Serial floating market : Amphawa

Lanjutan postingan sebelumnya..

Selesai berputar-putar di King Rama II Memorial Park, kami menyusuri pasar sekitar area floating market Amphawa. Seperti biasa, selain buah-buahan segar mata saya langsung tertuju pada minuman oranye gac fruit yang rasanya asam-asam manis. Buah kaya akan vitamin C ini penampakannya  unik. Hanya ada 2 kedai yang  menjajakan dengan harga variatif. Sebotol juice gac fruit berukuran 500 ml dihargai 35 baht.

pohon gac fruit yang ada di rumah juga bibitnya dari Amphawa.. tapi kenapa ga berbuah ya?

Selain gac fruit, yang paling saya cari di Amphawa adalah aneka olahan ikan dan seafood. Udang, kerang, cumi, ikan asin, kepiting soka terlihat begitu menggoda. Yang paling saya suka adalah squid egg yang dihargai 40 baht untuk cup kecil atau 70 baht untuk porsi lebih besar.

penganan telur cumi goreng yang dibubuhi sambal pedas asam.. aroii mak…

Jajanan pasar seperti coconut cake, kerupuk udang, kue-kue basah dan kering juga bertebaran di mana-mana. Hari minggu itu terasa sangat ramai, karena keesokannya kami libur Vaisak.

Ketika Zang menawari kami kembali untuk mengeksplorasi sungai Mae Klong dengan membayar 50 baht per orang, kami setuju. Boat yang kami naiki berukuran jauh lebih besar. Ada 7 baris bangku, tiap bangku diisi 4 orang dan semua penuh. Jadi kami bergabung dengan berbagai grup dan mengikuti tur mengunjungi wat ke wat. Boat melaju  kencang di sungai yang lebar dan  dalam, karena menimbulkan cipratan-cipratan seru pada penumpang disertai hembusan angin.

Tur floating market di Amphawa ini jauh lebih murah dan meriah dibanding Dumnoen Saduak, meski Amphawa adalah derivat dari Dumnoen Saduak yang menjadi pionir. Saat ini konsep floating market diterapkan hampir di berbagai daerah di Thailand. Amphawa terlihat lebih ramai karena berlangsung dari pagi sampai malam. Bahkan pada malam hari, dibuka paket wisata dimana para turis diajak berkeliling untuk menikmati kunang-kunang.

Dalam waktu sekitar 1,5 jam kami mengitari 3 tempat wat. Wah, saya tidak hapal nama tempatnya tapi saya tahu karena saya pernah kesana sebelumnya. Di wat pertama, saya sukses menunggu di depan gerbang dan tidak masuk ke dalam karena dihadang anjing-anjing yang berkeliaran bebas. Nah lho!

kyaaa.. huss! ngapain sih pake acara mejeng di tengah jalan gini?

15 menit menanti seluruh orang berkumpul dan naik ke boat lagi. Lantas kami melanjutkan perjalanan. Ternyata tujuan selanjutnya adalah Bang Kung.

Halaaah! Gondok rasanya kepada pemilik boat di Dumnoen tadi. Kalau saja kami tahu jika ikut tur di Amphawa sudah termasuk ke Bang Kung, tidak rela rasanya harus membayar 300 baht tadi! Hihi, masih dendam..

Tapi akhirnya kami turun juga di Bang Kung, tepatnya turun dari sisi sungai. Dari sini yang pertama kali kami lihat adalah kumpulan kandang berbagai hewan. Dari mulai kambing, kelinci, merak, babi hutan, burung unta, sampai beruang. Kami tidak melanjutkan ke arah jalan raya karena sebelumnya sudah dieksplorasi. Hanya duduk manis di bangku tunggu karena kaki sudah terasa pegal. Begitu pula di wat selanjutnya. Nggak kuat lagi…. Di Bang Kung ini juga pengunjung bisa membeli roti seharga 10 baht untuk dijadikan pakan ikan. Ikan bawal, tawes, nila berukuran lebih dari 30 cm kami temukan asyik mengejar roti. Ikan-ikan ini tidak dikonsumsi.

Setelah wat ke 3, kami kembali ke pangkalan boat sambil menikmati kehidupan penduduk setempat. Mereka menggunakan sungai ini untuk berbagai keperluan. Mandi, mencuci, berenang, semuanya. Tapi saya tidak tahu mereka menggunakan air sungai ini untuk memasak atau tidak. Airnya berwarna coklat.

Selesai berkelana kami berjalan kembali untuk pulang ke Bangkok sambil bolak-balik mampir di kedai makanan. Aneka penganan terutama seafood di Amphawa ini benar-benar menggoda. Dan karena tidak rela jika harus kelaparan saat di kendaraan kami memutuskan untuk singgah di sebuah tempat makan, Ngowpochana.

sori, ikannya tinggal kepala doang..

Kami bertujuh harus membayar 75 baht untuk 3 porsi  ini. Mahal nggak sih? *mikir sambil konversi ke rupiah*

Tapi sudahlah, kebanyakan mikir malah membuat perjalanan jadi tidak asyik. Yang jelas serial floating market seharian ini sangat menyenangkan dan berhasil membuat kaki remuk redam. Dan bagi saya pribadi, saya lebih memilih Amphawa ketimbang Dumnoen Saduak.

Perjalanan kembali ke Bangkok selama 2 jam kami lalui tanpa sadar. Dengan membayar 80 baht per orang kami tidur kelelahan dalam van yang nyaman. Tanpa disangka, tiba-tiba kami telah sampai di bawah BTS Victory Monument. Pilihan pulang ke residence ada 2. Naik bis no 29 dengan membayar 7 baht atau bahkan gratis tapi memakan waktu lebih dari 1 jam karena macet? Atau naik BTS ke Mo Chit membayar 35 baht selama 5 menit dan lanjut dengan taksi sekitar 80 baht selama 15 menit?

Saya pilih no 2…

18 thoughts on “Serial floating market : Amphawa

  1. Hilsyaaaa…
    Maafkanlah saya baru berkunjung lagi dan siap-siap mau rapel komen😀

    Ternyata Hilsya di Thailand to?
    Buah-buahan disana *kata Risa* memang enak, bagus dan seger banget ya, saya belum pernah kesana sih jadi aja susah buat membayangkan gimana enaknya gac fruit itu…

    Iyaaaa…hehe, kalo Baht selalu kita konversi ke rupiah jadinya malah nggak makan-makan apalagi belanja lo, terlalu sibuk mikir mahal apa murah soalnya😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s