Wai Khru membuat haru

Tadi pagi saya baru saja selesai mengikuti seremonial Wai Khru yang diselenggarakan oleh institusi kami. Wai Khru adalah tradisi seremonial Thai dimana para siswa menghormati guru-gurunya. Student pay respect and express their gratitude to the teacher. Terdengar menarik  bukan?

Wai Khru berasal dari ritual animistik leluhur mereka yang disebarkan oleh Brahmanism dari India. Awalnya dilakukan oleh para pelaku performing arts (seperti para penari dan penyanyi musik klasik) dan traditional martial (muay thai) sebagai tanda penghormatan dan ucapan terimakasih kepada para guru  pembimbing yang telah mengajari mereka selama ini. Namun di era modern, wai khru juga diselenggarakan di sekolah dari tingkat dasar sampai kuliah di bulan Juni pada hari Kamis. Sebagai tanda awal semester ganjil dimulai.

Tadi sempat dijelaskan, bahwa mereka punya 2 kata berbeda untuk profesi guru. Ajarn dan Khru. Ajarn lebih mengarah pada seseorang yang mempunyai ilmu dan mengajari kita, sementara Khru sifatnya lebih intim. Khru berarti seorang guru yang sangat peduli dan mengajari kita. Seorang khru lebih dekat dengan muridnya. Karena itulah para murid melakukan wai (posisi menghormat dengan menyatukan kedua telapak tangan dengan ibu jari mengarah ke dagu) kepada khru-nya.

Seremonialnya sederhana. Kami para pelajar duduk di bangku yang telah disediakan di sebuah ruangan besar. Barisan depan ditempati oleh para guru dan pengajar. Ada beberapa kursi yang dijejerkan di depan podium untuk para guru senior dan digunakan dalam tata upacara. Pertama, dibuka dengan bacaan doa agama Budha lalu para pelajar membawakan kidung – puisi yang dinyanyikan (dalam bahasa Thai) tentang janji dan penghormatan para murid untuk belajar sungguh-sungguh. Kemudian, beberapa siswa maju ke podium membawakan rangkaian bunga untuk diberikan kepada para guru. Para siswa duduk bersimpuh, dan menyembah sesuai tradisi Thai sebelum memberi bunga. Lalu, ada beberapa siswa yang membawa buku kepada seorang guru senior sebagai simbol untuk memberkati siswa agar lebih giat belajar. Kami mengucap janji untuk belajar bersungguh-sungguh. Terakhir, kami menghadap para guru untuk menyerahkan karangan bunga sambil diberi wejangan agar sukses di kemudian hari. Fighting!

gambar diambil dari google

Di sini saya tidak akan menyinggung tentang agama dan budaya. Kami punya perbedaan masing-masing dan saling menghormati. Tapi yang membuat terharu adalah betapa besar penghargaan para pelajar terhadap gurunya. Sangat menyentuh. Entahlah, saya sampai berkaca-kaca.

Jadi teringat guru-guru saya di Indonesia. Jadi teringat ibu saya, bapak mertua dan ibu mertua (almh)  yang berprofesi sebagai guru.. *diam-diam ngelap air mata*

Ditambah lagi, tiba-tiba Ajarn yang menginterview kami saat di Jakarta dulu datang menghampiri sambil menanyakan kabar studi kami. Diperlakukan seperti itu, membuat saya merasa sangat tidak enak hati. Malu rasanya melihat nilai yang masih di bawah rata-rata ini. Seorang Ajarn yang low profile tadi sudah berubah menjadi Khru. Beliau terus menyemangati kami agar selalu berjuang dan bekerja keras demi kesuksesan studi. Beliau bilang satu semester ini adalah masa adaptasi kami dan memang akan sulit. Beliau menaruh kepercayaan luar biasa bahwa kami yang terpilih ini akan mampu melewati segala halangan dan rintangan.

Ya Allah, saya jadi tak kuasa meneteskan air mata… Sedih, haru, dan semua perasaan campur aduk lainnya menjadi satu.

Semoga kita semua lebih bisa menghargai jasa para guru..

18 thoughts on “Wai Khru membuat haru

  1. Ternyata mbak jadi juga melanjutkan kuliah ke LN…. *ketahuan lama menghilang, jadi ketinggalan berita*
    Irni yang memberiku kabar tentang itu beberapa waktu yang lalu….

    Wah asyik ya… bisa menyaksikan ‘budaya’ negara lain… dan pastinya mengesankan sekali jika setiap anak menghargai guru2nya.🙂

  2. ritualnya seprtinya menggugah emsoi..mungkin kalau di sini kayak wisuda getu suasana harunya ya Mbak..#ngira-ngira,

    Congrats mbak, sdh bisa sampai negeri seberang dan bisa berinteraksi dgn culture yg definetrly berbeda…#pengeenn

  3. Iya Mbak, ritual penghormatan dan penghargaan terhadap para guru juga kerap kali membuatku haru. Termasuk saat menghadiuri pembagian raport anak-anak🙂 *nyambung nggak sich, hihiiii…

  4. hmmm….wah keren yah tradisinya..
    disini kayaknya cuman pada hari guru itu aja..dan lagi ituupun murid dah pada lupa kali..terus saat mau lulus aja biasanya inget..setelah itu walah…
    hmm jasa mereka sangat luar biasa untuk kita…

  5. tradisi yang menarik ya mbak.. sayang fotonya bukan yg asli dr mbak😉

    sepertinya ceremonial seperti itu oatut ditiru.. karena penghormatan kepada para guru di indonesia emang udah berkurang bangrt rasanya..

    btw.. ibu aku juga guru loh mbak😀

  6. Ping-balik: Wai Khru ke 2 | written minds

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s