Wisata Sejarah Benteng Pendem Cilacap

Prolog : Minggu lalu saya punya waktu 5 hari di Cilacap termasuk pulang pergi. Waktu efisien hanya 3 hari. Tapi jangan harap bisa bebas  keluyuran buat jalan-jalan wong makan siang aja pernah jam 16.30 *curcol*. Beruntung di hari Jum’at kami punya waktu luang menjelang shalat Jum’at sampai jam 15.  Pada saat itulah, saya mengajak kabur tim untuk sedikit bereksplorasi.

======

Benteng Pendem Cilacap (BelandaKustbatterij op de Landtong te Cilacap), dibangun 1861, adalah benteng peninggalan Belanda di pesisir pantai Telukpenyu, Cilacap, Jawa Tengah. Bangunan ini merupakan bekas markas pertahanan tentara Hindia Belanda yang dibangun di area seluas 6,5 hektar secara bertahap selama 18 tahun, dari tahun 1861 – 1879. Benteng pendem sempat tertutup tanah pesisir pantai dan tidak terurus. Benteng ini kemudian ditemukan dan mulai digali pemerintah Cilacap tahun 1986 (sumber : wikipedia)

Benteng ini berada di kawasan lahan milik Pertamina, total luasnya 10,5 Ha. Lahan yang digunakan Pertamina sekitar 4 Ha. Secara umum, kawasan benteng yang telah dieksplorasi baru sekitar 60%. Untuk masuk ke dalam Benteng, pengunjung yang masuk ke kawasan wisata Teluk Penyu harus membayar tiket 4000 per orang, sedangkan tiket kendaraan  sebesar 5000. Dengan mengikuti petunjuk arah, belok ke kanan sekitar 200 m kita bisa menemukan Benteng yang dimaksud. Letaknya di sisi kanan jalan dari arah belokan tadi *bingung kan nulis apaan sih?*. Tenang saja, mudah kok mencarinya karena sisi sebelahnya adalah laut selatan.

Di pintu masuk pengunjung dikenai HTM sebesar 4000 rupiah per orang. Kami setuju ditemani pemandu, karena memang lebih nyaman dan jelas. Saya mengemban ‘tugas negara’ untuk membuat catatan perjalanan yang berguna bagi nusa dan bangsa *hiperbola*. Bukan sekedar jalan-jalan atau mojok seperti abg yang ditemui di sana.

Masuk ke dalam Benteng kami dipandu melewati lingkaran parit. Konon pada jaman dahulu lebar parit sekitar 18 m dengan kedalaman 3 m. Saat ini lebar paritnya hanya 5 m dengan kedalaman 1-2 m. Fungsi parit yang utama adalah melindungi benteng, menghambat laju musuh, patroli keliling menggunakan perahu kecil, dan tempat pembuangan air dari terowongan. Pada saat melewati parit inilah, tiba-tiba saya diserbu perasaan dingin dan bulu kuduk langsung berdiri *masih tahap berkenalan rupanya*.

Kami berkeliling menuju barak yang dibangun pada tahun 1877 dan terdiri dari 14 ruang. Tiap ruang bisa menampung sekitar 30 prajurit. Dua ruang terakhir yang lebih luas digunakan sebagai ruang untuk para komandan.

 

view diambil dari sisi berbeda foto pertama ruang barak prajurit, foto kedua dari ruang barak komandan

Bangunan awalnya berupa susunan bata merah. Lantainya saat ini sudah disemen dan tanpa pintu. Hm.. apakah orang Belanda lupa bikin pintu ya?

 bukan rahasia lagi, kalau besinya dilepas dan dijual oleh orang yang tak bertanggungjawab

Menyusur masuk di sisi kiri terdapat klinik yang dibangun tahun 1879 oleh Belanda dan difungsikan juga oleh tentara Jepang saat menduduki Indonesia. Bangunan ini terdiri dari ruang tindakan dan perawatan pasien.

Setelah itu kami menuju ruang akomodasi yang berupa tempat penyimpanan arsip, di ujung bangunan sebelah kiri (posisi pengunjung menghadap bangunan) terdapat ruang komandan.

