Serial floating market – Dumnoen Saduak

Mumpung ada waktu libur, hari Minggu kemarin kami memutuskan untuk bereksplorasi. Yup, daripada bengong di residence sambil download drama Korea..

Setelah kasak-kusuk akhirnya diputuskan untuk pergi ke floating market saja. Ini sih bukan pertama kali buat saya pergi ke floating market, tapi berhubung mereka memilih ke Dumnoen Saduak (waduh tulisan ini banyak versinya, ada yang Damnern, atau Damnoen.. pokoknya begitulah) akhirnya saya ikut juga. Letaknya sekitar 105 km ke arah SE dari Bangkok.

Kali ini kami pergi bertujuh dengan guide Thai dari Chiang Mai, Zang yang juga sama-sama tidak tahu letaknya dimana, hihi.. Bedanya hanya dia bisa berkomunikasi saja.

Dari Laksi kami pergi ke Bangkok Bus Terminal yang menuju arah selatan, lumayan jauh dan berputar-putar karena saat kami berangkat jam 7 pagi saja sudah menunjukkan kemacetan luar biasa. Saya sampai berprasangka, jangan-jangan karena semua penumpangnya orang asing kami dibawa entah kemana. Tapi ternyata memang cukup jauh dan memakan waktu sampai 50 menit, dengan biaya taksi seharga 240 baht.

Tiba di terminal bus, kami dipandu menuju bus yang akan membawa kami ke Dumnoen Saduak. Sebuah bus double-decker nyaman. Tiket per orang 73 baht dengan lama perjalanan selama 2 jam. Lumayan, meski saluran komedi pada tivi dipasang keras-keras, tetap saja kami semua tertidur pulas. Dan menjadi penumpang terakhir yang turun dari bus sambil kebingungan.

Saya yang pernah ke Amphawa jadi bingung sendiri melihat lokasi wisata ini. Mana sungainya ya?

Ternyata area floating market di Dumnoen ini hanya berupa kanal selebar 4-6 m. Dari tempat kami turun, kami menuju tempat tiket untuk membayar 200 baht menggunakan boat kecil bermotor untuk berkeliling area. Satu boat hanya dipenuhi oleh 4 orang saja.

Menurut sejarah, tahun 1866 King Rama IV memerintahkan untuk menggali kanal sepanjang 32 km di Dumnoen Saduak yang nantinya menghubungkan Tachine River dengan Mae Klong River. Tanah di sekitar kanal ini sangat subur untuk berbagai tanaman. Dumnoen Saduak ini merupakan tempat atraktif bagi turis untuk menikmati cara jual beli tradisional, tempat tinggal dan kehidupan masyarakat Thailand.

GPS Location :  N 13.517462   E 99.952862new123.gif (1369 bytes)
Travel from Bangkok via Thonburi-Paktoh Highway to Samut Songkhram Town. Follow the sign to Damnoen Saduak (Highway No.325).

sumber dari (http://www.bangkoksite.com).

Perlahan tapi pasti, boat kami melaju menuju lokasi floating market. Rupanya ada 2 macam boat, yang satu bermotor satu lagi dikayuh biasa. Kebanyakan yang mengayuh kapal disini adalah perempuan, bahkan ada yang sudah sepuh. Di sini transaksi hanya berlangsung dari pagi sampai sore saja, tidak seperti di Amphawa. Pengalaman baru dimulai..

Di sisi kiri dan kanan kanal, penduduk setempat menawarkan aneka ragam souvenir khas Thailand. Kaus, baju, tas, patung gajah, dan lain-lain. Tetapi kebanyakan dari mereka menjual aneka buah-buahan, dan makanan saji yang sepertinya sangat menggoda selera. Pisang, pomelo, jambu sukun, kelapa muda, rambutan dijajakan bervariasi dari mulai 25 baht.

ada kemacetan juga di lokasi tertentu..

Kami diajak berputar-putar mengelilingi kanal buatan, sambil disapa oleh para pedagang yang berharap para turis mau membeli sesuatu dari mereka. Dan ternyata perjalanan satu jam kami dilalui tanpa membeli apapun. Bingung dan berakhir dengan begitu saja, hehe..

