Perkara berkendara

Saya orangnya biasa saja. Jarang punya kisah lucu, aneh-aneh atau hobi berlaku konyol dan sotoy. Tapi jika dalam lingkungan kerja sih sering juga bergabung dalam situasi yang penuh tawa. Saya tidak pantang ditertawakan. Tepatnya mereka boleh menertawakan polah  saya yang kadang juga suka ajaib.

Ada beberapa kisah yang berkaitan dengan berkendara, tepatnya membonceng.

Prolognya dulu ya..

Rapor mengemudi saya termasuk di bawah rata-rata. Dari mulai mobil, motor, bahkan sepeda. Tapi dulu waktu jaman masih kuliah dan semangat ingin bisa menyetir, kursus menyetir mobil bisa dilalui dengan sukses. Pembalap euy! Hanya masalahnya karena setelah itu (eh sampai sekarang deng!) belum punya mobil sendiri, grogi akhirnya menghampiri. Terbukti ketika mencoba mobil milik om, saya nyaris beradu dengan tembok rumah orang. Dan sejak saat itu saya jadi ngeper jika harus memegang kemudi.

Kita mulai dari sepeda?

Kalau ini sih lumayan. Sebenarnya saya bisa naik sepeda, tapi suka grogi jika ada mobil atau motor lewat. Paling nekat sewaktu saya naik sepeda keliling komplek penelitian di Klong Luang dengan perut gendut (hamil si kecil 5 bulan). Sampai-sampai course leader saya bilang, “ah, you.. what a naughty pregnant woman!”

Pengalaman yang memalukan dengan naik sepeda adalah perjalanan dari training center Osaka ke Osaka garden. Di Jepang semua orang hobi bersepeda ria, jalan kaki, atau naik kereta.  Nah, saat berangkat melalui jalan menurun sih masih oke, tapi pulangnya…hmm nanjak. Tadinya saya mencoba bertahan, tapi lama-lama tidak kuat karena fisik yang sangat tidak prima karena jarang olahraga. Jadilah saya dengan pedenya menuntun sepeda setengah perjalanan on the way back home. Tidak tahunya saya diamati dengan seksama oleh ibu-ibu tua Jepang yang dengan gagah perkasa mengayun sepeda melewati tanjakan sambil menahan tawa. Haha..

Ah, maluuu banget!

Tentang motor. Hmm, kalo alat transportasi satu ini saya nyerah. Posisi membonceng saya sampai sekarangpun masih sangat kaku. Bawaannya seperti hendak memeluk tukang ojek (lebay). Atau tangan saya pasti dalam pose memegang jok belakang. Saya sudah sering diledek atau dihasut untuk belajar naik motor sendiri tapi tetap tak bergeming. Nggak ah, mending jalan kaki aja!

Gara-gara motor ini saya punya pengalaman memalukan plus menggelikan. Lucu-lucu konyol gitu. Judulnya ditinggal di pinggir jalan oleh si ayah.

Ceritanya…

Pada suatu sore di bulan puasa tahun 2007. Ketika kami pulang kantor melewati sebuah jalan tikus. Waktu itu saya turun dari motor karena takut melihat jalan tanah yang curam, licin, dan becek. Ngeri, karena sebelumnya kami pernah nyaris jatuh berdua di tempat yang sama. Padahal perasaan saya sudah bilang kalau saya akan turun. Tapi tiba-tiba ketika saya sedang berhati-hati melangkah melewati genangan air, wussss… si ayah langsung santai saja melarikan motornya tanpa ngeh jika saya belum naik ke motor. OMG, whaaat?? Saya sampai speechless. Saya teriak-teriak memanggilnya, tetapi dia melaju terus.  Waduh, bagaimana pula ini? Di daerah itu kan tidak ada angkutan umum. Pun tiba-tiba, ketika muncul seorang pengemudi motor yang diduga tukang ojek bukannya menawarkan tumpangan, malah senyum-senyum sambil berkata pada saya : “duh si Eneng, kasihan amat ya.. ditinggalin”. Lengkap dengan logat betawinya pula. Aaarrggh… Antara keki, geli, malu, dan sebal. Campur aduk.

Lalu bagaimana cara pulangnya dong? Masa jalan kaki? Lumayan soalnya, sekitar 1 km.

Tapi untunglah saya tertolong, karena tiba-tiba muncul teman sekantor yang berhasil saya rayu untuk mengantar sampai jalan utama. Saya selamat dari acara hiking sore-sore menjelang buka puasa.

Akhirnya saya naik angkot menuju rumah sambil membawa-bawa helm. Dalam hati saya merasa emosi banget. Karena gengsi, saya tidak mau memberi kabar. Biar saja, saya ingin tahu kapan dia sadar kalau saya ketinggalan. Eh tidak tahunya, sampai saya turun di pintu gerbang komplek pun, hape tetap membisu. Aaargghh (lagi). Sebel.. sebel.. sebel!

Begitu sampai rumah, saya tidak bisa bicara apa-apa. Kesal tapi ingin tertawa. Ngambek. Dan parahnya lagi, si ayah nggak sadar kalau dia melaju sendiri. Dengan polosnya dia bilang, ” Lha, kamu dimana? Pantas aja tadi saya ajak ngomong mau beli makanan untuk buka di depan komplek nggak? Nggak ada jawaban”.

“Emang, siapa yang mau jawab?? Orang gue ketinggalan di gerbang belakang!”, jawab saya sewot tapi tetap tidak bisa menahan tawa.

Lalu lepaslah gelak tawa kami. Tapi teteeuup sih saya dongkol.

NB : kisah para istri yang ditinggal suami begitu saja di pinggir jalan ini ternyata tidak hanya menimpa saya. Ada seorang teman yang ‘lupa’ meninggalkan istrinya di pom bensin, sementara dia asyik melaju pulang ke rumah. Ada juga ibunya teman saya yang berukuran big size, turun dari tanjakan karena motornya ga kuat. Lewat dari tanjakan, ditinggal oleh suaminya melaju sampai kantor.

****

Mama Hilsya berpartisipasi dalam ‘Saweran Kecebong 3 Warna’ yang didalangi olehJeng SoesJeng DewiJeng Nia”. Disponsori oleh : “Jeng AnggieDesa BonekaKios108