Ular berbisa

Tiba-tiba membahas ular berbisa? Serem. Saya sampai paranoid sendiri.

Kali ini saya hanya akan bercerita sekedarnya saja karena blas tidak mengerti sama sekali. Semenjak banyak jeda tidak ada kelas dalam beberapa hari ini, saya memang berniat mendokumentasikan perjalanan kebingungan saya dalam memahami berbagai topik selama berada di CGI. Ih, terdengar mulia sekali ya? hihi..

Saya juga baru tahu, jika di institusi kami ada divisi khusus bagian imunologi yang berkutat di bidang riset bisa ular. Profesor yang dulu menginterview saya mengundang kami untuk turut serta mendengarkan pembahasan mengenai snake venom tadi. Sebenarnya  mereka mengadakan semacam workshop untuk para peneliti dari Pakistan dan para mahasiswa dibolehkan ikut serta. Lumayan, buat nambah bingung #eh ralat.. ilmu pengetahuan.

Saya cerita secara umum saja ya.. Biar lebih mudah dicerna, selain tentunya saya juga tidak punya pengetahuan untuk berbagi secara ilmiah.

Jadi ceritanya dalam dunia per-ularan itu secara besar dibagi menjadi 2 jenis ular berbisa yaitu elapidae dan viperidae. Di Thailand, tentunya Naja kaothia (Thai cobra), Naja siamensis (splitting cobra), Bungarus fasciatus (banded krait), Bungarus candidus (malayan krait), dan Ophiophagus hannah (king cobra) yang masuk dalam kategori ini. Istilah krait, saya juga jadi lupa apa bahasa umumnya tapi jenis ular ini biasa punya ciri garis-garis warna putih atau kuning diantara sisik kulitnya yang hitam. By the way, namanya cantik ya.. Naja. Thai cobra itu yang punya tanda bulat sisik putih di kepalanya jika sedang dalam posisi siaga.

* gambar dari google : Ophiophagus hannah

Satu lagi adalah anggota ular viper, antara lain Daboia russelli (Russell’s viper), Malayan pit viper (orang Melayu biasanya bilang stupid snake karena sehabis menggigit korban, ular itu akan tetap berada di posisi awal dan tidak kabur), dan green pit viper (itu tuh yang warnanya hijau muda cantik dan hobi nangkring di pohon).

* gambar dari google : Russell’s viper

Biasanya hanya sekitar 20% toxin yang ditemukan pada ular yang hidup di daratan, sementara yang paling mematikan adalah Hydrophis Belcheri yang hidup di laut dan mempunyai 50 % toxin.

Beda di antara 2 jenis ular berbisa tadi adalah toxin yang dikeluarkan, untuk elapid snake sifatnya neurotoxin yang langsung menyerang sistem syaraf. Postsynaptic toxin dari elapid snake tadi menyebabkan kegagalan pernafasan dan sulit didiagnosis.

Identifikasi bagi pasien yang digigit ular berbisa dapat dilihat dari fang mark (tanda bekas gigitan). Ular berbisa mempunyai gigi taring yang tajam untuk menyalurkan toxin. Saat menggigit tubuh atau otot, kelenjar bisa akan terdorong untuk mendorong bisa melalui gigi taring. Fang mark juga mengidentifikasikan ukuran dan panjang ular. Kriteria bagi pasien yang terlihat jelas adalah mengalami ptosis, dimana pasien akan mengalami kesulitan untuk membuka mata, dan apalagi jika tidak ditolong dengan antivenom dalam jangka waktu dekat maka ia tidak akan pernah bangun lagi untuk selamanya.

Sementara untuk viperidae bersifat hematotoxin. Bisa ular viper mempunyai enzim yang akan merusak sistem aliran darah, antara lain hemolysis, blood coaggulation, dan hemorrhage. Bisa ular akan menghambat pembekuan darah di tubuh sehingga menyebabkan pendarahan. Dalam kasus hemorrhage, sel darah merah akan melarikan diri dalam sistem peredaran darah. Apabila mengalami hemorrhage dan darah tidak membeku akan menyebabkan pendarahan hebat.

Bisa dari jenis apapun biasanya selalu menyebabkan penurunan tekanan darah secara drastis dan akhirnya pasien akan meninggal, sementara detak jantungnya akan tetap termonitar selama beberapa menit. Itu artinya bisa ular tidak secara langsung menyebabkan jantung berhenti berdegup, namun kematian disebabkan oleh kegagalan pernafasan (respiratory paralysis) akibat hypoxia. Gigitan ular biasanya bersifat local toxicity di tempat lokasi gigitan dan systemic toxicity yaitu ketika toxin mengalir ke sistem peredaran darah.

Ok, itu baru pendahuluan. Risetnya mah nggak janji deh. Bingung menyederhanakan bahasanya *baca: nggak ngerti apa-apa*

Sementara untuk penanganan kasus gigitan ular berbisa berhubungan dengan riset tentang imunologi. Di sini telah berhasil dikembangkan polyvalent antivenom against neorotoxin maupun hematotoxin yang tersedia di palang merah setempat, sehingga kasus penanganan gigitan ular bisa di Thailand dapat direduksi menjadi hanya 2 kasus di tahun 2010. Bagaimana dengan di Indonesia? Asli, saya tidak tahu tapi semoga risetnya tidak kalah maju sekarang ya..

Mereka mengembangkan riset antivenom ini dengan menggunakan kuda sebagai hewan percobaan untuk menghasilkan antivenom. Ada beberapa kendala yang dihadapi sehubungan dengan kesulitan dalam produksi, respon rendah dan waktu imunisasi yang cukup lama dari kuda, dan penggunaan bisa dalam jumlah cukup besar untuk imunisasi menyebabkan biaya riset menjadi membengkak. Karena itu dalam riset sebelumnya mereka menggunakan tikus sebagai hewan percobaan dengan melakukan mimic karakteristik kuda di dalam tikus. Dan mengaplikasikan complete of adjuvant (CFA) dengan dosis dan volum kecil, dan bersifat multi site injection pada kuda untuk menghasilkan antivenom dalam jumlah besar. Dalam riset selanjutnya mereka akan mengembangkan antivenom yang bisa diaplikasikan untuk kasus gigitan ular jenis apapun.

========

Mohon maaf kalau tidak dimengerti atau ada yang salah. Pemosting (bener nggak nih nulisnya?) adalah seorang emak-emak pekerja lapangan, tidak mempunyai background di bidang medis, farmasi, atau bahkan biokimia, berhenti belajar kimia analisis di usia 21, cukup berumur (ih, penting ya dibahas) yang nyasar terjun ke negeri antah berantah.

Hanya sekedar berbagi. Semoga saja bermanfaat.