Have f(s)un at Ayutthaya

Untung saja 2 minggu lalu saya mengundurkan diri dari acara trip mandiri ke Ayutthaya. Hari kamis lalu, kami mendapat undangan cultural trip dari akademi untuk pergi ke Ayutthaya. Program one day trip pada hari Sabtu bersama para student peserta proyek riset dari Amrik. Lumayan. Gratis dengan fasilitas lebih nyaman. Transportasi dengan van, makan, dan tiket tempat wisata.

Jadi tidak sempat menikmati acara naik sepeda keliling kota seperti yang kerap dilakukan turis-turis?

Yup..hehe. Saya mah kibar bendera tinggi-tinggi saja jika harus bersepeda keliling kota di hari yang terik tiada tara itu. Nggak kuat…

Sebenarnya saya ingin bercerita banyak tentang Ayutthaya. Tapi jujur saja, saya sedang tidak punya waktu untuk cari referensi. Lelah.

Hari Jum’at sebelumnya, kami baru saja selesai ujian mata kuliah (lupa judul Inggrisnya..) tentang central dogma dan pengantar kanker. Ngomong-ngomong sebenarnya dalam ujian kemarin kami dibolehkan menulis kebetan 2 lembar folio. Dengan penuh semangat saya menuliskan detil transkripsi, translasi, mekanisme lac operon, glikolisis, cori cycle, berikut soal-soal yang keluar dari problem set kemarin. Dan ternyata… soal yang keluar adalah mekanisme hipoksia dan interferon yang hanya sedikit saya tulis, sedikit saya baca ditambah tidak mengerti pula.

Huwaaaa.. mau nangis! My notes are useless..

Jadilah soal yang hanya ada 6 itu, sukses saya lalui dengan mengarang indah selama 4 jam dengan English yang amburadul.  Panik. Waktunya masih kurang jika harus berpikir keras mengingat-ingat materi yang pernah dibaca. Mana semalam tidur jam 1 pagi lalu siangnya masih ada kelas. Sampai jam 5 sore pula. Remuk redam deh!

Ya sudahlah.. Semoga tidak harus mengulang!

Balik lagi ke trip Ayutthaya yang dapat ditempuh dalam jangka waktu 1 jam dari tempat kami di Laksi. Meski mata masih merah dan badan terasa lelah, kami semangat menikmati acara gratisan ini. Tujuan pertama adalah Bang Pa In Palace.

Royal Palace di Bang Pa In ini merujuk pada kisah di abad 17. King Prasart Thong membangun istana di Bang Pa In yang terletak di pinggir Chao Phraya. Kompleks ini dibangun kembali oleh King Rama IV dari dinasti Chakri dan King Rama V dengan arsitektur western style dan terawat baik.

Aduh, asli .. jika harus mengutip tentang sejarah, rasanya mungkin lebih baik mencari ke sumber terpercaya saja.

Dengan kompleks bangunan yang sangat luas, trip ini kami tempuh selama 1,5 jam. Jika tidak ingin berlelah-lelah, sebuah golf car berisi 3-4 orang bisa disewa seharga 100 baht (lupa, entah per jam atau sampai selesai). Tiket masuk ke dalam istana untuk turis asing seharga 100 baht, sementara orang lokal 30 baht.

Aisawan-Dhipaya Asana, sebuah paviliun di tengah kolam yang dikenal sebagai ikon Bang Pa In. Di kolam tersebut, banyak terdapat ikan luar biasa besar yang selalu diberi makan roti seharga 15 baht oleh pengunjung. Selain paviliun ini banyak bangunan-bangunan lain yang sama bagusnya seperti residential hall bergaya Eropa, bangunan beraksitektur china atau menara untuk mengamati kondisi sekeliling, Ho Withun Thasana.

Setelah makan siang di sebuah floating restaurant, kami mulai menuju kota Ayutthaya untuk melihat sejarah masa lalu yang tersisa. Banyak sekali peninggalan wat yang masih kokoh maupun yang sudah runtuh digerus jaman. Apalagi ketika banjir tahun lalu melanda, beberapa wat pun terkena imbas.

