Kuliner Minang : gulai itik

Di hari ulang tahun saya beberapa hari lalu, saya mendapat hadiah spesial. Bangun jam 03.00 untuk bersegera mandi dan sarapan lalu bergegas pergi ke bandara. Hari itu saya harus naik pesawat paling pagi ke Padang. Kami akan langsung melanjutkan perjalanan ke kecamatan Palupuh, kabupaten Agam untuk pekerjaan kantor. Waktu yang akan ditempuh kurang lebih sekitar 3 jam dari Padang.

Selepas menyelesaikan pekerjaan, kami segera kembali ke Padang sambil mencari tempat untuk sebuah makan siang yang lagi-lagi terlambat. Hampir setiap tahun pergi ke Bukittinggi tak membuat kami hapal tempat-tempat yang wajib disinggahi maupun tempat untuk berwisata kuliner. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang selalu menyempatkan diri berputar-putar sejenak menikmati panorama Bukittinggi, kali ini kami benar-benar kelelahan dan to the point.

Bagi saya, hal yang paling menarik ketika berada di bumi Minang adalah wisata kuliner yang sudah terkenal ke pelosok nusantara. Meski tak menyukai makanan pedas, namun nasi bungkus Padang ini kerap mewarnai makan siang saya sehari-hari. Walaupun sedianya saya sering dipandang aneh oleh sang pegawai warung, karena selalu memesan nasi dengan lauk tanpa kuah dan sambal. Hehe, apa pula itu?

Sopir innova yang kami sewa membawa kami menikmati gulai itik di lembah binuang. Saya sempat tertawa sendiri karena merasa deja vu dengan tempat itu. Saya pernah 3 kali berada di lembah itu tanpa pernah sadar tentang keberadaan sang itik yang lezat tiada tara. Sama halnya merasa konyol seperti tahun lalu yang bolak-balik melewati lokasi yang sama hanya untuk mencari Fort de Kock *tergila-gila benteng mode ON*.

Karena itu kami langsung mengiyakan ketika diajak berburu gulai itik lado mudo yang sudah terkenal itu. Sempat mencicipi beberapa tahun lalu saat berada dalam status take away, dan kapok dengan rasa pedasnya kali ini saya memilih waspada. Di sebuah warung sederhana di tepi jalan menuju ngarai yang indah kami sedikt ragu namun pasrah oleh pesona daging olah bumbu cabai hijau.

Tanpa banyak kata sang pemilik segera menyajikan berbagai olahan gulai itik, ayam bumbu hijau, cancang daging, dan acar timun yang dihidangkan dalam porsi piringan kepada kami.

Maaf, kalau gambarnya kurang fokus.. sudah kadung kriuk kriuk perutnya. Dan inilah penampakan sang itik yang sudah teraniaya *hiperbola*

Sejujurnya saya ragu setengah mati untuk mencicipi itik yang sudah dilumuri bumbu cabai hijau itu. Imajinasi saya mengatakan hal-hal yang ajaib. Selain saya tidak terlalu suka daging unggas seperti bebek, itik, entog, angsa, burung atau bahkan hanya familiar dengan daging ayam, saya juga sudah terlanjur bersugesti dengan pedasnya cabai hijau apalagi jika diolah oleh orang Minang. Takut bau amis, anyir, daging yang alot, atau pedas yang terlalu membuat saya hanya mencicipi sedikit bumbu gulai dengan acar saja, haha.

Tapi rasa penasaran membuat saya berhasil mengalahkan rasa tidak ingin mencicipi. Saya harus mencobanya, walaupun hanya sesuwir. Dan ternyata sesuwir itu membuat saya ketagihan. Saya menambah nasi dan menggado daging berbalur bumbu cabai sampai titik darah penghabisan. Hebaat!

Rasanya enak. Dagingnya empuk dan bumbunya tidak terlalu pedas. Mantap!

Saya jadi jatuh cinta sama gulai itik ini. Tapi mendadak ingin pingsan ketika harus membayar, hihi… Sajian itik ini rupanya memang sedikit mahal. Kabarnya harga seekor daging itik bisa 4x lipat dari ayam. Dan akhirnya membuat saya jadi lupa menanyakan berapa harga seporsi gulai tadi. Tapi mungkin hitungan kasarnya sepotong olahan itik tadi dihargai sekitar Rp 25 atau 30ribuan plus nasi. Cukup sepadan dengan proses mengolah itik ini menjadi makanan yang lezat. Menurut pengalaman teman saya, biasanya setelah dipotong dan dicabuti bulunya, daging itik dibakar sebentar lalu diolah bersama bumbunya.

Setelah puas dengan sajian tadi pada waktu makan berikutnya di Padang kami berburu soto dan martabak mesir. Soto Garuda dan bofet Malabar menjadi pilihan kuliner di malam hari. Sejujurnya kami kembali ke tempat yang sama karena dua alasan, karena memang makanannya enak dan juga karena tidak tahu harus kemana lagi.

15 thoughts on “Kuliner Minang : gulai itik

  1. kangeeen makaaan ituuu… hhahahaa

    eh mama Hilsya, kemarin pas ke Thailand sempet lewat juga CRI looh.. kereen tempatnya. Naik kereta dari Hua Lampong, di stasiun apaa gitu.. tinggal jalan kaki. Jadi berangkat kesono??

  2. Hyaaah.. duh udah nulis malah ilang.

    kangeeen makan ituuuuhhh hahahaha..
    eh mama hilsya, kemarin saya lewat CRI looh pas ke Thailand.. naik kereta dari Hua Lampong ternyata deket sama stasiun apaa gitu. Mewah juga tempatnya.. jadi berangkat kesana nih?

  3. eh sama mbak.. aku juga kalau pesen nasi bungkus padang gak berkuah dan bersambal.. dan aku juga gak suka unggas selaen ayam.. jadi kayaknha aku gak mau nyoba deh..

  4. heuheuheuheue….ngiler..lagi lagi..bikin ngiler nieh gambar makanannya…
    lengkap lah reportasenya mulai jalan jalannya dan juga kulinernya..
    mbak kemana aja..jarang online neh…dan juga postingannya jarang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s