Orientasi

Belum lama kemarin, kami berdua  duo tante dan keponakan dari Ina hang out dengan teman asli dari sini. Bukan di kafe, tapi jalan-jalan ke pasar tradisional dan belanja makanan sebelum mampir ke tempat kostnya untuk mengambil oleh-oleh lamyay, lengkeng segar. Teman sekelas kami tadi adalah seorang lelaki cantik.

Keberadaan gender ke 3 di Thailand memang sangat jelas. Lepas dari kontroversi, mereka diterima masyarakat luas sebagai bagian kehidupan sosial. Masalah keberterimaan karena aspek lain diabaikan, dan saya juga tidak ingin membahas hal itu. Tidak akan bicara tentang agama, karena kami memang berbeda. Jadi kemarin saya hanya bicara jujur dari hati ke hati, sebagai tantenya mereka.. hihi. Biasanya mereka suka iseng memanggil saya Ahjumma (married woman for Korean).

Di angkatan kami, ada 3 orang lelaki muda pintar yang mengaku sebagai gender ke 3. Satu orang lelaki keren yang terlihat seperti pria metro itu dengan terang-terangan mengaku gay. Dua orang lagi terlihat lebih seperti wanita, bahkan teman yang saya ajak ngobrol tadi selalu berdandan all out dalam setiap kesempatan termasuk saat masuk kelas. Jujur saja, waktu pertama kali bertemu saya kaget setengah mati.

Tetapi mereka menerima kami dengan baik jadi tidak ada masalah, karena itulah kami lumayan dekat dan tak canggung-canggung untuk bicara to the point. Termasuk mengungkapkan rasa penasaran saya untuk bertanya. Cuek aje!

Sewaktu saya tanya, ‘Apa kamu benar-benar tidak tertarik pada wanita?’ Dengan santai ia bilang, ‘Tidak, saya punya pacar lelaki dari sejak tk. Orang tua saya awalnya menolak mati-matian, tapi sekarang mereka sudah menyerah.’ Saya cuma mengangguk-angguk bingung. Tetap saja masih belum bisa menerima. Sayang saja rasanya, punya IQ luar biasa dan anak semata wayang di keluarga pasti kondisi seperti itu membuat perasaan orang tua bergejolak. Tapi dengan santai, dia bilang “why do you have to be worried? you are married”. Eh..dibahas pula!

Orientasi di sini memang dianggap lumrah, ketika seorang lelaki ditanya apakah kamu punya girlfriend lantas ia menggelengkan kepala maka dengan santainya sang penanya akan melanjutkan dengan pertanyaan apakah kamu punya boyfriend?

Atau lain waktu ketika kami sedang berdiskusi dalam kelompok, kebetulan 2 orang tadi terlibat pembicaraan serius dalam bahasa setempat. Ketika dikira sedang membicarakan materi ppt, ternyata mereka malah sibuk menggosip bagaimana caranya memikat hati lelaki..hwadeuuh!

Perkara keberadaan lelaki-lelaki muda tampan tadi juga menyisakan perasaan patah hati buat teman saya yang masih singel. Ketika kami berkenalan dengan seorang senior yang terlihat sangat menawan dan pintar luar biasa, ia langsung berharap setinggi langit dan langsung ‘pingsan’ ketika tahu target yang dimaksud tidak tertarik pada wanita.

Ah, dunia..

16 thoughts on “Orientasi

  1. Sereeeem Hilsyaaaa…naudzubillah min dzalik…belum pernah lihat langsung sih, cuman dari cerita banyak orang plus foto-foto, saya jadi ngebayangin, gimana kecantikan mereka kalo nggak pake make up lengkap…uhu, masih cantik juga-kah?😉

  2. Hehehee..sayang yah mbak..pinter pinter, anak tunggal…muda dan ganteng…yah semoga suatu saat dapat hidayah dan petunjuk..*waduh nyambung nggak yah..hehehe….siapa tahu kan….jadi mereke terus ganti orientasi..menikah punya keluarga dan punya anak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s