Phra Nakhon Si Ayutthaya merupakan ibu kota Thailand selama 417 tahun, terletak 76 km dari Bangkok. Banyak sekali reruntuhan kuno peninggalan dinasti masa lalu yang hancur diserang tentara Burma pada tahun 1767.

Atraksi utama para turis mancanegara ini meliputi sebuah historical park yang luas. Tempat pertama yang kami kunjungi karena dekat dengan tourist center information adalah elephant ride di Pa Thon Road. Dengan membayar 200 baht pengunjung bisa menikmati saat-saat menunggang gajah selama 10 menit. Mengapa tiketnya cukup mahal? Karena konsumsi makanan per gajah setiap hari bisa mencapai ton-an. Jika ingin berfoto dengan baby elephant, dikenakan charge seharga 40 baht. Teteup yah.. meski dibilang bayi, tetap saja besar banget.

Saya naik gajah? Nggak berani..

Tempat kedua yang dikunjungi adalah Wat Phra Si Sanphet dengan tiket masuk seharga 50 baht. Sebuah komplek wat yang biasa digunakan sebagai royal chapel dari tiga chedi yang sukup tinggi. Dikenal sebagai identitas Ayutthaya.

Kami memasuki wat ini melalui jalan yang melewati wat Mongkhon Bophit yang kebetulan hari itu terlihat cukup ramai dengan adanya sebuah upacara agama.

Setelah itu kami beranjak menuju wat Maha That yang berada dalam taman Phra Ram. Terletak di depan Grand Palace arah timur dekat jembatan Pa Than. Tiket masuk ke dalam komplek ini juga seharga 50 baht. Komplek bangunan ini terdiri dari berbagai reruntuhan candi yang dibangun dari batu bata

Di komplek wat maha That ini terdapat patung kepala Budha yang tergantung pada akar pohon. Pengunjung yang akan berfoto diharuskan berjongkok agar setara dengan kepala Budha. Berdiri lebih tinggi dari patung kepala dianggap tidak sopan.

Sebenarnya kami berniat untuk mengunjungi wat Ratchaburana yang berada di seberang Maha That, tapi berhubung jika harus berjalan kaki terasa cukup jauh, akhirnya kami malah memilih ngadem di tempat teduh. Ayutthaya di sore itu terasa sangat terik, padahal sudah jam 4 sore.

Tempat ketiga adalah wat Yai Chaimongkhon yang terletak arah tenggara di luar kota. Di tempat ini terdapat patung Budha dalam posisi berbaring dan diselimuti kain kuning. Di sini terdapat chedi besar yang cukup tinggi. Jika naik ke puncak chedi, pengunjung diharuskan membuka alas kaki. Di dalamnya terdapat sebuah lubang yang cukup dalam sampai ke dasar bangunan. Tiket masuk ke dalam seharga 20 baht.

Tempat berikutnya sambil menuju arah pulang, kami menyempatkan diri melihat sebuah chinese temple bernama wat Panan Choeng yang terletak di tepi sungai. Untuk masuk ke dalam dikenai tiket seharga 20 baht. Di dalamnya terdapat patung budha besar berwarna keemasan. Wat ini dikenal sebagai tempat untuk memperoleh kemakmuran.

Tadinya kami berniat untuk mengunjungi floating market, namun ternyata hanya dibuka pada jam 08 – 16 sore. Kebetulan hujan turun dengan deras dan kami harus kembali pulang ke residence.

Acara trip ini sangat menguras energi, padahal kami sudah terlindungi dengan van yang nyaman. Namun Ayutthaya tetap saja terasa terik. Saya jadi tidak bisa membayangkan jika harus mengayuh sepeda berkeliling kota dengan kondisi jalan raya yang cukup padat itu, seperti yang dilakukan teman-teman kami.

Sekarang saja badan masih terasa pegal-pegal. Saya memaksakan diri untuk posting hari ini karena baru sadar jika mulai minggu depan jadwal kami terbilang padat. Dari pagi sampai sore, dengan jadwal ujian yang sudah menanti. Plus jurnal-jurnal yang tidak bisa dimengerti, peer yang susah aje gile ditambah materi kloning DNA yang baru saya dengar kali ini.

Hwadeuh.. Semangaaat!