One day trip

Dua hari berturut-turut di minggu kemarin dengan *sok* gagah perkasa, saya ikutan one day trip. Pulang pergi dalam satu hari. Kalau untuk orang lain artinya hal ini biasa saja dan perkara lumrah tapi sedikit terlihat rada sakti memang buat saya si pemilik badan ceking satu ini.

Tenaang, ini bukan perkara hura-hura tapi tugas negara *aiiih*

Tenang juga, bukan beda negara atau beda pulau. Cuma lintas kabupaten aja! Tepatnya melewati tiga propinsi dengan jalan darat pula.

Iya, cuma pergi ke Bandung kok! Nggak jauh pula, hanya sampai Pasteur. Beuh.. dikira kemana gitu ya?

Tapi nyesek rasanya kalau ke Bandung nggak bisa jalan-jalan, belanja, dan icip-icip kuliner *haha.. mulai deh!* Ini nih, gara-gara si nihon jin baru pertama kali ke Indonesia, beliau-beliau nggak percaya kalau Bandung itu kota yang asyik. Maunya keukeuh mereka stay tuned di Jakarta aja. Jakarta Bandung cukup pp aja katanya.

Waduh, saya kurang beruntung judulnya..

Apa jangan-jangan mereka nyangka nggak ada hotel bintang tujuh selain di Jakarta?

Sedih rasanya, kalau sebagian orang asing menyangka Indonesia tuh masih sepi-sepi aja. Seperti di pedalaman.

Baiklah, ini sebenarnya ngebahas apaan sih? Nggak jelas juga..

Tapi akhirnya kami berhasil pula ‘memaksa’ orang Jepang untuk berkuliner ria menikmati aneka sajian masakan Sunda di daerah Pasteur. Nggak berani jauh-jauh, macetnya mana tahan. Padahal saya pengennya sih ke Kampung Daun, belum pernah soalnya.

Seru melihat mereka cukup lahap menikmati sajian ikan gurame melambai nan garing, ayam sambal hijau, bahkan bolak-balik bilang oishii desu untuk semangkuk sop buntut. Tak lupa pula saya hasut untuk mencicipi karedok tanpa cabai, tumis kangkung, dan tumis genjer. Nihon jin muda itu malah bolak-balik ngegado tumis kangkung, hehe.. Enak katanya!

Tadinya saya pengen banget mengajak mereka jalan-jalan menikmati aneka jajanan Bandung yang selalu menggugah selera. Tapi akhirnya hanya berakhir dengan sekantong oleh-oleh yang dikemas seadanya  dengan isi keripik kentang, keripik tempe, keripik sukun, bagelen, manisan pala, manisan kelapa, dan tak lupa satu boks bolen untuk ngemil di mobil.  Semua itu sebagai ganti rice crackers khas Niigata yang diberikan sebagai omiyage dengan kemasan bagus *sampai sayang buang bungkusnya*.

Oh iya, saya lupa orang Jepang biasanya nggak terlalu suka yang manis-manis. Saya juga lupa, mengapa kami tidak membelikan aneka buah-buahan yang sedang melimpah saat ini. Duku, rambutan, manggis, atau durian. Buah-buahan yang relatif jarang ditemui di negara mereka. Kalau ada pun di sana pasti harganya ajaib.

Yo wis, namanya lupa. Mau gimana?

Pengalaman one day trip berturut-turut membuat saya bersyukur karena tidak harus mengalami hal ini setiap hari. Badan lelah? Pastinya.  Belum lagi total perjalanan pulang pergi sekitar 13 jam membuat bokong terasa panas dan pegal-pegal. Padahal saya hanya tinggal duduk manis di dalam mobil ber AC menikmati kemacetan kota Bandung yang luar biasa. Tanpa disuruh menyetir pula *eh, emang bisa?*

Tapi masih ada yang ngeganjal juga nih. Nggak sempat berburu kuliner, nggak sempat beli kopi Aroma, nggak sempat leluasa ngubek-ngubek Pasar Baru. Nggak sempat ini itu..

Lain kali ke Bandung lagi ah, balas dendam.. hihi