Pagi sepi di dunia maya

Baru sadar, ini adalah hari terakhir di bulan Februari. Tanggal 29 pula, dimana kita tidak setiap tahun bisa menikmati tanggal 29. Spesial. Tahun kabisat.

Ada apa gitu?

Nggak ada apa-apa kok. Hanya saja tiba-tiba saya merasa melankolis sendiri di pagi ini. Anak-anak sudah pergi ke sekolah. Tivi menyala dengan suara cukup kencang. Suara burung berkicau juga ikut meramaikan suasana tapi tetap saja saya merasa kesepian.

Menyempatkan diri untuk sedikit berjalan-jalan di blog teman yang sudah mampir kesini atau menyapa teman-teman yang lama tidak pernah saling berkunjung. Sedikit berkomentar jika bisa menulis di kolom, atau dilewat jika fasilitasnya tidak tersedia.

Entah kenapa seperti ada rasa akan kehilangan.

Keinginan untuk ke Surabaya sowan sama Pakdhe juga harus dilupakan, mengingat tahun ini saya tidak bisa leluasa kemana-mana. Paling banter hanya sampai Padang dan Makassar. Saya ingin bertemu muka dengan beliau yang sudah mengirimkan banyak tali asih untuk kami. Di samping mengajak kabur Gaphe untuk beravonturir, hihi..

Ingin juga ke Palembang menyambangi ibu dokter Keke dan Allisa, si ibu muda yang cantik yang kerap menghibur saya. Yang ini juga harus dilupakan.

Bertemu blogger Bandung, ibu Dey, Nchie, Erry, dan gerombolan lain juga harus dilupakan jauh-jauh lagi. Padahal kemarin sudah sampai Pasteur. Apa daya hanya dijatah satu hari saja.

Jangankan yang jauh-jauh di luar kota. Bertemu muka dengan Lidya, Orin, Rina, atau Mama Ina yang biasa main ke sini juga belum tercapai. Padahal jaraknya juga tidak terlalu jauh.

Atau sowan bertemu bunda Lily dan mba Irma tersayang, yang selalu berbagi inspirasi tapi saat ini jarang sekali saya singgahi. Duh, maafkan saya.. Bunda, Mba Irma. Kangen dengan tulisan-tulisannya…

Atau bahkan melupakan keinginan kelayapan ke Derawan dan Raja Ampat yang sudah dijadwal sejak tahun lalu. Mau memaksakan diri tapi nggak tega dengan lembaran rupiah dan kondisi tubuh. Masih harus mengikuti skala prioritas.

So sorry, I’m depressed..