Pergi pulang

I’m home.

Ya, tepat hari Sabtu jam 20.15 akhirnya saya tiba dengan selamat di depan komplek perumahan. Alhamdulillah. Sambil menunggu bongkar muat barang yang beranak pinak, saya mencoba mengingat kembali banyak hal yang terjadi sepanjang perjalanan. Pergi dan pulang, dari Tangerang ke Cilacap.

Kita mulai dari keberangkatan. Saat badan masih segar bugar, ransum masih banyak, baju masih bersih, lumpsum belum diberikan *ups..hihi*

Setelah mengecek kembali perbekalan dan peralatan perang yang harus dibawa, kami berangkat dari kantor pukul 9.00 pagi. Laju kendaraan di tol Pondok Aren sangat tersendat. Padat merayap. Mungkin terlalu banyak orang yang punya kendaraan di Jabotabek ini. Jam 11.00 kami masih mengantri di jalan tol Cikampek. Hm, sabaaar..

Melewati tol Cipularang perjalanan bisa dibilang cukup lancar. Kami menuju pintu keluar terakhir dan melewati Sumedang. Terus menyusuri sampai akhirnya kami memutuskan untuk ishoma di daerah Nagrek jam 13.00. Tidak ada kemacetan berarti. Hanya saja kami dikagetkan dengan total jumlah rupiah makan siang bertiga untuk menu makan sederhana. Benar-benar seperti ditodong. Tapi ya namanya sudah masuk mulut ya mau tidak mau harus dibayar.

Lepas dari Nagrek, kami menyusuri jalan berkelok-kelok menuju Tasikmalaya-Ciamis-Banjar tanpa singgah. Semua dilaju kencang tetapi akhirnya mobil harus sedikit perlahan karena tiba-tiba hujan turun sangat deras sampai pandangan cukup terganggu. Jam 17.00 kami tiba di perbatasan propinsi dan terasa sedikit lebih senang karena merasa setidaknya perjalanan ini sudah cukup dekat.

Saat kumandang adzan Maghrib, kami tiba di perempatan Wangon lalu memilih belok kanan untuk mencapai kota Cilacap. Laju kendaraan agak tersendat karena banyak jalan berlubang cukup dalam. Sekitar sejam kemudian kami sudah melihat pabrik semen Holcim, dan merasa surprised dengan perkembangan kota Cilacap.

Tugas kami selanjutnya adalah mencari hotel yang telah ditentukan. Kami mengikuti petunjuk arah dan bolak-balik bertanya di tiap persimpangan. Akhirnya kami bisa menemukan hotel Wijayakusuma di Jalan A.Yani. Senangnyaa….

Tetapi sebelum masuk hotel, kami memutuskan untuk makan malam dengan menu seketemunya. Pilihan jatuh pada warung soto sokaraja sederhana di pinggir jalan. Saat turun dari mobil, mendadak semua penumpang seperti merasakan gempa lokal dan nyaris limbung. Berasa melayang. Mungkin komplikasi antara perjalanan jauh, kurang makan, dan guncangan mobil yang cukup keras.

Jam 20.00 kami sampai di hotel. Akhirnya 11 jam perjalanan telah berhasil kami lewati tanpa rintangan. Tanpa harus didoping obat anti mabok. Selamat! Satu rintangan via jalur selatan sudah dilewati.

Kemudian dalam perjalanan pulang, kami memilih jalur utara. Jujur, saya sih tidak peduli mau melewati jalur mana, yang penting sampai tujuan dengan selamat. Tapi perjalanan ini adalah suatu hal yang baru. Masih ingat kan kalau saya jarang sekali jalan-jalan apalagi jika rutenya cukup jauh?

Berangkat dari hotel juga pukul 9.00 waktu Cilacap. Saat badan sudah lelah dan mulai terasa tidak nyaman karena kebanyakan telat makan. Bedanya uang saku sudah disebar. Ini yang membuat anggota tim bisa sedikit tersenyum meski badan sudah remuk redam.

Perjalanan menuju Wangon sekitar satu jam, lalu kami memilih lurus ke arah utara menuju Ajibarang-Bumiayu-Prupuk. Sempat terpikir ingin singgah di waduk Penjalin di sisi kiri jalan atau ke perkebunan teh Kaligoa di sisi kanan (teringat cerita Mabruri), tetapi badan rasanya sudah tak bisa diajak kompromi. Kami tiba jam 12.00 di desa Karangjongkeng setelah melewati kemacetan yang cukup panjang. Mau tahu alasannya apa?