Di sebelah kanan terdapat ruang penjara I seluas 6 m2 yang dibangun pada 1869. Difungsikan sebagai tempat penahanan pertama atau ruang interogasi. Di dalamnya terdapat lingkar besi yang menempel dinding. Gunanya untuk memborgol tahanan dengan posisi tangan terbentang, atau bahkan lebih ekstrim lagi dengan kaki terbentang pula. Menurut sang pemandu, beberapa bulan lalu di tempat ini dan di ruang penjara lainnya digunakan sebagai tempat syuting uji nyali. Saya sih sudah tidak merinding lagi, tapi rasanya ogah juga kalau ditinggal di situ sendirian.

tampak depan ruang penjara

jendela besinya masih “aman”

tempat memberikan makanan pada tahanan

Kemudian kami menuju pintu gerbang utama yang dahulunya langsung menghadap laut. Merupakan sebuah ruang pertahanan terbuka yang saat ini berbatasan langsung dengan gedung milik Pertamina. Pintu gerbang asli hanya sebatas tembok pertahanan saja. Simbol meriam yang menjulang merupakan kenang-kenangan dari tentara marinir Indonesia setelah melakukan latihan perang.

Di pintu gerbang terdapat benteng pengintai musuh. Lubang-lubang kecil berfungsi untuk menyimpan senjata, sedangkan yang agak besar untuk menyimpan amunisi.

 

tampak sisi kanan dan kiri dari benteng pengintai

Menyusur jalan setapak ke sebelah kiri dari pintu gerbang utama, terdapat terowongan sepanjang 50 m yang dibangun tahun 1869. Fungsinya sebagai tempat pengiriman senjata dan penyelamatan tentara Belanda melalui bawah tanah menuju laut. Lubang sniper dibangun pada tahun 1873. Di dalam terowongan terdapat ruang penjara untuk mengeksekusi tahanan dengan menggunakan senjata laras pendek. Ruang tersebut berukuran 1,5 x 2,5 m. Sayangnya karena tidak membawa senter kami tidak bisa menyusuri terowongan.

 menuju terowongan, lubang bulat itu kabarnya sebagai lubang sniper

masuk nggak ya? kemarin sempat jadi tempat uji nyali juga

Melipir lagi ke arah kiri terdapat sebuah sumur air tawar sedalam 3 m yang dipakai untuk kebutuhan tentara sehari-hari.

Setelah itu kami melewati bangunan berupa ruang penjara yang dibangun pada tahun 1861. Ruang penjara ini dilengkapi sistim pendingin dengan cara direndam. Dalam satu rangkaian bangunan ini terdiri dari 3 ruang penjara dan satu ruang senjata. Tiap ruang penjara dibagi menjadi 3 blok sel yang berkapasitas 20 orang.

Di ruang senjata inilah yang merupakan cikal bakal penemuan Benteng. Sekitar 7 m tinggi bangunan yang tertimbun tanah.

Naik ke gundukan atas terdapat benteng yang dibangun tentara Jepang pada tahun 1942. Tempat ini merupakan bunker tempat perlindungan tentara. Di dalamnya ada 7 ruang. Yang terlihat dari atas adalah sebuah lubang besi yang berfungsi sebagai tempat ventilasi, terletak tegak lurus sekitar 3 m ke bawah tanah.

 

Dengan adanya benteng yang dibangun oleh tentara Belanda dan Jepang di satu lokasi, dapat dilihat perbedaan utamanya. Benteng Belanda umumnya terdiri dari komponen berupa bata merah, pasir laut, kapur dari kerang laut, tumbukan bata halus, besi, dan tidak memakai semen. Sementara bangunan benteng Jepang menggunakan komponen pasir laut, kapur, batu split, besi, dan semen.

Setelah itu kami berada di tempat yang merupakan benteng pertahanan terakhir. Bagian belakang ini berbatasan langsung menghadap kilang minyak milik Pertamina. Di bangunan ini terdapat 12 ruang penembakan/ruang jaga yang masing-masing diisi 2 orang tentara.

 

Dan disinilah akhir perjalanan kami mengelilingi kompleks benteng. Masih ada beberapa tempat yang sedikit dilewati yaitu bangunan-bangunan peninggalan Jepang dan makam tua di bawah pohon trembesi. Makam tersebut konon adalah milik Sekar Wulung dan Ibu Nyai Sekar Jagad yang merupakan tokoh penyebar agama Islam bercampur Kejawen.