Perjalanan belum berakhir, karena ini baru jam 12 siang…

Selesai berkeliling Dumnoen Saduak tanpa kesan mendalam, kami memutuskan makan siang seadanya di pangkalan boat tadi. Saya membawa bekal dalam tupperware, takut tidak menemukan makanan halal. Perjalanan untuk menikmati gua stalaktit stalakmit digagalkan mengingat jaraknya sangat jauh. Berhubung Zang juga baru pertama kali ke sini maka ia pun tidak punya ide sama sekali akan pergi kemana dan naik apa. Lantas ia bertanya kepada pemilik boat bagaimana cara pulang ke Bangkok atau opsi lain yang bisa kami jelajahi.

Sang pemilik menawarkan berbagai pilihan. Ia berujar jika kebanyakan turis yang datang kesana biasanya menyewa van atau mobil pribadi, Tidak ada bus khusus langsung ke Bangkok. Kami sedikit tidak mengerti, bagaimana mungkin bisa ada bus yang membawa ke sini dari Bangkok, tapi tidak ada yang membawa kembali. Ia bilang ia bisa menyewakan mobilnya untuk mengantar kami ke Amphawa. Dengan membayar 2000 baht kami akan dibawa menuju Bang Kung, Amphawa, dan King Rama II Memorial Park. Rasanya  tidak rela membayar 300 baht per orang. Terlalu mahal. Tapi kami tidak tahu akan kemana lagi, dan akhirnya pasrah.

Kekagetan bercampur dongkol dimulai ketika menyadari bahwa mobil yang membawa kami ternyata mobil Ranger sejenis pick up. Bagaimana mungkin 7 orang diangkut sedemikian hingga. Akhirnya 2 orang duduk di bangku depan, sementara 5 orang di bangku belakang. Posisi saya di tengah-tengah dengan modal bokong menempel pada jok. Ya ampun, tega banget!

Meski duduk terjepit dengan kaki panjang yang melengkung sama sekali tidak membuat nyaman, kami berusaha menikmati suasana yang unik. Kapan lagi bisa seperti ini. Tak berapa lama, sekitar 20 menit dari Dumnoen kami singgah di Bang Kung.

Bang Kung adalah barak prajurit yang dibangun di sekitar 300 tahun silam. Camp site yang terbilang luas ini diperuntukkan untuk melatih para prajurit melawan tentara Birma. Info sejarahnya bisa dibaca di sini. Di dalam komplek ini terdapat berbagai bangunan. Wat dan juga aneka koleksi binatang yang nantinya akan kami lihat dari sisi sungai Mae Klong. Di sisi kanan pintu masuk dari jalan raya Tambon Bang Kung terdapat berbagai patung yang memperlihatkan aneka gerakan olahraga bela diri.

apakah ini gerakan Thai boxing?

Di tengah-tengah berupa memorial park yang dipenuhi dengan patung raja dan patung ayam jago. Sementara di sisi kiri terdapat sebuah wat tua yang atapnya telah hancur, dilingkupi pohon-pohon besar. Di dalam wat seluruhnya dilapisi marmer. Banyak orang yang datang ke sana. Menurut pemilik mobil yang membawa kami konon kabarnya wat ini diperuntukkan bagi para peziarah yang akan mencari wangsit guna mendapatkan nomor lotere.

 30 menit kami berada di Bang Kung. Saat itu ada pertunjukan musik tradisional sorng yang sedang dimainkan, jadi kami duduk sejenak untuk menikmatinya. Kemudian kami kembali menempati posisi berdesakan dalam mobil untuk dibawa ke King Rama II Memorial Park. Tiba-tiba hujan turun lumayan deras dan dalam perjalanan tak disangka saya tertidur sejenak. Saya baru sadar ketika mobil menuju taman. Lho kok? Ini kan jembatan  di Amphawa itu?

Kami diturunkan di King Rama II memorial park. Saat akan ditinggalkan sang pemilik mobil bilang, jika ingin ke Amphawa kami tinggal berjalan beberapa ratus meter. Apaa? Bayar 2000 baht cuma untuk 3 jam saja? Dalam kondisi seperti tumpukan ikan asin? Perampokan!