Simpel, jawabannya adalah telor asin.

OMG… Rupanya para teman lelaki satu tim dengan kalapnya memesan telor asin pada sang driver yang asli Karangjongkeng. Tidak tanggung-tanggung, masing-masing 50 butir dikali 7 orang. Belum lagi aneka cemilan kripik tempe dan rempeyek kacang sebanyak 10 bungkus. Gilee… ngalahin emak-emak!

Kami bersegera melajukan mobil menuju arah Cirebon menyusuri jalan di pinggir sungai. Sambil melihat-lihat kira-kira warung makan mana yang bisa disinggahi. Tadinya kami bersikeras tidak ingin makan sate, gule, tongseng yang berbau-bau kambing. Namun ternyata daerah sepanjang perjalanan adalah surga bagi pecinta daging kambing. Nasib! Tapi akhirnya saya makan juga sate kambing, hanya 4 tusuk. Empuk ternyata.

Jam 15.00 kami mulai memasuki jalan tol milik perusahaan Bakrie yang tiketnya cukup mahal. Jalanan lengang, sepi dan luas membuat saya sedikit memaksa supir untuk mengebut, di atas 100 km/jam. Alasannya hanya satu, ingin segera sampai.  Melewati pintu keluar tol Kanci, kami lurus terus menuju Jakarta. Saya tidak terlalu memperhatikan suasana sepanjang jalan, karena akhirnya berhasil tertidur selama sejam meski leher terasa tegang. Tahu-tahu jam 16.30 kami sudah sampai di Losarang dan dilanda kemacetan cukup padat mulai dari Patokbeusi. Alasannya klise, jalanan rusak dan sedang diperbaiki.

Maghrib tadi kami sudah berasa di Cikampek menuju pintu tol. Laju kendaraan dari arah barat sangat padat. Tol Cikampek dan Jakarta tidak terlalu mengalami kemacetan berarti karena 2 jam kemudian kami sudah keluar dari pintu tol Serpong Tangerang.

Jadi kesimpulannya jalan rute jalur selatan jauh lebih bagus dibanding rute jalur utara. Meski berkelok-kelok, tapi penumpang bisa lebih nyaman karena tak harus merasakan begajlukan (apa bahasa Indonesianya ya?) seperti naik kuda. Duh, tak terbayang rasanya kalau setiap hari saya harus merasakan kehidupan di jalan raya. Pasti sangat melelahkan. Sakit badan sih mungkin tidak terlalu. Tapi kebayang dong, terus menerus bersendawa karena masuk angin, bokong seperti sudah rata dengan jok dan belum lagi posisi badan yang serba terbatas. Pasti begitu turun dari mobil langsung terasa seperti mengalami gempa bumi. Oleng karena sama-sama 11 jam perjalanan juga!

Eh, tapi tetep lho.. nggak pake acara mabok🙂

22 thoughts on “Pergi pulang

  1. gak ngebanyangin gimana supir dan kenek bis antar propinsi jalur utara ya mbak..

    eh btw lumpsum dr aturan kemenkeu thn ini kecil bgt ya mbak *curcol* *kabur sebelum malu*

  2. Wah… aku ngebayanginnya aja udah capek mbak.. hahaha
    Kalau jalanan yg rusak emang bikin capek yg naik kendaraan…
    Alhamdulillah ya, mbak sampai kembali ke rumah dengan selamat dan tanpa mabuk🙂

  3. hohohoho,, ini dia oleh2nya..
    sampai skarang tuh bu, masih blum teratari di ciregol. untuk kendaraan kecil sih bisa dialihkan ke jalur alternatif, masuk desa karangjongkeng.
    Memang ampppunnn banget dah jalur pantura itu. Tegal – Purwokerto, mnding naik kuda beneran sekalian..
    Alhamdulillah ya bu, ahirnya sudah merasaka lwat bumiayu, ya sperti itulah jalurnya kalau mau ke kebon te kaligua ataupun waduk penjalin..😀

    Cerita ttg macetnya ciregol rencananya akan tayang sore ini di blog saya..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s