Sebenarnya saya masih semangat untuk bertanya ini itu pada bapak pemandu atau bahkan sekaligus menyebrang ke  Nusakambangan, namun dua orang teman saya sudah menunjukkan muka ingin buru-buru hengkang. Impian ke Nusakambangan itupun agaknya harus dilupakan mengingat kami harus segera kembali mengambil peralatan di lapangan. Padahal menyebrang ke sana hanya membutuhkan waktu 15 menit dan membayar 15 ribu PP per orang. Selain masih ada benteng lainnya, di sebelah barat pulau itu terdapat pantai pasir putih yang indah.

====

Bagaimana? Apakah bisa menambah wawasan baru? Semoga bermanfaat ya..

Dan tak lupa saya ucapkan terimakasih banyak atas segala informasinya pada bapak pemandu kami yang berasal dari Dinas Purbakala Jateng. Silakan dikoreksi jika ada kesalahan penulisan atau apapun. Semoga ke depannya keberadaan Benteng ini bisa membuat berbagai lapisan masyarakat menunjukkan minatnya terhadap wisata sejarah bangsa

Ehm, sebenarnya postingan ini akan diikutsertakan pada acara giveaway di Kisahku. Tapi rupanya saya salah melihat tanggal🙂

32 thoughts on “Wisata Sejarah Benteng Pendem Cilacap

    • males nulisnya mba… abis kadung capek banget

      tapi kalo serius sih sejam jadi.. yg jelas ini postingan paling serius berikut gambar yg cukup banyak (tanpa diedit macem2) yg pernah aku buat…

  1. Seperti biasa mama Hilsya selalu asyik menyajikan tulisannya.
    Pemandangannya hijau banget, foto yg ada parit perlindungan itu bagus dan rapi sekali.

    Sayang telat ya mbak, tapi kurasa misi mengemban tugas negara ini sudah berhasil mbak,
    aku baru tau benteng ini diekskavasi belum lama.
    Terima kasih banyak niat baiknya mbak

    • demi mba monda, aku serius nulis catatan dari pemandu.. sampe temen2 sebel, saking kelamaan hihi.. dan capek pula ngiternya

      tapi makin lama makin mengasyikkan juga, meski banyak yg harus dikonfirm sana-sini dan itu hanya sedikit sumbernya.
      moga2 mereka lebih bisa menyajikan info aktual yg bisa diakses banyak orang…*malu ama negara tetangga*

  2. woww.. jalanannya masih terlihat kokoh ya bu.. meski ada beberapa paving yang terlepas. saya belum pernah (sama sekali) ke cilacap, dulu pernah mau diajak temen tapi urung😀
    ini tulisannya lengkap dan detail😀
    salam

    • jalanan yg mana Ri?
      kalo paving block emang semua baru dibangun pas ditemukan.. yg asli adalah bangunan dinding (masih bata merah asli dari tahun 1861 sekian), lantainya sudah diganti semen

  3. Sayang ya mbak telat diacara Bun Monnya🙂
    Tapi tetap menambah wawasan banget lho Mbak, asli aku sangat menikmatinya…
    *itu fotonya keren2 banget mbak, bikin ngiler belajar fotografi, heheee…

  4. oot nih mbaaaa…
    lagi nonton Wild romance *karena hasutanmu!!!!!*
    baru nyampe episod 6 dan lagi nunggu nunggu kissing scene nya…hihihi…

    Sukaaaaa banget sama si manager Kim yang mukanya dingin dan tanpa ekspresi ituh…sangat cocok ama temen sekamar nya *lupa namanya* yang jenius tapi culun ituh…hihihi…

    kalo belakangan eykeh jadi jarang bw dan posting…
    Semua kesalahan aku limpahkan pada mba Hilsya yah!!!!

    • huehue… kissing scene-nya garing ah.. jd drama ini masih aman dilihat bocil kec < 15th
      emang bumbu penyedapnya Kim sijang ama dong ah yg lucu. kang dong ho itu main di twinkle twinkle aka sparkling kalo ga salah lagi tayang di indosiar
      btw emang doi punya temen sekamar?

      aiiih, mentang2 ye… td juga di KBS masih tayang ulang, dan eike masih nonton (lagi) juga… hihihihi

  5. Alhamdulilah saya juga pernah ke benteng pendem tahun 2003 waktu perpisahan sekolah rombongan MA YPK Cijulang Kabupaten Pangandaran. Pokonya benteng pendem asik dan bagus buat pelajaran adik-adik sekolah. Pokonya zziiiiiippppp lah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s