Tapi sudahlah, daripada menangisi nasib seperti itu mari kita menikmati keasrian taman yang luas ini.

 

Untuk masuk ke dalam area taman, pengunjung dewasa membayar karcis masuk seharga 20 baht sementara untuk anak-anak cuma 5 baht.

Ada apa di dalam taman? Seperti inilah pemandangan asri di taman yang luas. Bangunan tradisional Thailand berbentuk rumah panggung dengan arsitektural yang sangat harmonis di sisi sungai Mae Klong.

Sayangnya para pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil gambar di dalam bangunan. Tetapi dapat saya gambarkan bahwa di dalam bangunan terdapat benda-benda yang kerap digunakan di masa terdahulu. Di salah satu lokasi museum, diperlihatkan miniatur Amphawa berikut area Mae Klong.

Kami menyelesaikan berkeliling taman pada jam 15.30 dan masih ada waktu untuk menyusuri sisi lain floating market di Amphawa! Marii…

15 thoughts on “Serial floating market – Dumnoen Saduak

  1. refreshing nieh yee…..!!! gimana gimana pasti sukses examnya sehingga bisa jalan jalan ke pasar terapung..eh kayaknya banyak jualan yang fresh2 aja yah..buah, bunga dan sayur sayuran aja yah….???? eh pernah lihat reportasenya pasar itu di tv…duh pengin lihat pasar terapung..seumur umur belom pernah lihat…baik di kalimantan maupun yang dithailand…heuheueheu…ayo kalo sudah cepet balik, belajar belaja…hehhhe…*kok jadi kayak polisi aja neih emak kinan…
    ditunggu bersambungnya..

    • sukses ga bisa, mam.. tenang aja
      selama ini aku berprinsip tidak perlu malu kalau tidak bisa..
      tapi kalo ga bisa semua ya.. tenyata malu juga…hahaha

      ehm, lebih baik lihat yang di banjarmasin dulu ya..
      *aku nyesel udah sampe banjar ga sempet lihat*

  2. Aku tahu dan sangat percaya tak ada maksud hatimu memanasiku, tapi mengapa aku jadi ingin Sekolah juga ya Mbak *maaf oot🙂

  3. cieee…yang akhirnya bisa refreshing!😀

    Pasarnya bisa macet juga yah. Dan itu, kok bisa tanpa belanja apa2 mbak? Apa karena saking banyaknya barang yang ditawarin yak sampe akhirnya bingung mo beli yang mana😀

    • karena banyak banget boat yang lalu lalang..
      berhubung Thai sama dengan Ina, barangnya hampir serupa..

      ga lucu aja masa kita beli centong nasi dr kayu atau mainan suling bambu di Thailand sih?🙂

  4. waaahh orang asli thai aja bisa kena tipu gitu yak¿ apakabar kita yg orang asing¿ hmmm.. berarti harus berhati hati kalau jalan ke thailand ya mbak.. *noted

  5. ehhhm apa ini hasil wawancara yg kemari itu bu?
    waahh, hebat hebat… (sok tauuu..hihih))
    1 bath berapa rupiah ya??😀

    pas cuma lihat gambarnya, aku pikir tadi itu orang beneran lho lagi pada boxing, ternyata patuuung…😀

      • hahaha,, lagi ikut proyek yg di tonjong itu bu.. qkqkqk (ga ding),,
        biasa lah, lagi ngumpulin energi buat semngat ngeblog lagi. Rumah baca msh belum beres, karena lagi pada sibuk menjelang akhir semester (maklum pengurus kebanyakan guru2.. :D)

        Beeuuuhh, itu tonjong makin paraah buu..
        diprediksi lebaran juga bakalan blum kelaar…
        kasihan ntar para pemudik😦

  6. Huuaaaa…indahnya taman itu, tapi sambi nulis komen ini saa ngebayangin gimana leganya duduk berlima di jok belakang ranger…hihihi…bener-bener luar biasa, dan ternyata memang bisa ya Hilsya, biarpun pasti rada-rada tersikasa…😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s