainya. Apalagi kalau pulang kampung, pas musim panen. Sukaa sekali melihatnya…

Segitu saya masih ada di Asia Tenggara, di tempat dimana penduduk negara-negaranya bisa dibilang paling welcome. Bagaimana ceritanya jika tinggal di tempat yang sangat individualis? Bisa-bisa semua ayam langsung menetas kali ye? Saking hobi ngengkremin telur, hihi..

Sebenarnya hidup kami lumayan agak damai-damai saja selama ini. Hal yang membuat agak sedih ya karena kami merasa orang setempat tidak se-welcome di Ina. Mungkin masalah sepele, tapi rasanya wajar dong jika kami berharap ada sedikit pertolongan  karena hampir semua tulisan di sini seperti cacing. Bahasa yang tidak dimengerti. Makanan yang agak susah dicari. Oke, saya mengerti itu semua masalah kami. Bukan masalah mereka. Tapi.. kita kan berstatus teman? *membelalakkan mata*

Ah, jadi seperti memelas banget ya? Sebegitu seriusnya gitu?

Hal-hal sepele yang dibiarkan tanpa solusi memang berpotensi membuat nyala sekam tetap abadi. Dan solusi paling gampang yang kami ambil adalah mulai tidak peduli dengan keadaan seperti itu. Mulai terbiasa. I can do it by myself! Bisa, kok. Sebisa mungkin berusaha untuk survive dengan kemampuan sendiri meski tetap menjaga pertemanan sewajarnya. Tanpa berharap banyak.

Tapi tetap saja tuh saya merasa sakit hati, ketika tahu mereka akhirnya pergi berjalan-jalan tanpa basa-basi mengajak kami via posting foto di fesbuk. Padahal seminggu sebelumnya kami diberitahu dan akan diajak pergi ke suatu tempat.

Seperti anak kecil ya saya? Jujur saja, saya sampai bertanya dalam hati sebegitu menyebalkankah orang-orang asing itu di mata mereka? Sebegitu merepotkannyakah kita selama ini? *mulai didramatisasi*

Tidak ada alasan tertentu sih, mungkin saja karena mereka memang tidak ingin ada orang asing bergabung. Titik. Mau apa coba? hihi..

Terselip juga pemikiran bahwa ini bukan semata-mata 100% keseharian mereka. Mungkin mereka juga kesulitan untuk beradaptasi. Susah mengungkapkan perasaan. Tidak bisa sepenuhnya berkomunikasi. Jadi sesungguhnya tidak ada yang bisa disalahkan. Ini masalah umum kok, bisa terjadi dimana saja. Jadi sebenarnya masih bisa diabaikan, jangan terlalu dimasukkan ke hati.

Tetap saja, masih terasa gimanaa gitu di dada… *tarik nafas dalam-dalam sambil dengerin burung berkicau*

Tapi kalau yang ini nih.. bikin erosi jiwa.

Bukan dengan orang setempat, mereka sama-sama datang dari Asia *ga perlu disebut deh* Penuh pengalaman. Highly educated. Lama tinggal di luar negeri. Bukan kroco seperti kami. Satu lagi, lebih tua dari saya.. jauh malah.

Berhubung bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih tua, otomatis kita akan bersikap santun dan hormat. Bersikap welcome dan helpfull kepada orang yang baru datang. Sebisa mungkin membantu mereka beradaptasi di sini. Tapi sayang banget.. kenapa jadi ada friksi yang menyangkut di hati. Tidak terungkapkan karena mereka jauh lebih tua, hanya mengganjal  dan membuat tidak nyaman. Bukan hanya kepada saya, tapi juga teman-teman yang ada di sini.

Pertama saat saya diminta tolong untuk menunjukkan tempat makanan halal, penuh permohonan maaf saya katakan saya tidak bisa menemani karena keesokannya harus ujian. Lalu dengan nada cool, si ibu satu itu bilang..  don’t worry, we don’t ask you to cook for us! Sempat tersentak mendengar kata-kata itu, namun tetap saya lanjutkan dengan menggambarkan denah lokasi untuk mereka.

Pengalaman berikutnya adalah kejadian-kejadian sewaktu masuk lab. Dimana dengan nada tertentu sang profesor bertanya tentang kualifikasi kami dan background-nya apa. Atau saat si ibu itu menyela instruktur untuk menjelaskan kepada kami tentang apa yang sedang dilakukan saat praktek. Dan banyak hal-hal lain yang membuat saya mengeryit, apa perlu mereka berbuat seperti itu? Kasihan kan instrukturnya?

Beda lagi dengan teman lain yang meminjamkan pan elektrik, tiba-tiba sang pan kembali tanpa kabel dan dengan wajah tak berdosa, ia bilang tidak tahu kabelnya ada dimana. Hwaa.. tidak ada kabel kan artinya tidak bisa dipakai lagi. Mau dicolok kemana?

Selanjutnya adalah pengalaman teman saya yang kebetulan dikenalkan pertama kali kepada mereka. Seperti tidak ada tepa selira, mereka minta diantar kesana kemari  dan berhenti di setiap toko untuk belanja, sementara teman saya baru pulang dari lab dengan wajah lelah. Pulang-pulang teman saya bilang.. *mba, gue baru sadar kalo elu bukan emak-emak rempong*. Sumpah, saya ngakak di atas penderitaan dia!

