What can I do?

Hari ini saya baru selesai ujian (lagi). Lima jam duduk manis menatap 14 lembar soal sambil cengar-cengir stres karena tidak bisa menjawab rasanya sudah menjadi bagian dari hidup.

Geregetan rasanya ketika kita mengabaikan hal-hal yang dianggap gampang dan lebih berfokus pada hal yang complicated. Namun ternyata di saat tertentu yang mudah berubah menjadi sulit karena akhirnya lupa. Ya ampun, dikasih nilai berapa ya? Pasti Ajarnnya geleng-geleng kepala melihat lembar jawaban seorang murid yang oneng ini. Mohon maklum ya Ajarn, kan udah tuwir *ngeles…*

Jadi berasa pengen nyebur ke kolam renang  di siang bolong! Apa ke tempat sauna gitu aja kali ya?

Tapi bohong deng. Ujung-ujungnya malah berakhir dengan adegan mandi di bawah shower sambil ngedeprok sekalian nyuci baju, hihi..

Kali ini perasaan yang sama juga tidak hanya dialami saya seorang. Teman-teman juga mengeluh sulit dan mendadak jadi pengen pulang kampung. Apalagi menjelang bulan puasa ini. Duh, ngomong-ngomong tentang puasa ternyata tinggal beberapa hari lagi. Meski berpuasa di tempat orang  kali ini bukan hal yang pertama, tapi tetap saja bikin kangen. Beda rasanya!

Nggak tahulah, perasaan masih campur aduk campur tak keruan. Tapi mau berleha-leha, kok 3 paper sudah menanti di depan mata. Ditambah sang Profesor satu ini punya hobi tukang teror mikrofon, mau tidak mau kan harus siap untuk bisa jawab pertanyaan.

Ah, apa yang harus kulakukan? Baca lagi gitu?

Oh, tidaaak…