Lalu yang paling baru, masih dengan teman yang sama. Nasib sepertinya mengharuskannya berurusan dengan mereka. Semalam ia mengungkapkan uneg-unegnya atas sikap para senior itu. Salah satu dari mereka ingin meminjam headset untuk skype, tapi teman saya bilang ia tidak punya dan tidak tahu siapa di antara teman lain yang memiliki headset. Tiba-tiba sang profesor berkata, “haha.. don’t know is the easiest answer to reply, right?” dengan nada yang bisa dibayangkan karena saya pernah bersinggungan dengan orang itu. Meski naik darah, teman saya masih bilang “saya tidak tahu teman-teman punya atau tidak, karena saya bisa skype tanpa headset langsung dari laptop”. Lantas satu lagi orang yang lebih muda bilang, “could you knock them one by one and ask for it? I need it by 10 pm!” sambil menunjukkan jam di pergelangan tangannya.

Whaaattt? *adegan zoom in mata melotot tambah gede*

Hanya mendengar saja saya langsung emosi. Beneran deh kalau kejadian itu menimpa saya, mungkin saya akan bilang “Sorry I can’t help you” dan langsung masuk kamar.

49 thoughts on “Friksi

  1. Duh…
    tinggal di negeri orang banyak deritanya yah mba…
    tabaaaah…tabaaaah…

    tapi orang rese seperti ituh emang akan selalu ada sih mba…
    layaknya adegan sinetron, kalo gak ada tokoh antagonis…kagak rame…
    *plak*…hihihi…

    • aduh bunda.. masker muka ampe meleot nih, hihi
      akhirnya malah menghindar terus tuh, Bun.. takut ngomel2 sendiri

      yg masih terasa sakit hati sih ama temen sendiri itu.. rasanya gimanaa banget..
      *ngebayangin bakalan seperti apa selama 2 th di sini*

  2. Menyimak ceritanya…bisa jadi tipical org tsb bukan semata karena kita beda budaya/bangsa kan Mbak? Berfriksi dengan org spt itu, dengan sebangsa atau bahkan sedaerah pun bisa, tentu lbh Makjleb rasanya karena kita sebangsa setanah air.

    Pada akhirnya, ketika kita sdh menginjak dewasa..keluar dari rumah..setiap saat kita harus siap adaptasi ya…dan makin kompleks jika kita jadi pendatang ‘asing’ nun juah di seberang ..

    #idem..stock sabar saya juga berbatas Mbak..hehehe

  3. “Segitu saya masih ada di Asia Tenggara, di tempat dimana penduduk negara-negaranya bisa dibilang paling welcome. Bagaimana ceritanya jika tinggal di tempat yang sangat individualis? Bisa-bisa semua ayam langsung menetas kali ye? Saking hobi ngengkremin telur, hihi.” …

    aku kok justru merasa sebaliknya ya tinggal di sini, yg penduduknya bukan Asia, mereka sangat welcome, sering membantu walau mereka juga sangat individualis, aku merasa nyaman dan aman hidup di sini, jadi apa mungkin karena Hilsya masih tinggal di negara yg sama sama masih dlm wilayah Asia Tenggara ya ?

    • Saat di Australia (yg budayanya lumayan barat), instrukturnya malah bilang kalau orang asia itu lebih tidak ramah (instrukturnya ini orang asia lho …). Dan selama disana, saya bisa mengerti mengapa dia bilang begitu. Ada orang2 dari beberapa negara tertentu yang saya memang kurang sreg. Jadinya agak parno deh kalau ketemu orang dari negara tersebut …

  4. hihihi, saya ikut menertawakan penderitaan orang lain aja deh ..*dilempar sepatu ..

    Itu yang adegan terakhir, enak bener ya nyuruh ngetokin pintu satu persatu, ngetok pala yang nyuruh aje …*ajaran sesat …

  5. hmmm ….belom dewasa sekali. orang seperti itu….sabar mbak sabar……*waduh bahasanya…nanti bales yang lebih seru mbak…*waduh ini mah jadi provokasi….:)
    dinikamti dan disyukuri aja mbak…. kita chating aja yah….*waduh ini malah nggak baik nieh ajakannya..hehehe..seriuas..aku pernah merasakan pada posissi seperti itu…juga

  6. Waaahhh… ternyata banyak suka dukanya juga ya mbak.. klo gak pedulian sekalian seh lebih bagus menurut aku.. toh kita masih bisa pilah pilih temen.. klo yg udah merepotkan dan gak pernah merasa bersalah itu yg buat kesel.. hmm..

  7. Orang yang tidak menyenangkan itu ternyata ada dimana-mana, Hilsya…dengan berbagai rupa, dengan berbagai tingkah laku…yang pasti, hindari mereka sebisanya, agar emosi kita tidak terkuras sia-sia…🙂

    • iya, mba.. moga2 tulisan ini ga provokatif dan bikin orang jd ikutan emosi..
      setelah nulis dan baca lagi sih jadi pengen ketawa sendiri… lagian orangnya juga udh pada pulang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s